PS6 Diprediksi Rp 15 Jutaan, Konsol Termahal Sony

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi konsol PlayStation 5 sebagai gambaran desain generasi terbaru Sony
  • Harga PS6 diprediksi tembus USD 1.000 atau sekitar Rp 16 juta akibat krisis komponen memori global
  • Biaya produksi (BOM) naik USD 200 dari USD 760 menjadi USD 960 dalam beberapa bulan terakhir
  • Sony ubah strategi bisnis, prioritaskan profitabilitas, tak lagi subsidi harga konsol
  • CEO Sony tekankan fokus pada pendapatan berulang dari langganan dan DLC
  • Sony siapkan konsol portabel "Canis" dengan spesifikasi di atas Xbox Series S
  • PS6 dan Xbox "Helix" diperkirakan rilis akhir 2027 atau 2028

JBNews.id — Harga PlayStation 6 (PS6) diprediksi tembus angka psikologis USD 1.000 atau sekitar Rp 16 juta. Di tengah krisis komponen memori global dan kebijakan tarif, Sony dipastikan akan merilis konsol termahal dalam sejarahnya.

Pembocor informasi KeplerL2 mengungkapkan bahwa biaya komponen atau Bill of Materials (BOM) untuk PS6 telah membengkak signifikan. Pada Maret lalu, biaya produksi diperkirakan USD 760. Kini, angka tersebut naik USD 200 menjadi sekitar USD 960. Kenaikan ini mendorong harga jual konsol melampaui prediksi awal.

Kelangkaan RAM global menjadi penyebab utama. Harga DRAM dan NAND telah melipatganda sejak tahun lalu. Sebagai gambaran, PS5 standar kini dibanderol USD 549, sementara PS5 Pro mencapai USD 899. Lonjakan ini menjadi preseden buruk bagi harga konsol generasi mendatang.

Presiden dan CEO Sony Interactive Entertainment, Hideaki Nishino, dalam pertemuan dengan investor menegaskan perubahan strategi bisnis perusahaan. Sony kini memprioritaskan profitabilitas dibandingkan perburuan basis pengguna. Mereka tak lagi akan memberi subsidi besar pada harga konsol. Sebaliknya, Sony akan memonetisasi pengguna yang sudah ada melalui pendapatan berulang seperti langganan dan konten tambahan (DLC).

Keputusan ini kontras dengan strategi generasi sebelumnya yang agresif mengejar pangsa pasar. Dampaknya, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan konsol next-gen. Situasi ini diperparah oleh tren kenaikan harga di seluruh industri, seperti yang dibahas dalam artikel Krisis RAM yang memicu kenaikan harga gadget global.

Baca Juga:

Selain PS6, Sony dikabarkan tengah menyiapkan konsol portabel dengan nama kode “Canis”. Perangkat ini ditenagai prosesor varian lebih kecil dari chip PS6. Spesifikasinya meliputi CPU 4 inti Zen 6C (2,2GHz), GPU 12-20 unit komputasi RDNA 5, memori LPDDR5X-7500 (bus 128-bit), dan TDP 15W. Dengan spesifikasi tersebut, perangkat ini diklaim mampu melampaui performa Xbox Series S.

Konsol portabel “Canis” diharapkan mampu menjalankan seluruh pustaka gim PlayStation 4 secara instan, serta game PS5 dan PS6 yang mendapat patch khusus. Strategi multi-format ini diyakini dapat menarik kembali pemain yang beralih ke PC. Fenomena peralihan ini juga terlihat pada perangkat lain, seperti Steam Machine Valve yang diburu penimbun hingga harganya tembus Rp 50 jutaan.

PlayStation 6 dan konsol Xbox generasi berikutnya dengan kode nama “Helix” diperkirakan akan meluncur pada akhir 2027 atau 2028. Informasi ini dikutip dari Techspot pada Rabu (1/7/2026). Namun, dengan biaya produksi yang terus meroket, harga jual akhir konsol masih menjadi tanda tanya besar.

Implikasinya bagi konsumen Indonesia jelas: menyisihkan anggaran khusus untuk konsol next-gen menjadi semakin sulit. Jika PS5 Pro saja sudah menyentuh USD 899, harga PS6 yang diprediksi di atas USD 1.000 akan menjadi barang mewah yang hanya terjangkau segelintir orang. Tren Apple Naikkan Harga produk karena AI juga menunjukkan beban biaya semakin berat bagi konsumen.

Kenaikan biaya komponen bukan hanya masalah Sony. Seluruh industri game menghadapi tekanan yang sama. Microsoft pun ikut menyesuaikan harga, seperti yang terlihat dari keputusan mereka menaikkan harga Xbox Series menjelang rilis GTA 6. Ini menandakan era baru di mana konsol game menjadi investasi mahal, bukan sekadar barang hiburan.

Dengan perubahan strategi Sony yang fokus pada profitabilitas, para gamer harus siap menghadapi kenyataan bahwa harga konsol tidak akan pernah semurah generasi sebelumnya. Keputusan pembelian kini harus lebih matang, mempertimbangkan tidak hanya harga perangkat, tetapi juga biaya langganan dan konten tambahan di masa depan.