JBNews.id — Di balik gemerlap investasi data center kecerdasan buatan (AI) senilai miliaran dolar, janji lapangan kerja yang digembar-gemborkan kepada masyarakat terbukti sangat timpang. Sebuah analisis terkini mengungkap bahwa untuk proyek data center senilai total USD 1,3 miliar, kota Cedar Rapids, Iowa, hanya dijamin mendapatkan 61 pekerjaan permanen—setara dengan USD 21,3 juta per pekerjaan.
Angka ini menjadi sorotan tajam di tengah hiruk-pikuk pembangunan pusat data AI di seluruh Amerika Serikat. Para pengembang besar kerap menggunakan narasi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan pajak sebagai iming-iming utama saat bernegosiasi dengan pemerintah daerah. Namun, data di lapangan menunjukkan realitas yang jauh berbeda.
Peneliti dari Georgia Tech menemukan bahwa di daerah pedesaan, data center biasanya mempekerjakan kurang dari 100 pekerja tetap dan cenderung mengimpor jasa spesialis dari luar komunitas. Dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi lokal pun tidak terjamin dan sangat bergantung pada kondisi setempat.
Seperti dijelaskan para peneliti Georgia Tech, “lonjakan pertumbuhan pekerjaan dan upah yang sering dijanjikan selama upaya rekrutmen lokal kemungkinan besar tidak akan terwujud dengan sendirinya.”
Investasi Raksasa, Pekerjaan Minim
Kasus Cedar Rapids menjadi contoh paling gamblang. Otoritas Pengembangan Ekonomi setempat baru-baru ini mengungkapkan bahwa dua proyek data center yang sedang berjalan—satu untuk Google dengan nilai investasi minimal USD 576 juta dan satu lagi untuk firma Blackstone, QTS, mulai dari USD 750 juta—secara kontraktual hanya diwajibkan menciptakan total gabungan 61 pekerjaan permanen.
Artinya, untuk investasi gabungan sebesar USD 1,3 miliar yang masuk ke kota, Cedar Rapids hanya dijamin 61 posisi tetap. Rasio ini bahkan lebih buruk dibandingkan proyek Ark Data Center senilai USD 136 juta di timur laut Ohio, yang diproyeksikan hanya menciptakan sepuluh pekerjaan penuh waktu setelah selesai dibangun.
Fenomena ini bukanlah kasus isolasi. Sebuah analisis menemukan bahwa negara bagian Georgia, Virginia, dan Texas masing-masing kehilangan lebih dari USD 1 miliar per tahun akibat insentif data center negara bagian. Sementara itu, setidaknya 14 negara bagian bahkan tidak mengungkapkan keringanan pajak data center sama sekali.
Dampak Berganda yang Tak Kunjung Datang
Meskipun Cedar Rapids membanggakan bahwa pembangunan ini akan membawa “ribuan pekerjaan konstruksi dan perdagangan,” kenyataannya tidak seindah itu. Pekerjaan konstruksi data center bersifat sementara dan sangat bergantung pada keinginan pengembang yang dikenal tidak dapat diandalkan.
Lebih jauh lagi, lonjakan pembangunan data center justru menekan pasar konstruksi. Sebuah analisis terkini oleh firma Turner & Townsend menemukan bahwa hiruk-pikuk pembangunan telah menciptakan “pasar konstruksi dua kecepatan,” di mana proyek AI berbiaya tinggi mendongkrak biaya untuk pembangunan lain seperti perumahan, sambil menyedot tenaga kerja terampil yang dibutuhkan di sektor lain.
Laporan tersebut menemukan bahwa 87 persen pasar konstruksi global mengalami kekurangan spesialis mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP), sementara biaya dan waktu tunggu untuk mendapatkan komponen MEP terus meningkat. Kabar baik bagi kontraktor MEP, tetapi konsekuensinya adalah biaya lebih tinggi untuk segala hal lain yang ingin dibangun.
Kondisi ini semakin memperparah protes data center AI yang sudah meluas, di mana 75 proyek senilai Rp2.100 triliun terhambat akibat penolakan masyarakat.
Insentif Pajak yang Tidak Transparan
Dalam teori, lebih banyak pendapatan pajak berarti dana untuk sekolah, jalan, dan layanan darurat. Namun dalam praktiknya, negara bagian dan county justur membebaskan pajak tersebut untuk membujuk perusahaan teknologi agar mendirikan fasilitas mereka—sementara kampus yang sudah ada memberikan tekanan besar pada komunitas lokal.
Ketidaktransparanan ini menjadi masalah serius. Dengan setidaknya 14 negara bagian tidak mengungkapkan keringanan pajak data center, masyarakat tidak memiliki gambaran utuh tentang berapa banyak pendapatan yang sebenarnya hilang demi menarik investasi yang janji lapangan kerjanya sangat terbatas.
Fenomena ini mengingatkan pada gelembung AI Wall Street di mana valuasi perusahaan teknologi melambung tinggi tanpa diimbangi fundamental yang kuat.
Beban Lingkungan dan Biaya Sosial
Belum lagi dampak lingkungan yang sangat serius. Data center AI dikenal sebagai konsumen energi dan air yang sangat besar. Polusi yang dihasilkan oleh pusat data AI begitu parah hingga hampir tidak dapat dipahami.
Hal ini semakin memperburuk situasi ketika wajib pajak dipaksa menanggung tagihan untuk janji-janji industri teknologi yang sangat dibesar-besarkan. Ironisnya, masyarakat yang harus membayar insentif fiskal juga harus menanggung dampak lingkungan dan tekanan pada infrastruktur lokal.
Kasus pencemaran air oleh pusat data AI Meta yang mencemari air dengan bakteri mematikan menjadi contoh nyata betapa seriusnya dampak ini.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Saat pemerintah daerah di berbagai negara berlomba-lomba menawarkan insentif untuk menarik investasi data center, penting untuk mempertanyakan secara kritis: seberapa besar manfaat nyata yang akan diterima masyarakat lokal? Data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa janji lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi seringkali tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.
Keputusan untuk memberikan insentif fiskal harus didasarkan pada analisis biaya-manfaat yang komprehensif, bukan sekadar tergiur oleh angka investasi yang fantastis. Transparansi dalam pengungkapan insentif dan kewajiban kontraktual penciptaan lapangan kerja menjadi kunci agar masyarakat tidak menjadi pihak yang dirugikan.




