Robot Antar Makanan Tinggalkan Kampus, Fokus ke Kota

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi robot pengantar makanan Starship meninggalkan kampus universitas
  • Starship Technologies menghentikan operasi robot di lebih dari 60 kampus universitas di AS
  • Lebih dari 1.200 robot akan ditarik dan dialihkan ke pengiriman bahan makanan dan restoran di perkotaan
  • Keputusan diambil karena potensi pasar pengiriman bahan makanan yang diproyeksikan tumbuh 10 kali lipat
  • Robot Starship mendapat tingkat kepuasan 97% dari mahasiswa, namun menghadapi resistensi di lingkungan kota
  • Tantangan utama di kota meliputi gangguan lalu lintas, kerusakan properti, dan larangan operasi di beberapa wilayah

JBNews.id — Starship Technologies, perusahaan robot pengantar makanan terkemuka, mengumumkan penghentian operasi di kampus universitas dan akan mengerahkan kembali lebih dari seribu robotnya. Langkah ini menandai perubahan strategi besar-besaran dari pasar mahasiswa ke pengiriman bahan makanan dan restoran di perkotaan.

Pengumuman yang dirilis awal bulan ini baru mulai berdampak setelah berbagai universitas mitra mengeluarkan pernyataan resmi. Komunikasi tersebut bagaikan obituari untuk kepergian selebritas, menggambarkan betapa program robot pengantar makanan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampus.

Keputusan ini diambil karena perusahaan melihat traksi yang lebih besar di sektor industri dan korporasi. “Kami melihat banyak traksi untuk robot pengiriman di berbagai industri termasuk industri, universitas, dan korporasi, tapi sudah waktunya bagi kami untuk fokus pada vertikal yang kami rasa akan memiliki nilai paling besar, baik untuk klien kami maupun untuk Starship,” ujar CEO Ahti Heinla dalam sebuah pernyataan.

Secara simbolis dan literal, penarikan ini merupakan langkah besar bagi Starship. Melayani mahasiswa adalah cara perusahaan membuat namanya dikenal di AS, ketika pertama kali meluncurkan robot pengantar burger di George Mason University pada 2019. Perusahaan kemudian bermitra dengan lebih dari 60 universitas lain, yang bertindak sebagai laboratorium yang lebih toleran untuk menguji robotnya dibandingkan kekacauan jalanan kota yang tidak terduga.

Pandemi COVID-19 juga menjadi berkah tak terduga bagi perusahaan. Selama masa tersebut, robot Starship mengirimkan hingga 400 pesanan per hari di University of Wisconsin-Madison, seperti yang diklaim oleh seorang administrator universitas. Mahasiswa yang kekurangan uang pun menyukai robot pengantar yang tidak banyak mengeluh ini — setidaknya menurut survei internal Starship. Sekitar 97 persen dari lebih dari 5.000 mahasiswa yang disurvei mengatakan mereka menyukai atau sangat menyukai robot tersebut. Perusahaan membanggakan ini sebagai salah satu tingkat persetujuan tertinggi untuk teknologi bertenaga AI.

“Kemitraan kampus kami telah menjadi fondasi bagi siapa kami,” kata juru bicara Starship kepada Journal & Courier. “Universitas adalah mesin inovasi, dan kami benar-benar berterima kasih mereka percaya pada visi kami sejak awal.”

Namun Starship kini memiliki ambisi yang lebih besar. Perusahaan memproyeksikan permintaan untuk robot pengiriman bahan makanan akan melonjak sepuluh kali lipat dalam dua tahun ke depan. Di Finlandia, robot mereka sudah menangani satu dari lima pengiriman bahan makanan. Starship berharap dapat meraih pangsa pasar serupa di seluruh Eropa dan AS. Secara total, mereka akan mengerahkan kembali lebih dari 1.200 robot dari kampus-kampus di seluruh AS.

Langkah Berisiko ke Pasar Kota

Keputusan ini jelas merupakan pertaruhan besar. Mahasiswa mungkin menyukai robot pengantar makanan, tetapi banyak penduduk kota tidak. Robot-robot tersebut seringkali bergerak kikuk di lingkungan perkotaan, seperti banteng di toko porselen. Banyak video yang menunjukkan mereka menyebabkan kekacauan dengan mengganggu lalu lintas, menghancurkan halte bus kaca, dan menghalangi pejalan kaki penyandang disabilitas. Beberapa robot bahkan pernah melukai manusia.

Sebuah distrik di Chicago bahkan telah melarang robot pengiriman beroperasi di wilayah tersebut. Hal ini menyoroti bahwa perusahaan memiliki pekerjaan rumah yang berat untuk memenangkan hati penduduk perkotaan. Tantangan regulasi dan penerimaan publik menjadi hambatan utama yang harus dihadapi Starship.

Perbandingan dengan kegagalan robot di sektor lain juga relevan. Kisah fiksi ilmiah dari robot keamanan Knightscope yang gagal total menjadi pengingat bahwa teknologi robotik di ruang publik masih menghadapi banyak kendala. Sementara itu, pengalaman Ford dengan AI yang gagal dan harus merekrut ulang engineer juga menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak selalu mulus.

Namun, Starship optimis dengan data yang mereka miliki. Pertumbuhan permintaan pengiriman bahan makanan secara daring, terutama pasca-pandemi, menjadi pendorong utama perubahan strategi ini. Jika berhasil, Starship bisa menjadi pemain dominan di pasar pengiriman perkotaan yang bernilai miliaran dolar.

Bagi mahasiswa yang kehilangan layanan ini, mereka harus kembali ke metode konvensional. Namun bagi Starship, ini adalah langkah maju yang diperlukan untuk mencapai skala bisnis yang lebih besar dan berkelanjutan.