Perusahaan Global Beralih ke AI China yang Lebih Murah

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi perbandingan bendera Amerika dan China melambangkan persaingan AI global
  • DoorDash, Airbnb, dan Siemens beralih ke model AI China yang lebih murah
  • Model DeepSeek dan Z.ai dari China ungguli popularitas model AS di kalangan perusahaan
  • Biaya AI yang membengkak di AS, seperti US$500 juta/bulan oleh satu organisasi, jadi pemicu
  • Model AI China bersifat open-weight, menawarkan fleksibilitas dan kontrol lebih besar
  • Larangan model Mythos oleh AS tingkatkan kepercayaan perusahaan asing pada AI China

JBNews.id — Perusahaan global seperti DoorDash, Airbnb, dan Siemens mulai mengadopsi model kecerdasan buatan (AI) buatan China. Langkah ini didorong oleh biaya yang jauh lebih rendah serta pendekatan “open-weight” yang menawarkan fleksibilitas lebih besar dibandingkan model AI buatan Amerika Serikat seperti OpenAI dan Anthropic.

Fenomena ini terungkap dalam laporan Financial Times yang menunjukkan pergeseran signifikan di kalangan korporasi. Data dari platform OpenRouter mencatat bahwa model AI China dari DeepSeek dan Z.ai kini telah melampaui popularitas model Amerika dalam hal penggunaan di kalangan perusahaan. Biaya yang lebih murah, tampaknya, menjadi faktor yang mengalahkan persaingan geopolitik.

“Model China adalah ‘gajah di dalam ruangan’,” ujar Eugene Cheah, CEO platform AI Featherless AI, kepada Financial Times. “Perusahaan mulai menyadari, ‘Hei, kami tidak butuh model terbaik, kami bisa menggunakan model yang lebih cepat dan lebih murah’.”

Pandangan bahwa model AI Amerika adalah yang paling canggih mulai bergeser. Peluncuran GLM-5.2 dari startup China Z.ai bulan lalu menggemparkan kalangan teknologi Silicon Valley. Tokoh-tokoh terkemuka mengakui bahwa model ini setara atau hampir setara dengan sistem AS, namun dengan biaya yang jauh lebih rendah untuk digunakan.

Munculnya AI China yang murah ini datang di saat yang tepat. Dunia korporasi, yang tergiur oleh janji AI untuk meningkatkan produktivitas, telah menghabiskan setahun terakhir untuk menerapkan AI di seluruh lini kerja mereka. Namun, banyak yang kini mulai keberatan dengan biaya yang membengkak. Salah satu organisasi dilaporkan menghabiskan dana hingga US$500 juta dalam sebulan hanya untuk biaya penggunaan model Claude.

Meskipun itu adalah kasus ekstrem, penelitian terbaru dari Ramp AI Index menemukan bahwa perusahaan yang paling serius menggunakan AI menghabiskan sekitar US$7.500 per karyawan setiap bulannya. Budaya di sekitar AI juga menjadi pendorong; beberapa perusahaan seperti Meta mewajibkan karyawannya untuk menggunakan sistem AI sebanyak mungkin dan memasukkannya ke dalam evaluasi kinerja.

Insinyur perangkat lunak, yang kini dituntut menghasilkan lebih banyak pekerjaan, sering menjalankan beberapa agen AI secara bersamaan. Jika perusahaan enggan mengurangi penggunaan AI, pilihan terbaik berikutnya adalah mencari model yang lebih murah.

Pendiri DoorDash, Andy Fang, mengatakan di platform X pekan lalu bahwa perusahaannya menghemat banyak uang dengan menyerahkan “pekerjaan tingkat rendah” kepada model dari startup China, Moonshot AI. Startup asal San Francisco, Lindy, bahkan telah sepenuhnya meninggalkan alat AI Anthropic dan beralih ke model V4 terbaru dari DeepSeek.

“Perusahaan memiliki insentif untuk mengalihkan sebagian beban kerja mereka ke model yang lebih murah. Mengapa Anda harus membayar mahal untuk model Anthropic atau OpenAI jika untuk sebagian besar beban kerja yang Anda butuhkan, model China sudah bisa diandalkan?” kata Sam Bresnick, seorang rekan peneliti di Center for Security and Emerging Technology Universitas Georgetown, kepada Financial Times.

Biaya bukan satu-satunya pertimbangan. Banyak model AI China yang bersifat “open-weight”, yang berarti parameter atau nilainya sepenuhnya terlihat oleh pengguna. Ini memungkinkan organisasi untuk menyesuaikan model dengan kebutuhan spesifik mereka. Dari perspektif keamanan siber, hal ini juga memberikan kontrol dan wawasan yang lebih besar tentang bagaimana model memproses data perusahaan yang sensitif.

Bagi perusahaan asing yang kecewa dengan kepemimpinan AS, pilihan untuk beralih menjadi lebih mudah. Kepercayaan terhadap AS sebagai pengelola AI mulai memudar, terutama setelah pemerintahan Trump menangguhkan akses ke model Mythos milik Anthropic di luar negeri. “Larangan Mythos adalah peristiwa yang paling nyata, dan orang-orang kehilangan akses mereka,” kata Aidan Gomez, CEO grup AI Kanada, Cohere, kepada Financial Times. “Ini menunjukkan risiko ketergantungan pada satu entitas tunggal untuk semua beban kerja Anda.”

Pergeseran ini menandai titik balik dalam industri AI global. Perusahaan tidak lagi hanya mencari model dengan kemampuan terbaik, tetapi juga mempertimbangkan faktor biaya dan fleksibilitas. Dominasi AS di pasar AI mulai terusik oleh pesaing China yang menawarkan solusi lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas secara signifikan.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa AI Companies Dominate tidak hanya dalam hal inovasi, tetapi juga dalam strategi penetapan harga. Perusahaan global kini memiliki lebih banyak pilihan, dan persaingan harga ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen dan bisnis yang ingin mengadopsi teknologi AI.

Implikasinya bagi pasar Indonesia juga signifikan. Dengan semakin banyaknya model AI murah yang tersedia, adopsi AI di perusahaan-perusahaan Tanah Air berpotensi semakin cepat. Biaya yang lebih rendah menurunkan hambatan masuk bagi usaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam operasional mereka.

Namun, keputusan untuk beralih ke model AI China juga tidak lepas dari risiko. Isu keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi lokal, seperti yang pernah terjadi pada FCC Denda Delapan Perusahaan, bisa menjadi pertimbangan tersendiri. Perusahaan perlu melakukan uji tuntas yang ketat sebelum mengadopsi teknologi dari luar negeri.

Persaingan antara AI Amerika dan China diprediksi akan semakin ketat. Model China yang lebih murah dan terbuka memberikan tekanan pada perusahaan AS untuk menurunkan harga atau meningkatkan nilai tambah produk mereka. Bagi perusahaan global, ini adalah kabar baik karena mereka memiliki lebih banyak opsi dengan biaya yang lebih kompetitif.

Fenomena ini juga mendorong munculnya ekosistem baru di mana model AI open-source atau open-weight menjadi semakin populer. Perusahaan tidak lagi terikat pada satu vendor, tetapi dapat memilih dan menggabungkan model dari berbagai sumber sesuai kebutuhan mereka. Ini adalah perubahan fundamental dalam cara perusahaan mengadopsi dan menggunakan kecerdasan buatan.

Ke depannya, pasar AI global akan semakin terfragmentasi. Model-model murah dari China akan terus menggerus pangsa pasar model premium dari AS. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat dan memanfaatkan model AI yang paling efisien dari segi biaya akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.

Bagi para pengamat industri, pergeseran ini adalah bukti bahwa inovasi tidak lagi menjadi monopoli satu negara. China telah membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan model AI yang kompetitif dengan biaya yang jauh lebih rendah. Ini adalah pelajaran berharga bagi industri teknologi global: harga dan aksesibilitas sama pentingnya dengan kecanggihan teknologi.

Perusahaan yang sebelumnya enggan mengadopsi AI karena biaya tinggi kini memiliki kesempatan untuk memulai. Model China yang murah membuka pintu bagi eksperimen dan implementasi AI skala besar tanpa harus mengeluarkan investasi yang membebani anggaran. Ini bisa menjadi katalis bagi gelombang baru adopsi AI di berbagai sektor industri.

Kesimpulannya, peralihan perusahaan global ke AI China yang lebih murah adalah tren yang tidak bisa diabaikan. Faktor biaya, fleksibilitas, dan ketersediaan model open-weight menjadi pendorong utama. Bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di era digital, mempertimbangkan opsi AI dari China bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis.

Perusahaan yang paling diuntungkan adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara biaya, kualitas, dan keamanan. Dengan semakin banyaknya pilihan di pasar, keputusan untuk memilih model AI yang tepat akan menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital di masa depan.