Musim Kemarau Uji Keandalan Data Center Bisnis Digital

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi data center dengan sistem pendingin yang diuji saat musim kemarau 2026
  • Musim kemarau 2026 menguji keandalan data center penopang bisnis digital
  • Kenaikan suhu udara membebani sistem pendingin (cooling system) data center
  • COO LG Sinar Mas, Ariawan, menjelaskan pentingnya redundansi dan preventive maintenance
  • Data center harus terintegrasi dengan cloud, keamanan siber, dan disaster recovery
  • Sektor perbankan dan telekomunikasi memerlukan sertifikasi Tier Data Center dan ISO 22301
  • Gangguan data center berdampak pada transaksi pelanggan, operasional, dan kepercayaan perusahaan

JBNews.id — Musim kemarau 2026 menghadirkan tantangan baru bagi sektor infrastruktur digital. Kenaikan suhu udara tidak hanya berdampak pada pertanian dan energi, tetapi juga menguji keandalan data center yang menjadi tulang punggung layanan digital masyarakat, mulai dari transaksi perbankan hingga e-commerce.

Chief Operating Officer LG Sinar Mas (LGSM), Ariawan, mengungkapkan bahwa suhu lingkungan yang meningkat saat musim kemarau berpotensi membebani sistem pendingin (cooling system). Komponen ini merupakan salah satu elemen paling vital dalam operasional data center.

“Data center beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Karena itu, perubahan temperatur, kelembapan, maupun beban listrik harus diantisipasi sejak tahap desain hingga operasional sehari-hari,” ujar Ariawan kepada detikINET, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah kapasitas pendingin. Pengelola data center harus memastikan seluruh ekosistem pendukung, mulai dari sistem kelistrikan, pendinginan, monitoring, hingga sumber daya manusia, bekerja secara terintegrasi. Hal ini penting agar layanan digital pelanggan tetap berjalan stabil.

Ariawan menjelaskan, sistem pendingin menjadi fondasi utama dalam menjaga performa perangkat IT di dalam data center. Oleh karena itu, fasilitas harus dilengkapi kapasitas cadangan (redundancy), pemantauan performa secara real time, serta program preventive maintenance yang dilakukan tanpa mengganggu operasional pelanggan.

“Sistem pendingin harus dipandang sebagai bagian dari strategi menjaga uptime dan kualitas layanan digital, bukan sekadar fasilitas pendukung,” katanya.

Ilustrasi Bisnis Digital

Namun, menurut Ariawan, menjaga keberlangsungan layanan digital saat ini tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Ketahanan operasional harus dibangun sejak awal melalui desain fasilitas, manajemen risiko, prosedur operasional yang disiplin, hingga kesiapan tim menghadapi berbagai skenario gangguan.

Ia menilai perubahan ini terjadi seiring meningkatnya ketergantungan dunia usaha terhadap layanan digital. Jika beberapa tahun lalu data center hanya dipandang sebagai lokasi penyimpanan server, kini fungsinya telah berkembang menjadi infrastruktur strategis yang menopang aktivitas bisnis perusahaan.

“Ketika data center mengalami gangguan, dampaknya tidak lagi berhenti di sisi IT. Yang terdampak bisa berupa transaksi pelanggan, layanan aplikasi, operasional internal, hingga kepercayaan terhadap perusahaan,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pelanggan enterprise semakin selektif dalam memilih penyedia infrastruktur digital. Selain kapasitas, mereka kini mempertimbangkan aspek keandalan, keamanan, skalabilitas, konektivitas, efisiensi energi, hingga kemampuan mendukung teknologi baru seperti cloud computing, artificial intelligence (AI), analytics, dan disaster recovery.

Menurut Ariawan, kebutuhan tersebut mendorong pendekatan baru dalam pengelolaan infrastruktur digital. Data center tidak lagi dapat berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dengan layanan cloud, keamanan siber, konektivitas, tata kelola data, dan sistem pemulihan bencana dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Di sektor yang memiliki regulasi ketat seperti perbankan dan telekomunikasi, lanjutnya, keandalan data center bahkan telah menjadi bagian dari kepatuhan yang dapat diaudit. Karena itu, perusahaan perlu memastikan seluruh sistem dirancang dengan redundansi yang memadai, didukung monitoring berkelanjutan, serta menerapkan standar seperti sertifikasi Tier Data Center maupun ISO 22301 untuk business continuity management.

“Bagi kami, mengelola data center bukan hanya menjaga fasilitas tetap beroperasi. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis pelanggan tetap berjalan dalam berbagai kondisi. Di balik setiap sistem yang kami kelola, ada operasional bisnis dan jutaan pengguna yang bergantung pada layanan digital tersebut,” tutup Ariawan.

Keandalan data center kini menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan bisnis di era digital. Perusahaan yang bergantung pada layanan digital harus memastikan mitra infrastruktur mereka memiliki sistem cadangan yang memadai dan prosedur operasional yang ketat untuk menghadapi tantangan musim kemarau.

Dengan meningkatnya suhu global dan frekuensi cuaca ekstrem, investasi pada infrastruktur data center yang tangguh bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin menjaga kontinuitas bisnis dan kepercayaan pelanggan.