JBNews.id — Administrator National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), Jonathan Morrison, mengeluarkan peringatan keras kepada pengembang kendaraan otonom (AV) setelah menemukan “pola yang jelas” dari gangguan terhadap operasi petugas tanggap darurat. Dalam surat yang disebutnya sebagai “seruan untuk bertindak” bagi para pengembang teknologi, Morrison menegaskan bahwa kendaraan otonom yang tidak dapat berinteraksi secara aman dengan petugas pertama merupakan bahaya bagi masyarakat umum.
Surat tersebut dirilis setelah NHTSA mendokumentasikan serangkaian insiden dalam beberapa bulan terakhir. Insiden-insiden itu mencakup kendaraan otonom yang melaju ke lokasi kejadian darurat yang aktif, menghalangi ambulans dan petugas pemadam kebakaran, serta tidak merespons situasi yang melibatkan lampu kilat, api, dan kerucut lalu lintas. Morrison mengarahkan para pengembang untuk “segera memfokuskan sumber daya mereka untuk memperbaiki masalah ini,” dan mengatakan bahwa NHTSA akan menjadwalkan pertemuan dengan masing-masing perusahaan pada akhir Juli untuk mendengar solusi yang ditawarkan.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keselamatan robotaxi yang beroperasi di jalan raya. Baik Waymo maupun Zoox, dua perusahaan terkemuka di bidang ini, tidak menanggapi permintaan komentar dari WIRED. Sementara itu, pejabat dari beberapa departemen penegak hukum dan pemadam kebakaran kota telah menyampaikan keluhan langsung kepada perwakilan NHTSA dalam pertemuan tertutup awal tahun ini, seperti yang dilaporkan WIRED pada bulan April.
Keluhan Petugas Lapangan
Salah satu kepala pemadam kebakaran menyebut perilaku kendaraan dalam situasi tersebut sebagai “masalah keselamatan bagi kru kami dan juga para korban.” Seorang pejabat San Francisco bahkan mengatakan kepada badan tersebut bahwa teknologi Waymo mengalami “kemunduran.” Kepala pemadam kebakaran kota itu menambahkan, “Waymo sering kali sekarang menghalangi akses ke stasiun pemadam kebakaran kami.”
Perwakilan dari departemen kepolisian Austin juga melaporkan bahwa Waymo cenderung membeku dalam situasi sulit, dan kendaraan tersebut sering gagal merespons isyarat tangan petugas dalam keadaan darurat. “Saya percaya teknologi itu dikerahkan terlalu cepat dan dalam jumlah yang terlalu besar, dengan ratusan kendaraan, padahal belum benar-benar siap,” kata seorang pejabat polisi Austin, menurut rekaman audio pertemuan yang diperoleh WIRED.
Petugas tanggap darurat Austin juga muncul dalam pertemuan Dewan Kota terpisah musim semi ini untuk membahas bagaimana sebuah robotaxi Waymo menghalangi ambulans selama dua menit saat mencoba merespons penembakan massal di pusat kota yang menewaskan tiga orang dan melukai setidaknya 14 orang. Insiden ini menyoroti risiko fatal yang dapat ditimbulkan oleh kegagalan teknologi otonom dalam situasi kritis.
Dalam suratnya minggu ini, Morrison mengatakan badan tersebut akan “terus menggunakan wewenang penegakan hukum kami untuk pengembang yang tidak mengatasi masalah keselamatan yang signifikan.” NHTSA telah mengeluarkan beberapa recall terkait teknologi kendaraan otonom dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dua yang berkaitan dengan perilaku Waymo di jalan banjir dan dekat zona konstruksi, serta satu lagi terkait robotaxi Zoox yang berhenti di depan lalu lintas yang mendekat. Perusahaan-perusahaan tersebut melaporkan bahwa kedua masalah telah diselesaikan melalui pembaruan perangkat lunak.
Sebuah distrik sekolah di Austin juga bekerja sama dengan Waymo untuk melatih kendaraannya agar berhenti untuk bus sekolah, meskipun perbaikan itu tidak langsung berhasil. Tantangan ini menunjukkan bahwa bahkan setelah intervensi manusia, sistem kecerdasan buatan pada kendaraan otonom masih memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan skenario dunia nyata yang kompleks.
Di sisi lain, dalam siaran pers pada hari Rabu, NHTSA juga mempromosikan upaya pemerintahan Trump untuk melonggarkan peraturan yang mencegah lebih banyak kendaraan otonom beroperasi di jalan umum. Bulan lalu, sebagai keuntungan bagi pengembang robotaxi khusus seperti Tesla dan Zoox, badan tersebut mempermudah perusahaan untuk mengerahkan kendaraan yang tidak memenuhi standar keselamatan kendaraan bermotor karena tidak memiliki setir, rem yang dioperasikan pengemudi, atau kaca spion.
Implikasi bagi Industri dan Publik
Langkah NHTSA ini menciptakan ketegangan yang jelas antara dorongan untuk inovasi dan kebutuhan mendesak akan keselamatan publik. Di satu sisi, regulator ingin mempercepat adopsi teknologi otonom yang diyakini dapat mengurangi kecelakaan akibat kesalahan manusia. Di sisi lain, bukti lapangan menunjukkan bahwa teknologi ini belum cukup matang untuk beroperasi berdampingan dengan petugas darurat tanpa menimbulkan risiko baru.
Bagi pengguna jalan biasa, situasi ini berarti bahwa meskipun robotaxi mungkin menawarkan kemudahan, mereka juga dapat menjadi hambatan tak terduga dalam situasi darurat. Bayangkan skenario di mana ambulans yang membawa pasien kritis terhalang oleh kendaraan tanpa pengemudi yang tidak tahu harus berpindah ke mana. Ini bukan lagi skenario fiksi ilmiah, melainkan realitas yang telah didokumentasikan oleh otoritas keselamatan tertinggi di Amerika Serikat.
Perkembangan ini juga relevan bagi industri teknologi di Indonesia. Meskipun adopsi kendaraan otonom di Indonesia masih dalam tahap awal, pelajaran dari pengalaman AS dapat menjadi peringatan berharga. Perusahaan seperti Vivo Y500 yang baru saja merilis ponsel dengan baterai besar, atau Lenovo IdeaTab Pro Gen 2 dengan fitur AI, menunjukkan bahwa teknologi cerdas semakin merasuk ke berbagai aspek kehidupan. Namun, ketika teknologi itu diterapkan pada kendaraan yang bergerak di ruang publik, konsekuensi dari kegagalannya jauh lebih serius.
Pertemuan yang dijadwalkan NHTSA dengan masing-masing perusahaan pengembang pada akhir Juli akan menjadi momen krusial. Hasil dari pertemuan tersebut tidak hanya akan menentukan masa depan operasi Waymo dan Zoox, tetapi juga akan membentuk kerangka regulasi untuk seluruh industri kendaraan otonom global. Jika regulator memutuskan untuk bertindak tegas, ini bisa memperlambat laju peluncuran robotaxi di kota-kota lain di seluruh dunia.
Bagi konsumen yang penasaran dengan teknologi AI, penting untuk diingat bahwa tidak semua kecerdasan buatan diciptakan sama. Seperti yang dibahas dalam artikel tentang Cara Buat iPhone Jadi Dumb Phone, teknologi harus digunakan dengan bijak dan sesuai konteks. Dalam kasus kendaraan otonom, konteksnya adalah keselamatan jiwa manusia.
Pada akhirnya, peringatan NHTSA ini adalah pengingat bahwa inovasi tanpa pengujian yang memadai dapat berakibat fatal. Data dari berbagai kota menunjukkan pola yang konsisten: robotaxi masih kesulitan membaca situasi darurat yang kompleks. Sampai masalah fundamental ini teratasi, kehadiran kendaraan otonom di jalan raya akan terus menjadi perdebatan antara kemajuan teknologi dan keselamatan publik.




