Ratusan Satelit Starlink Dibakar, Picu Kekhawatiran Lingkungan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi satelit Starlink di luar angkasa dekat Bumi
  • SpaceX memensiunkan 260 satelit Starlink dalam 6 bulan (Des 2025-Mei 2026)
  • 176 satelit generasi pertama dan sisanya model baru dihancurkan
  • 349 satelit lain menunggu giliran dimusnahkan
  • Satelit dirancang terbakar habis di atmosfer dengan umur pakai 5 tahun
  • SpaceX bangun pabrik 1 juta m² untuk produksi massal satelit
  • Target 42.000 satelit dan 7.500 unit generasi kedua
  • Kekhawatiran dampak logam berat dari pembakaran di atmosfer
  • FCC pertimbangkan pengecualian operasi ruang angkasa dari tinjauan lingkungan

JBNews.id — SpaceX secara rutin memensiunkan dan menghancurkan satelit Starlink miliknya. Dokumen terbaru yang diserahkan kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) mengungkap sebanyak 260 satelit telah diturunkan dari orbitnya dalam rentang Desember 2025 hingga Mei 2026.

Sebagian besar satelit yang dihancurkan merupakan model generasi pertama, tepatnya 176 unit, sementara sisanya adalah generasi yang lebih baru. Dalam periode enam bulan yang sama, SpaceX juga telah menonaktifkan 349 satelit tambahan yang kini menunggu giliran untuk dimusnahkan.

Proses pemusnahan ini merupakan bagian dari siklus operasional yang disengaja. Satelit Starlink dirancang hanya memiliki umur pakai sekitar lima tahun, sebelum akhirnya digantikan oleh model-model terbaru. Ketika sebuah satelit mencapai akhir masa pakainya dan kehabisan bahan bakar, sistem akan menggunakan sisa propelan untuk menurunkan orbitnya hingga masuk kembali ke atmosfer Bumi. Satelit-satelit ini dirancang agar terbakar dan hancur sepenuhnya selama proses penurunan tersebut.

Mengingat Starlink kini memiliki lebih dari 10.000 satelit yang mengorbit, perputaran unit telah menjadi rutinitas harian. Membawa rongsokan satelit ini kembali ke Bumi dengan utuh bukanlah pilihan yang realistis maupun ekonomis. Sebagai gambaran, satelit generasi pertama memiliki bobot 259 hingga 294 kg, sementara generasi kedua bisa mencapai 800 hingga 1.250 kg.

Ambisi Komputasi Orbital dan Pabrik Raksasa

Rotasi dan penggantian satelit yang konstan ini menunjukkan agresivitas SpaceX dalam memperbarui perangkat keras jaringannya. Perusahaan milik Elon Musk ini tengah mempersiapkan satelit berkapasitas lebih tinggi untuk layanan baru, termasuk Starlink Mobile yang dirancang untuk terkoneksi langsung ke ponsel pintar. Mereka juga berencana meluncurkan satelit komputasi orbital mutakhir berjuluk A1 dengan muatan komputasi sebesar 120 kW.

Untuk menyokong ekspansi tersebut, SpaceX saat ini tengah membangun fasilitas manufaktur raksasa seluas 1 juta meter persegi demi memproduksi satelit dalam skala masif. Pabrik ini ditargetkan mampu mendukung kapasitas komputasi orbital sekitar 1 Gigawatt per tahun pada akhir 2027. Konstelasi Starlink diproyeksikan akan terus membengkak. SpaceX berencana meluncurkan hingga 42.000 satelit ke orbit rendah Bumi (LEO) dan baru saja mendapat lampu hijau dari FCC pada Januari lalu untuk meluncurkan 7.500 satelit generasi kedua tambahan.

Ancaman Lingkungan dan Regulasi yang Longgar

Di balik pencapaian teknologinya, laju pembuangan satelit SpaceX mulai memicu kekhawatiran serius. Meskipun SpaceX mengklaim bahwa satelitnya hancur sepenuhnya tanpa meninggalkan puing antariksa, para peneliti mulai menyalakan alarm tanda bahaya mengenai dampak pembakaran material logam berat secara berulang-ulang terhadap komposisi atmosfer Bumi. Tuntutan untuk melakukan studi lingkungan yang lebih mendalam serta penerapan regulasi yang lebih ketat pun kian menguat.

Namun, hingga saat ini, industri satelit masih menikmati keistimewaan berupa pembebasan dari tinjauan lingkungan. Secara historis, FCC menghindari penerapan syarat tersebut dengan dalih tidak ingin menghambat perkembangan industri luar angkasa AS. Bukannya memperketat aturan, FCC saat ini justru tengah mempertimbangkan sebuah proposal untuk secara resmi mengecualikan operasi berbasis ruang angkasa dari tinjauan Undang-Undang Kebijakan Lingkungan Nasional. FCC berargumen bahwa aktivitas orbit tersebut merupakan kegiatan ekstrateritorial yang dampaknya berada sepenuhnya di luar yurisdiksi Amerika Serikat. Keputusan terkait proposal ini dilaporkan masih berstatus belum disetujui.

Fenomena ini mengingatkan pada isu lingkungan lain yang dampak teknologinya masih terus dikaji. Sementara itu, bencana alam seperti banjir dan longsor juga kerap menimbulkan kerusakan yang memerlukan perhatian serius.

Implikasinya bagi pembaca: ekspansi masif Starlink membawa konsekuensi lingkungan yang belum sepenuhnya dipahami. Jika tidak ada regulasi ketat, dampak akumulasi logam berat di atmosfer bisa menjadi masalah baru bagi generasi mendatang. Keputusan FCC dalam waktu dekat akan menentukan arah kebijakan ruang angkasa global.