Phia Startup Putri Bill Gates Dituduh Cookie Stuffing

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Phoebe Gates pendiri startup Phia
  • Phia, startup afiliasi belanja online milik Phoebe Gates (putri Bill Gates), dituduh melakukan cookie stuffing
  • Investigasi Bloomberg menemukan ekstensi Phia mengganti kode referral afiliasi lain dengan kodenya sendiri
  • Praktik ini memungkinkan Phia menerima komisi dari penjualan yang tidak mereka lakukan
  • Phia mengaku sudah memperbaiki masalah tersebut dan menganggapnya sebagai bug software
  • Startup ini didirikan 2025, mengumpulkan dana USD 40 juta, didukung Khloé Kardashian, Hailey Bieber, Sydney Sweeney
  • Dalam minggu pertama, aplikasi Phia mencapai peringkat 21 di Apple App Store
  • Pada September 2025, aplikasi sudah mengumpulkan lebih dari 500.000 download

JBNews.id — Phia, startup afiliasi belanja online yang didirikan Phoebe Gates, putra bungsu Bill Gates, dituduh melakukan praktik curang untuk mendapatkan komisi dari penjualan yang tidak mereka lakukan. Investigasi Bloomberg mengungkapkan ekstensi browser Phia diduga menjalankan teknik ‘cookie stuffing’ yang menggantikan kode referral afiliasi lain dengan kode miliknya sendiri.

Praktik ini memungkinkan Phia mengambil kredit dan berpotensi menerima komisi atas transaksi yang sebenarnya tidak difasilitasi oleh platform mereka. Temuan ini memicu kontroversi di tengah pertumbuhan pesat startup yang baru berdiri pada 2025 tersebut.

Bisnis utama Phia adalah affiliate marketing melalui ekstensi browsernya. Dalam sistem afiliasi normal, kreator atau platform mendapatkan komisi ketika konsumen mengikuti link unik mereka dan melakukan pembelian. Namun, investigasi Bloomberg menemukan ekstensi Phia kadang menyisipkan kodenya sendiri di akhir proses tersebut.

Phoebe Gates

Seorang pembeli bisa saja mengunjungi website peritel sendiri atau melalui afiliasi lain, tapi Phia tiba-tiba menggantikan kode referral asli dengan miliknya sendiri. Dalam pengujian Bloomberg, mereka mengikuti link ke website peritel fesyen Nordstrom dari artikel Wirecutter tentang promo diskon. Phia diduga membuka tab lain secara diam-diam selama proses pembayaran dan mengganti informasi referral Wirecutter dengan informasi referral-nya sendiri.

Praktik ini dikenal sebagai cookie stuffing, sebuah teknik yang dianggap melanggar etika bisnis afiliasi dan berpotensi merugikan para kreator serta platform afiliasi lain yang telah bekerja keras menghasilkan penjualan.

Respons Resmi Phia

Setelah menerima laporan soal masalah ini, juru bicara Phia mengatakan bahwa mereka sudah memperbaiki isu tersebut. Namun, mereka menganggap hal tersebut sebagai masalah pada software, dan bukan praktik bisnis yang disengaja.

Bloomberg menguji ulang ekstensi tersebut setelah menghubungi Phia dan menemukan ekstensi itu sudah berhenti mengklaim klik rujukan. Belum diketahui apakah perbaikan ini sudah cukup untuk memuaskan peritel dan mitra afiliasi lainnya.

Latar Belakang dan Pertumbuhan Phia

Phoebe Gates mendirikan Phia pada tahun 2025 bersama Sophia Kianni. Startup ini sudah mengumpulkan dana sebesar USD 40 juta, dan didukung investor ternama seperti Khloé Kardashian, Hailey Bieber, dan Sydney Sweeney.

Phia mengembangkan aplikasi sebagai ekstensi browser yang cara kerjanya mirip Google Flights, tapi untuk belanja online. Ekstensi ini membantu konsumen menemukan item dengan harga paling murah dari seluruh peritel serta kode diskon untuk digunakan saat belanja.

Startup ini tumbuh pesat setelah diluncurkan. Dalam minggu pertama, aplikasi ini mencapai peringkat ke-21 di Apple App Store, dan pada September 2025 aplikasi ini sudah mengumpulkan lebih dari 500.000 download.

Kontroversi ini muncul di tengah momentum positif yang seharusnya dinikmati Phia. Dengan pendanaan besar dan dukungan figur publik, Phia diproyeksikan menjadi pemain utama di sektor affiliate marketing berbasis ekstensi browser. Namun, tuduhan cookie stuffing ini berpotensi menggerus kepercayaan konsumen dan mitra bisnis.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi startup rintisan lainnya bahwa praktik agresif dalam monetisasi dapat berujung pada risiko reputasi yang serius. Di era transparansi digital, setiap celah teknis yang dieksploitasi berpotensi terungkap dan menjadi sorotan publik.

Bagi para pengguna ekstensi browser, kasus ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana software yang mereka instal bekerja di latar belakang. Ekstensi yang tampaknya membantu berbelanja lebih hemat ternyata bisa menjalankan skrip yang menguntungkan diri sendiri tanpa sepengetahuan pengguna.

Dengan dukungan investor besar dan pendiri yang merupakan bagian dari keluarga teknologi paling terkenal di dunia, tekanan pada Phia untuk menyelesaikan masalah ini secara transparan dan tuntas akan sangat besar. Langkah korektif yang diambil dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah startup ini dapat mempertahankan kepercayaan pasar atau justru kehilangan momentum pertumbuhannya.

Seiring perkembangan investigasi lebih lanjut, publik dan pelaku industri akan mengawasi bagaimana Phia menangani krisis ini. Apakah perbaikan teknis yang sudah dilakukan cukup untuk memulihkan reputasi, atau justru akan muncul tuntutan hukum dari mitra afiliasi yang dirugikan.