JBNews.id — Virgin Media O2, operator telekomunikasi di Inggris Raya, mengumumkan rencana untuk mematikan jaringan 2G pada tahun 2029. Langkah ini diambil untuk memfokuskan investasi pada pengembangan jaringan 4G dan 5G.
Jaringan 2G pertama kali diluncurkan pada tahun 1993 dan telah menghubungkan berbagai perangkat, mulai dari ponsel, sistem alarm, hingga perangkat kesehatan. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, operator memutuskan untuk menghentikan layanan lawas tersebut.
Dikutip dari Mirror, Rabu (1/7/2026), penutupan jaringan yang direncanakan pada tahun 2029 diharapkan dapat memberi pelanggan dan bisnis waktu yang cukup untuk mempersiapkan dan meningkatkan perangkat apa pun yang masih bergantung pada 2G. Ini merupakan langkah strategis untuk memastikan transisi yang mulus bagi semua pengguna.
Kabar baik datang dari penutupan ini. Virgin Media O2 menyatakan bahwa penghentian jaringan 2G akan memungkinkan mereka untuk memfokuskan investasi pada perluasan dan peningkatan jaringan 4G dan 5G. Perusahaan mengharapkan peningkatan ini akan memberikan kecepatan yang lebih cepat, koneksi yang lebih andal, serta konsumsi energi yang lebih rendah bagi para pelanggan.
Untuk mendukung transformasi ini, O2 menginvestasikan dana sebesar GBP 700 juta atau setara Rp 16.578 triliun pada tahun ini. Investasi besar-besaran ini bertujuan untuk mentransformasi jaringan seluler mereka dan memastikan jaringan tersebut dapat mengimbangi pertumbuhan permintaan konsumen yang terus meningkat.
“Saat kami menatap masa depan, kami akan mematikan jaringan 2G lama sehingga kami dapat lebih fokus pada penyediaan layanan seluler 4G dan 5G yang andal dan efisien kepada semua pelanggan sesuai harapan mereka,” ujar Jeanie York, Chief Technology Officer di Virgin Media O2.
Setelah baru-baru ini mematikan jaringan 3G dan menandatangani piagam penghentian 2G pemerintah, O2 mengaku telah memiliki pengalaman yang cukup untuk melakukan proses ini secara bertanggung jawab tanpa mengganggu pelanggan. Meskipun sebagian besar pelanggan tidak perlu melakukan tindakan apa pun, beberapa bisnis mungkin perlu mulai merencanakan informasi ini dari sekarang.
“Kami akan berkomunikasi langsung dengan pelanggan dan memastikan kami mendukung semua orang selama peningkatan penting ini berlangsung,” tambah York.
Keputusan Virgin Media O2 ini menjadi sinyal kuat bagi industri telekomunikasi global, termasuk di Indonesia. Di Tanah Air, pemerintah dan operator seluler juga terus mendorong migrasi ke jaringan yang lebih modern. Proses transisi ini membutuhkan koordinasi yang matang antara regulator dan operator. Sebagai gambaran, di Indonesia sendiri, lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang melibatkan tiga operator menjadi bukti keseriusan dalam meningkatkan kualitas jaringan.
Langkah Virgin Media O2 juga berpotensi mempengaruhi kebijakan operator lain di Eropa dan dunia. Dengan mematikan jaringan 2G, spektrum frekuensi yang sebelumnya digunakan untuk teknologi tersebut dapat dialokasikan ulang untuk layanan 4G dan 5G yang lebih efisien dan berkecepatan tinggi.
Meskipun jaringan 2G sudah sangat tua, masih ada sejumlah perangkat yang bergantung padanya, terutama di sektor industri dan perangkat Internet of Things (IoT) lama. Oleh karena itu, masa transisi hingga tahun 2029 dianggap cukup untuk memigrasikan perangkat-perangkat tersebut ke teknologi yang lebih baru.
Dari sisi bisnis, investasi sebesar Rp 16.578 triliun yang digelontorkan O2 merupakan bukti komitmen jangka panjang mereka terhadap infrastruktur digital modern. Langkah ini sejalan dengan strategi operator global yang mulai meninggalkan teknologi lama untuk mengejar efisiensi dan kapasitas yang lebih besar.
Di Indonesia, wacana serupa juga pernah mencuat. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebelumnya telah mengungkapkan nasib jaringan 2G di Indonesia. Regulator dan operator terus berdiskusi mengenai waktu yang tepat untuk melakukan sunset 2G, mengingat masih banyaknya pengguna di daerah terpencil yang bergantung pada teknologi tersebut.
Baca Juga:
Keputusan Virgin Media O2 untuk mematikan jaringan 2G pada 2029 memberikan gambaran tentang masa depan industri telekomunikasi. Teknologi lama harus digantikan oleh yang baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan konektivitas yang lebih cepat, stabil, dan efisien. Bagi para pelaku bisnis yang masih menggunakan perangkat berbasis 2G, saatnya untuk mulai merencanakan migrasi agar tidak tertinggal dalam transformasi digital global.
Langkah operator Inggris ini juga menjadi pelajaran berharga bagi operator di negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola transisi teknologi secara bertanggung jawab. Dengan komunikasi yang baik kepada pelanggan dan persiapan yang matang, penghentian jaringan lama dapat dilakukan tanpa menimbulkan gangguan yang signifikan.
Ke depannya, fokus utama operator seperti Virgin Media O2 adalah memastikan bahwa investasi pada frekuensi 700 MHz dan teknologi 5G dapat memberikan dampak maksimal bagi masyarakat. Ini adalah langkah maju yang tidak bisa dihindari dalam era digital yang terus berkembang.




