JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dalam sepekan terakhir telah merenggut 40 jiwa di Prancis, memaksa warga Eropa menghadapi dilema antara rasa bersalah terhadap lingkungan dan kebutuhan bertahan hidup dengan menggunakan pendingin ruangan (AC). Suhu di Spanyol mencapai 44 derajat Celsius, sementara Inggris mencatat bulan Juni terpanas dalam sejarah.
Setiap tahun, cuaca panas ekstrem merenggut rata-rata 175.000 nyawa di Eropa, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, penggunaan AC terbukti mampu memangkas tingkat kematian akibat panas hingga 75%, berdasarkan studi tahun 2007. Riset yang diterbitkan The Lancet pada 2019 bahkan mencatat bahwa 195.000 kematian terkait cuaca panas pada kelompok lansia di atas 65 tahun berhasil dicegah berkat adopsi AC di berbagai negara.
Meski manfaatnya jelas, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki AC. Angka ini sangat kontras dengan Amerika Serikat, di mana 90% rumah tangga telah menggunakan pendingin ruangan. Perbedaan ini mencerminkan hambatan budaya, biaya, dan iklim yang telah lama membentuk sikap warga Eropa terhadap AC.
Budaya, Biaya, dan Iklim Menjadi Penghalang
Sebagian dari keengganan warga Eropa untuk memasang AC berakar pada sikap stoikisme historis. Karena AC tidak pernah digunakan pada masa lalu, banyak yang merasa tidak seharusnya dibutuhkan sekarang. Selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar wilayah Eropa memang tidak benar-benar membutuhkan AC karena iklimnya yang lebih sejuk.
Faktor biaya juga menjadi penghalang signifikan. Minimnya pasokan gas alam domestik di banyak negara Eropa mengharuskan mereka mengimpor energi, membuat biaya listrik di Eropa lebih tinggi sementara gaji rata-rata lebih rendah dibandingkan AS. Kombinasi ini membuat investasi pembelian dan pengoperasian AC terasa memberatkan bagi banyak keluarga.
Selain itu, banyak warga Eropa dihantui rasa bersalah terhadap dampak iklim dari penggunaan AC. Data menunjukkan bahwa penggunaan AC menyumbang 4% dari total emisi gas rumah kaca global — angka yang dua kali lipat lebih besar dari emisi seluruh industri penerbangan dunia. Beban moral ini membuat keputusan memasang AC menjadi semakin rumit.
Gelombang Panas Ekstrem Mengubah Segalanya
Sekarang, musim panas di wilayah selatan Eropa telah menjadi sangat ekstrem sehingga trik arsitektur tradisional yang digunakan selama berabad-abad tidak lagi mempan. Sementara di wilayah utara, rumah-rumah yang dirancang untuk menahan udara panas agar penghuninya tidak kedinginan di musim dingin, kini berubah menjadi “tungku pembakaran” saat musim panas tiba.
Italia menjadi contoh paling dramatis dari perubahan ini. Ribuan kematian selama gelombang panas tahun 2003 menjadi titik puncak kesabaran. Pada musim panas tahun itu, diperkirakan hanya 10-15% rumah tangga Italia yang memiliki AC. Namun pada 2024, angka tersebut meroket menjadi 56%. Italia kini menyumbang sepertiga dari seluruh penggunaan listrik untuk AC di Eropa.
Di Prancis, yang minggu ini mengalami hari-hari terpanas, toko-toko mulai kehabisan stok AC karena permintaan melonjak drastis. Di Inggris, sekitar empat juta rumah kini memiliki AC — jumlah yang dua kali lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Lonjakan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memaksa warga Eropa untuk mengutamakan keselamatan di atas pertimbangan lingkungan.
Baca Juga:
Kisah Nyata: Dari Rasa Bersalah ke Prioritas Bertahan Hidup
Katie, seorang warga London, menggambarkan dilema ini dengan gamblang. Baginya, memasang AC tidak pernah terlintas dalam pikiran, baik karena biaya mahal maupun dampak lingkungan. “Biasanya Anda hanya akan terkapar lemas di sofa dan sekadar mencoba bertahan hidup,” katanya.
Namun, pandangan itu berubah total setelah ia memiliki anak. Katie dan pasangannya memutuskan membeli AC demi keselamatan bayi mereka. “Rasa bersalah terhadap iklim yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibanding prioritas untuk memastikan bayi saya memiliki tempat tidur aman,” ujarnya.
“Siapa pun yang pernah terjebak selama sejam bagai di neraka, bercucuran keringat sambil mencoba menidurkan bayinya, pasti akan langsung membeli AC, percayalah,” tambah Katie. Kisahnya mencerminkan pergeseran prioritas yang terjadi di banyak rumah tangga Eropa saat gelombang panas semakin mematikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa regulasi teknologi dan kebijakan lingkungan harus mempertimbangkan realitas adaptasi iklim yang mendesak.
Solusi: AC Modern dan Energi Terbarukan
Guna mencegah tren perluasan penggunaan AC semakin memperburuk perubahan iklim, para pakar menekankan pentingnya pemasangan AC modern yang efisien listrik dan ditenagai energi terbarukan seperti tenaga surya. Pendekatan ini diharapkan dapat memutus lingkaran setan di mana pendinginan ruangan justru mempercepat pemanasan global.
Uni Eropa sendiri memiliki ambisi besar untuk menjadi kawasan netral iklim pada tahun 2050. Untuk mewujudkannya, negara-negara seperti Spanyol, Italia, dan Yunani mulai membatasi sejauh mana batas pendinginan ruangan diizinkan di gedung publik selama musim panas. Langkah ini bertujuan mengendalikan konsumsi energi tanpa mengorbankan keselamatan warga.
Masyarakat juga disarankan untuk menggabungkan dua solusi sekaligus: mengombinasikan AC bertenaga surya dengan langkah-langkah tradisional ala masyarakat kawasan Eropa selatan. Pendekatan hibrida ini dianggap sebagai jalan tengah yang paling realistis antara kebutuhan bertahan hidup dan tanggung jawab lingkungan.
Implikasinya jelas: warga Eropa tidak lagi bisa memilih antara kenyamanan dan keberlanjutan. Gelombang panas ekstrem telah mengubah AC dari sekadar kemewahan menjadi kebutuhan dasar. Namun, cara penggunaannya — apakah dengan energi fosil atau terbarukan — akan menentukan apakah kekhawatiran terhadap masa depan ini dapat diatasi. Keputusan yang diambil sekarang akan berdampak langsung pada kemampuan Eropa mencapai target netral iklim pada 2050.




