NASA dan SpaceX Kunci Kembalinya Manusia ke Bulan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi misi pendaratan manusia di Bulan oleh NASA dan SpaceX
  • NASA baru mengumumkan kru Artemis III yang akan terbang ke Bulan pada 2027
  • Terakhir kali manusia mendarat di Bulan pada Desember 1972 (Apollo 17)
  • Kendala utama: belum ada wahana yang bisa mendaratkan manusia di Bulan
  • SpaceX mengembangkan HLS Starship sebagai kendaraan pendarat
  • Tantangan teknis: pengisian bahan bakar di luar angkasa dengan 11 kapal
  • Penundaan pengembangan sekitar dua tahun, target pendaratan mundur ke 2028
  • Administrator NASA Jared Isaacman optimis tentang masa depan eksplorasi antariksa

JBNews.id — Sudah lebih dari setengah abad sejak manusia terakhir menginjakkan kaki di Bulan pada Desember 1972 lewat misi Apollo 17. Kini, NASA baru saja mengumumkan kru Artemis III yang dijadwalkan terbang ke Bulan pada 2027. Pertanyaan besarnya: mengapa butuh waktu selama itu untuk kembali?

Jawaban utamanya bukan sekadar kemauan, melainkan kesiapan teknologi dan kendaraan. NASA menegaskan bahwa prioritas tertinggi adalah keselamatan astronaut. Namun, kendala terbesar justru terletak pada ketiadaan wahana yang mampu membawa manusia mendarat di permukaan Bulan.

Menurut laporan IFLScience yang dikutip Kamis (11/6/2026), kapsul Orion yang membawa awak Artemis II mengelilingi Bulan tidak dirancang untuk mendarat. Solusi yang sedang dikembangkan adalah menghadirkan kendaraan terpisah buatan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, yang akan menunggu di orbit Bulan.

Badan Antariksa Eropa (ESA) menjelaskan bahwa Orion akan berlabuh dengan Sistem Pendaratan Manusia (HLS) Starship milik SpaceX. Starship akan menunggu di orbit yang membawanya relatif dekat ke Bulan setiap enam setengah hari. Modul Layanan Eropa ESA kembali memegang peran vital dalam mendukung Orion, menunjukkan kontribusi Eropa yang abadi di jantung program Artemis.

Orbit yang digunakan dalam misi ini disebut Near Rectilinear Halo Orbit (NRHO). Orbit ini membawa wahana antariksa mendekat ke permukaan Bulan, lalu terbang menjauh dalam pola elips memanjang. Konsep ini ambisius, tetapi realisasinya masih menghadapi hambatan besar.

Tantangan Teknis dan Penundaan

Dalam pembaruan pada Maret lalu, inspektur jenderal NASA mengungkapkan bahwa telah terjadi penundaan pengembangan sekitar dua tahun untuk wahana HLS. Masalah utamanya adalah kebutuhan pengisian bahan bakar di luar angkasa. Starship perlu diisi bahan bakar oleh sekitar 11 kapal pengisian bahan bakar yang harus berlabuh dengan HLS — sebuah operasi yang belum pernah dilakukan dalam skala sebesar itu.

NASA saat ini khawatir bahwa teknologi untuk mentransfer propelan kriogenik ‘tidak akan cukup matang’ menjelang pendaratan yang ditargetkan pada 2028. Ini menjadi salah satu hambatan kritis yang harus diatasi sebelum manusia bisa kembali berpijak di Bulan.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Artemis III tetap menjadi langkah kecil namun signifikan menuju pendaratan di Bulan. Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan optimisme tentang masa depan eksplorasi luar angkasa.

“Bayangkan berapa banyak pesawat ruang angkasa, yang semuanya pada akhirnya akan membawa manusia, akan berada di orbit pada waktu yang bersamaan, dari Dragon, Shenzhou, Soyuz, mungkin Starliner, Starship, dan wahana pendarat Blue Origin,” ujar Isaacman dalam pernyataan resmi.

“Ini tampak seperti awal dari masa depan yang kita bayangkan saat masih kecil. Ini tampak seperti awal mula Starfleet pertama Bumi bagi saya,” tandasnya.

Implikasi bagi Industri Antariksa

Kembalinya manusia ke Bulan bukan hanya soal prestasi ilmiah, tetapi juga memiliki dampak ekonomi dan geopolitik yang luas. Keberhasilan Artemis III akan membuka jalan bagi misi berawak ke Mars dan eksplorasi ruang angkasa yang lebih dalam. Di sisi lain, keterlibatan perusahaan swasta seperti SpaceX menunjukkan pergeseran model bisnis eksplorasi antariksa menuju kemitraan publik-swasta yang lebih erat.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi di sektor teknologi antariksa. Negara-negara yang mampu menguasai teknologi ini akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat di panggung global. Sementara itu, perusahaan teknologi dalam negeri juga bisa belajar dari model kolaborasi NASA-SpaceX untuk mengembangkan inovasi di sektor lain, seperti pabrik chip AI yang membutuhkan standar kebersihan ketat.

Meskipun target pendaratan Artemis III mundur hingga 2028, komitmen NASA dan mitranya tidak surut. Dengan pengumuman kru resmi pada Juni 2026, misi ini memasuki tahap persiapan yang lebih konkret. Dunia menanti apakah ambisi untuk kembali ke Bulan akhirnya akan terwujud setelah lebih dari lima dekade.

Bagi para penggemar antariksa, perkembangan ini juga memicu diskusi tentang masa depan eksplorasi. Tren seperti regulasi AI di Eropa atau strategi hibrida Xbox mungkin tidak terkait langsung, namun semuanya mencerminkan bagaimana teknologi mengubah lanskap global dengan cepat.

Ilustrasi misi Artemis III NASA

Pada akhirnya, kembali ke Bulan bukan sekadar perjalanan nostalgia, melainkan fondasi bagi masa depan eksplorasi antariksa umat manusia. Setiap penundaan, meskipun mengecewakan, adalah bagian dari proses memastikan bahwa langkah berikutnya aman dan berkelanjutan.