JBNews.id — Pendapatan bisnis kecerdasan buatan (AI) SpaceX tumbuh lebih dari tiga kali lipat menjadi USD 2,6 miliar dari tahun sebelumnya, didorong oleh kontrak penyediaan daya komputasi untuk perusahaan AI lain. Angka tersebut terungkap dalam laporan laba kuartalan perusahaan yang dirilis pada 4 Agustus 2026.
Divisi AI yang menurut dokumen IPO perusahaan menjadi sumber nilai terbesar justru mencatat kerugian USD 1,5 miliar pada kuartal ini, sedikit lebih kecil dibandingkan kerugian pada kuartal yang sama tahun lalu. Meski demikian, ekspansi agresif di bidang AI tetap berlanjut.
Kontrak Strategis dengan Anthropic dan Google
SpaceX menandatangani kesepakatan dengan Anthropic pada Mei dan Google pada Juni untuk menyediakan daya komputasi bagi kedua perusahaan AI tersebut. Langkah ini menempatkan SpaceX dalam persaingan langsung dengan penyedia neocloud lainnya seperti CoreWeave.
Kehadiran yang semakin besar di bidang AI juga mendorong perusahaan meningkatkan belanja modal hingga mencapai USD 18,37 miliar. “Kami membangun kapasitas komputasi AI dalam skala besar lebih cepat dari siapa pun, dan kami secara signifikan meningkatkan model AI kami,” kata Elon Musk dalam panggilan investor.
Meskipun bernama SpaceX, perusahaan mengungkapkan dalam dokumen IPO bahwa mereka memperkirakan sebagian besar nilai perusahaan akan berasal dari bisnis AI. SpaceX tercatat melakukan IPO terbesar dalam sejarah pada Juni 2026.
Tiga Segmen Bisnis Utama
Perusahaan memiliki tiga segmen bisnis: antariksa, AI, dan “konektivitas” yang merupakan layanan internet Starlink. Segmen antariksa mencatat pendapatan USD 962 juta pada kuartal ini, dengan SpaceX tetap menjadi pengguna terbesar roketnya sendiri. Sementara itu, layanan Starlink membukukan pendapatan USD 4,2 miliar.
Model AI Grok milik SpaceX yang sempat menuai kontroversi karena dapat membuka pakaian wanita dan anak-anak tanpa persetujuan, tertinggal jauh dari perusahaan lain dalam persaingan AI. Oleh karena itu, sebelum IPO, SpaceX menyewakan kapasitas pusat data yang awalnya dibangun untuk kebutuhan internal.
Perusahaan juga sepakat mengakuisisi Cursor untuk mendapatkan produk AI tingkat enterprise. Akuisisi tersebut belum selesai, meskipun Musk menyatakan dalam panggilan investor bahwa mereka “sudah dekat” namun tidak ingin “mendahului” persetujuan regulasi.
Baca Juga:
Kerugian Menyempit
SpaceX masih mengalami kerugian, namun kerugian kuartal ini menyempit menjadi USD 143 juta. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Rencana ambisius Musk — termasuk pusat data di luar angkasa dan pasar pengguna yang lebih besar dari PDB AS — tidak hanya membutuhkan biaya besar di bidang AI. Biaya pengembangan teknologi di divisi antariksa juga meningkat USD 389 juta dari tahun sebelumnya, dengan Starship sebagai pendorong utama belanja.
Peran Krusial Starship
Starship menjadi kunci rencana Musk untuk memperluas bisnis konektivitas, satu-satunya segmen yang menguntungkan. Starship harus mampu meluncurkan versi satelit yang lebih berat agar bisnis internet Starlink tetap menguntungkan.
Beberapa satelit tersebut telah diproduksi, dan dalam dokumen terbaru, SpaceX menyatakan telah meluncurkan 20 di antaranya. Belum jelas seberapa jauh proses menuju peluncuran penuh — sebanyak 60 satelit sekaligus.
Meskipun SpaceX berhasil melampaui estimasi analis menurut Bloomberg, harga saham perusahaan justru menurun setelah jam perdagangan, menyusul lonjakan antusiasme awal. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih mencermati prospek jangka panjang perusahaan di tengah belanja modal yang besar.
Dengan pendapatan AI yang tumbuh pesat namun divisi tersebut masih merugi, SpaceX berada di persimpangan antara ambisi ekspansi dan kebutuhan untuk mencapai profitabilitas. Keputusan perusahaan untuk menyewakan kapasitas pusat data dan mengakuisisi Cursor menunjukkan strategi diversifikasi untuk memperkuat posisi di pasar AI yang kompetitif.
Bagi pengamat industri, perkembangan ini menjadi indikator penting bagaimana perusahaan teknologi besar berlomba membangun infrastruktur AI. Kapitalisasi pasar yang bergejolak dan dampak operasional menjadi perhatian investor.




