JBNews.id — Sebuah pabrik sosis Oscar Mayer yang sudah tidak terpakai di Wisconsin akan diubah menjadi pusat pengembangan reaktor fusi oleh perusahaan rintisan Realta Fusion. Langkah ini merupakan terobosan terbaru dalam upaya mewujudkan energi fusi sebagai sumber listrik yang menguntungkan secara komersial.
Seperti yang dilaporkan TechCrunch, Realta Fusion tengah membangun reaktor fusi di dalam pabrik sosis tua tersebut. Fasilitas yang telah direnovasi ini diberi nama Forge. Menurut salah satu pendiri sekaligus CEO Realta Fusion, Kieran Furlong, fasilitas tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2029.
Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk menguji apakah reaktor fusi benar-benar dapat menghasilkan keuntungan dengan memproduksi lebih banyak listrik daripada energi yang dibutuhkan untuk menjalankannya. “Dari sosis ke fusi,” kata Furlong kepada TechCrunch, seraya menjuluki Realta sebagai “juara negara bagian” nuklir Wisconsin.
Pemilihan lokasi pabrik sosis bekas ini bukan tanpa alasan. Perusahaan memilih situs tersebut karena aksesnya yang “cukup” terhadap pasokan listrik yang besar, serta kedekatannya dengan kantor pusat Realta yang sudah ada. Keputusan ini menunjukkan bagaimana perusahaan rintisan energi fusi mulai memanfaatkan infrastruktur industri yang sudah ada untuk mempercepat pengembangan teknologi mereka.
Terobosan dengan Teknologi WHAM
Realta Fusion baru-baru ini mencapai tonggak sejarah penting. Menurut laporan TechCrunch, perusahaan tersebut berhasil mendemonstrasikan kemampuannya untuk menghasilkan listrik menggunakan perangkat fusi yang disebut Wisconsin HTS Axisymmetric Mirror, atau WHAM. Eksperimen ini diklaim oleh Realta sebagai yang pertama dari jenisnya.
Secara sederhana, reaktor nuklir fusi bekerja dengan meniru proses yang terjadi di Matahari, yaitu menggabungkan atom-atom dalam kondisi ekstrem untuk menghasilkan energi. Namun, Realta Fusion menggunakan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan desain reaktor fusi lainnya.
WHAM milik Realta menggunakan proses baru yang disebut direct energy conversion (DEC). Teknologi ini mengekstrak listrik langsung dari partikel bermuatan yang dipancarkan oleh plasma. Ini berbeda dengan desain reaktor fusi konvensional yang menangkap panas untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

Pendekatan DEC ini berpotensi menjadi lebih efisien karena menghilangkan langkah perantara yang membutuhkan turbin mekanis. Jika berhasil, teknologi ini bisa menjadi kunci untuk membuat reaktor fusi yang lebih kecil, lebih murah, dan lebih mudah dioperasikan secara komersial.
Baca Juga:
Masa Depan Energi Fusi yang Penuh Tantangan
Meskipun hasil awal menunjukkan harapan yang besar — para ilmuwan baru-baru ini mulai membuktikan bahwa reaktor fusi memang dapat menghasilkan surplus energi — perjalanan menuju sumber energi yang terbarukan dan dapat diskalakan masih sangat panjang. Kita masih jauh dari membuktikan bahwa fusi adalah sumber listrik yang dapat diandalkan secara komersial.
Kendati demikian, hal ini tidak menghentikan pertumbuhan industri rintisan fusi yang semakin semarak. Dengan dukungan dari beberapa nama paling berpengaruh di dunia teknologi, seperti Sam Altman dari OpenAI dan Bill Gates, pendiri Microsoft, berbagai perusahaan berlomba-lomba menjanjikan alternatif yang lebih aman dibandingkan reaktor fisi nuklir konvensional.
Keunggulan utama fusi adalah ketidakmampuannya untuk mengalami bencana kehancuran inti (meltdown) yang katastrofik seperti yang terjadi pada reaktor fisi. Hal ini membuat fusi menjadi opsi yang sangat menarik di tengah kekhawatiran publik terhadap keselamatan tenaga nuklir.
Bahkan pabrik sosis tua pun menjadi lahan yang sah bagi perusahaan seperti Realta Fusion untuk mengejar ide ambisius mereka. Fenomena ini menunjukkan bagaimana inovasi energi bersih mulai merambah ke sektor-sektor yang tidak terduga, memanfaatkan aset-aset industri yang sudah ada untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Realta Fusion sendiri saat ini tengah fokus pada pengembangan lebih lanjut dari teknologi WHAM mereka. Uji coba di fasilitas Forge yang akan dimulai pada 2029 akan menjadi titik penentu apakah teknologi ini layak untuk dikomersialkan secara luas.
Semakin banyak investor dan perusahaan teknologi besar yang melirik potensi energi fusi. Tom Hanks Khawatir dengan perkembangan AI, namun di sisi lain, pendanaan untuk riset energi bersih seperti fusi justru terus mengalir deras dari para miliarder teknologi.
Jika Realta Fusion berhasil membuktikan bahwa reaktor fusi dapat menghasilkan keuntungan, ini akan menjadi titik balik dalam sejarah energi global. Dunia mungkin akan segera memiliki sumber listrik yang hampir tidak terbatas, bersih, dan aman — dimulai dari sebuah pabrik sosis tua di Wisconsin.




