Proyeksi Robot Humanoid China Melonjak, Kuasai Pasar Global

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Robot humanoid China produksi Linkerbot dipajang dengan alat musik di kantornya di Beijing, China, 27 April 2026. REUTERS/Maxim Shemetov
  • Morgan Stanley meningkatkan proyeksi pengiriman robot humanoid China menjadi 50.000 unit di 2026, hampir dua kali lipat dari proyeksi sebelumnya 28.000 unit
  • Pasar robot humanoid China diprediksi mencapai USD 2 miliar di 2026 dan USD 15 miliar di 2030
  • China mendominasi lima posisi teratas pengiriman robot humanoid global tahun lalu, mengalahkan Figure AI (peringkat 7) dan Tesla (peringkat 9)
  • Dukungan kebijakan pemerintah China mencakup subsidi lahan, kantor, dan persyaratan pinjaman yang menguntungkan bagi startup robotika
  • Perusahaan komponen Leaderdrive diproyeksikan menguasai 40% pangsa pasar global tahun ini
  • Ketidakpastian geopolitik dan ketegangan perdagangan menjadi hambatan utama ekspansi robot China ke luar negeri

JBNews.id — Morgan Stanley meningkatkan proyeksi pengiriman robot humanoid China menjadi 50.000 unit pada 2026, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 28.000 unit. Bank investasi Wall Street itu memperkirakan pasar robot humanoid China akan mencapai USD 2 miliar tahun ini dan melonjak menjadi USD 15 miliar pada 2030.

Revisi proyeksi ini merupakan yang kedua kalinya tahun ini. Pada Januari lalu, Morgan Stanley awalnya memproyeksikan pengiriman sebanyak 14.000 unit, kemudian melipatgandakannya menjadi 28.000 unit, dan kini kembali dinaikkan secara signifikan. Pengiriman tahunan diperkirakan mencapai 446.000 unit pada 2030.

“Verifikasi komersial, dukungan kebijakan, dan umpan balik rantai pasok menunjukkan adopsi humanoid yang lebih cepat di China,” kata Sheng Zhong, analis ekuitas di Morgan Stanley yang dikutip dari CNBC.

China telah mempercepat dorongan untuk mendominasi industri ini. Semakin banyak produsen domestik yang berlomba meningkatkan skala produksi dan mengerahkan robot di lingkungan dunia nyata seperti pabrik, minimarket, dan restoran. Beijing menjadikan pengembangan “embodied AI” — AI yang ditanamkan dalam sistem fisik seperti robot — sebagai prioritas lima tahun ke depan.

Pemerintah pusat mengarahkan pemerintah daerah untuk memberikan subsidi lahan dan kantor bagi startup robotika, sekaligus memerintahkan bank untuk memberikan persyaratan pinjaman yang menguntungkan. Langkah ini mempercepat komersialisasi teknologi humanoid di berbagai sektor.

An ensemble of humanoid robots produced by Linkerbot is set up with musical instruments at the company’s office in Beijing, China, April 27, 2026. REUTERS/Maxim Shemetov

Dominasi China di pasar robot humanoid sudah terlihat jelas. Tahun lalu, sekitar 13.000 robot humanoid dikirim di seluruh dunia menurut Omdia. Perusahaan China menduduki lima posisi teratas berdasarkan jumlah pengiriman. Pesaing dari Amerika Serikat, Figure AI, berada di peringkat ketujuh, sementara Tesla di peringkat kesembilan.

CEO Tesla Elon Musk mengatakan awal tahun ini bahwa robot Optimus perusahaannya tidak akan dijual hingga akhir 2027. Hal ini memberi keunggulan waktu bagi produsen China untuk memperkuat posisi pasar mereka.

Robotika humanoid menjadi target besar berikutnya bagi investor yang mengincar perkembangan teknologi China. “Jika Anda pergi ke pabrik mana pun di China saat ini, ada lebih banyak otomatisasi dan robotika yang dikerahkan daripada di tempat lain mana pun di dunia,” kata Joe Ngai, pimpinan McKinsey Greater China.

Penelitian rantai pasok Morgan Stanley menunjukkan komersialisasi yang lebih cepat. Bank tersebut menyebut Leaderdrive, perusahaan yang terdaftar di bursa Shanghai, sebagai penerima manfaat utama dari kebangkitan humanoid. Perusahaan yang berkantor di Suzhou ini memasok komponen robotika untuk pembuat humanoid domestik seperti Ubtech dan Galbot.

Leaderdrive diproyeksikan bisa memegang 40% pangsa pasar global tahun ini dan 25% dalam jangka panjang. Ini menunjukkan bagaimana rantai pasok domestik China sudah terintegrasi dengan industri humanoid global.

Perusahaan robotika China juga gencar mengincar ekspansi ke luar negeri. Seer Intelligent, perusahaan robotika di Shanghai yang mulai melantai di bursa Hong Kong, telah berekspansi ke luar China sejak 2021. Pendapatan luar negeri dari lebih dari 65 negara menyumbang 18% total penjualannya tahun lalu.

Namun, ketidakpastian geopolitik dan ketegangan perdagangan tetap menjadi hambatan terbesar. Perusahaan pun berfokus pada diversifikasi geografis untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal. Para pembuat kebijakan di Washington semakin khawatir dengan kemajuan AI China dan risiko meningkatnya ketergantungan pada teknologi China dalam beberapa tahun terakhir.

“Jika Washington memperlakukan persaingan ini semata perlombaan untuk mencapai tolok ukur kemampuan baru, mereka mungkin memimpin dalam hal penemuan namun tertinggal dalam mempengaruhi di mana dan bagaimana AI digunakan di seluruh dunia,” kata Suzanne Nossel dari Chicago Council on Global Affairs.

Implikasi dari proyeksi ini bagi pasar global sangat jelas. China tidak hanya memproduksi robot humanoid dalam jumlah besar, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung adopsi massal. Dukungan kebijakan pemerintah, rantai pasok yang terintegrasi, dan ekspansi internasional menjadi tiga pilar utama yang mendorong percepatan ini.

Bagi pelaku industri dan investor, data Morgan Stanley ini menegaskan bahwa China telah menjadi pusat gravitasi baru dalam industri robot humanoid. Perusahaan yang ingin bersaing di pasar ini harus mempertimbangkan strategi yang matang, termasuk kemitraan dengan pemasok komponen China atau investasi langsung di pasar tersebut.

Sementara itu, kekhawatiran akan ketergantungan pada teknologi China mendorong negara-negara lain, terutama AS, untuk mempercepat pengembangan robot humanoid domestik. Namun, dengan keunggulan skala produksi dan dukungan kebijakan yang masif, China diprediksi akan mempertahankan dominasinya setidaknya hingga akhir dekade ini.

Perusahaan seperti Knightscope di AS dan pemain global lainnya harus menghadapi kenyataan bahwa persaingan di industri robotika tidak lagi hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga soal kecepatan komersialisasi dan skala produksi — dua area di mana China unggul jauh.