PR Agency Gunakan AI Palsu untuk Pitch Jurnalis

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Kolase wajah AI palsu yang digunakan Movchan Agency untuk mengirim email pitching kepada jurnalis
  • Movchan Agency, agensi PR Inggris, menggunakan 15 persona fiktif dengan foto AI untuk mengirim email pitch ke jurnalis
  • Praktik terungkap setelah jurnalis Futurism menemukan watermark dari situs this-person-does-not-exist.com pada foto profil
  • Klien seperti RiseGuide dan Joi AI mengaku tidak mengetahui praktik ini
  • Praktik berlangsung sejak September 2025, dipicu masalah reputasi domain perusahaan
  • Beberapa pitch dari persona palsu telah dimuat di media seperti The New York Post

JBNews.id — Sebuah agensi hubungan masyarakat (PR) asal Inggris, Movchan Agency, kedapatan menggunakan belasan persona fiktif dengan foto wajah hasil kecerdasan buatan (AI) untuk mengirim email pitching kepada jurnalis. Praktik ini terungkap setelah seorang jurnalis Futurism, Maggie Harrison Dupré, menerima email dari seorang “publicist” bernama June Barton yang identitasnya ternyata palsu.

Kejanggalan pertama muncul ketika Dupré membuka foto profil Barton. Gambar tersebut gagal memotong watermark dari situs “this-person-does-not-exist.com”, sebuah platform yang menyediakan foto wajah manusia hasil generate AI. Saat ditelusuri, alamat email Barton, june@vectorguidehq.com, justru mengarahkan pengunjung ke situs Movchan Agency.

Baca Juga:

Setelah penelusuran lebih lanjut, Dupré menemukan setidaknya lima belas persona fiktif berbeda yang dioperasikan oleh Movchan. Mereka mengirim email dari berbagai perusahaan PR palsu seperti VectorGuideHQ, lorvotieio.com, kirometaco.com, maviosharehq.com, dan divojoinio.com. Semua domain tersebut ternyata mengarahkan ke situs Movchan.

A collage of AI-generated faces used by the Movchan Agency to operate fake accounts used to send out emails pitching journalists on its clients, overlaid with yellow images of emails zipping around.

Menariknya, beberapa persona fiktif ini secara eksplisit diperkenalkan sebagai karyawan Movchan Agency. Contohnya, “Mia Wilson” yang mengaku sebagai PR Manager untuk Movchan dan “Natalie Hudson” yang mengirim email dari domain movchanprboost.com. Namun, sebagian besar persona lain tidak mencantumkan hubungan mereka dengan agensi tersebut.

Praktik ini berlangsung setidaknya sejak September 2025. Salah satu klien Movchan, RiseGuide, mengaku tidak mengetahui praktik tersebut. “Kami bekerja dengan Movchan Agency, tetapi tidak mengetahui praktik ini,” ujar pendiri RiseGuide, Oleksandr Matsiuk. “Mereka seharusnya bertindak sebagai dukungan PR kami dan mewakili merek kami. Kami tidak menyadari mereka menggunakan persona hasil AI dalam proses outreach.”

Screenshots showing emails from a character identified as a PR agent named June Barton, from a firm called VectorGuideHQ, along with a zoomed-in version of her headshot, showing that it was downloaded from a site called this-person-does-not-exist.com.

Klien lain, Joi AI, juga menyatakan keterkejutannya. “Saya tidak tahu mereka menggunakan persona palsu — ini sepenuhnya bertentangan dengan nilai dan standar merek kami. Kami mengambil tindakan segera untuk menghentikan ini,” kata perwakilan Joi AI.

Alasan di Balik Praktik Persona Palsu

Pendiri Movchan, Nadya Movchan, mengonfirmasi bahwa lima belas nama yang ditemukan jurnalis tersebut adalah persona fiktif. Ia menjelaskan praktik ini dimulai “beberapa bulan lalu” dan dimaksudkan sebagai langkah sementara setelah agensinya mengalami masalah reputasi domain.

“Beberapa bulan lalu, kami mengalami masalah besar dengan reputasi domain kami,” kata Movchan. “Sementara kami mulai mengerjakan pemulihan, kami memutuskan untuk membeli domain yang sudah dihangatkan agar tidak menghentikan outreach. Domain tersebut dilengkapi dengan kotak surat dengan nama dan gambar yang sudah diatur oleh vendor.”

Movchan menambahkan bahwa penggunaan perwakilan fiktif “bukan” praktik operasional normal agensinya. “Menggunakan domain yang sudah dihangatkan ini jelas merupakan penilaian yang buruk dari saya,” akunya.

Screenshots showing an email from

Meskipun pengirim dan akunnya palsu, Movchan menegaskan bahwa setiap kotak surat tersebut “dioperasikan oleh orang sungguhan yang menyusun sudut cerita, pitch, dan mengelola outreach — semuanya dilakukan oleh manusia yang melakukan pekerjaan PR normal.”

Dampak pada Industri Media dan PR

Beberapa ide cerita yang dipitch oleh perwakilan palsu Movchan ternyata telah dimuat di media lain. Pada September, misalnya, persona fiktif bernama “Rosemary Dalton” mengirim email tentang survei baru dari Joi AI. Sekitar seminggu kemudian, survei tersebut beserta kutipan dari karyawan Joi AI dimuat dalam liputan The New York Post.

Jurnalis Futurism juga menguji email yang dikirim oleh perwakilan palsu Movchan menggunakan Pangram, layanan pendeteksi teks hasil AI. Hasilnya bervariasi: email dari Summer Casey dan June Barton terdeteksi 100 persen hasil AI, sementara email lain terdeteksi 100 persen tulisan manusia, dan sebagian lainnya campuran.

Three AI-generated headshots of fake PR agents identified as

Movchan mengonfirmasi bahwa klien agensinya tidak mengetahui praktik tersebut dan mengatakan pihaknya akan menghentikan operasi ini. “Ini keputusan kami, dan kami menanganinya dengan buruk,” kata Movchan. “Terlepas dari alasannya, perjuangan operasional kami dengan domain tidak membenarkan pendekatan ini.”

Kasus ini menjadi contoh nyata meningkatnya penggunaan AI dalam operasi PR yang tidak transparan. Seiring berkembangnya teknologi, praktik serupa berpotensi semakin marak. Untuk memahami bagaimana perilaku digital berubah di tengah perkembangan AI, penting bagi jurnalis dan publik untuk tetap waspada terhadap identitas digital yang tidak dapat diverifikasi.

Di sisi lain, perkembangan AI juga membawa dampak positif di berbagai sektor, termasuk teknologi antariksa yang semakin canggih. Namun, kasus Movchan menunjukkan bahwa transparansi tetap menjadi fondasi utama dalam komunikasi profesional.

Bagi jurnalis dan penerima email PR, kasus ini menjadi pengingat untuk selalu memverifikasi identitas pengirim. Memeriksa keaslian foto profil, menelusuri domain perusahaan, dan mengonfirmasi langsung ke klien yang disebut adalah langkah-langkah penting untuk menghindari praktik penipuan digital yang semakin canggih.

Kasus ini juga menyoroti kebutuhan akan regulasi yang lebih jelas terkait penggunaan AI dalam komunikasi profesional. Tanpa transparansi, kepercayaan antara jurnalis, praktisi PR, dan publik akan semakin terkikis di era di mana batas antara manusia dan mesin semakin kabur.