Microsoft Siapkan PHK Massal Xbox dan Tutup Lima Studio

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
Logo Microsoft Xbox dengan latar belakang gelap dan efek cahaya neon hijau
  • Microsoft siapkan PHK besar-besaran di divisi Xbox mulai 6 Juli 2026
  • Perusahaan pertimbangkan tutup lima studio termasuk Arkane Studios pengembang Marvel's Blade
  • Proyek game Marvel's Blade kemungkinan dibatalkan karena mundur jadwal ke 2027 dan over budget
  • Microsoft juga jajaki penjualan Arkane Studios, Compulsion Games, Double Fine, Ninja Theory, dan Undead Labs
  • PHK ini bagian dari strategi 'reset' divisi Xbox di bawah CEO baru Asha Sharma
  • Potensi 1.000 PHK dengan 500 karyawan terdampak dari penutupan studio saja

JBNews.id — Microsoft dikabarkan akan mengumumkan gelombang PHK besar-besaran untuk divisi Xbox dan studio gamenya pada pekan depan. Langkah ini diproyeksikan mencakup penutupan atau pemisahan studio, merger studio potensial, serta pembatalan sejumlah proyek game yang sedang dikembangkan.

Menurut sumber yang mengetahui rencana Microsoft, perusahaan saat ini sedang mempertimbangkan untuk menutup setidaknya lima studio. Salah satu studio yang terancam adalah pengembang di balik game Marvel’s Blade. Sumber menyebut Microsoft ingin membatalkan proyek Blade sebagai bagian dari gelombang pemotongan biaya dan PHK yang direncanakan untuk divisi Xbox.

Blade dikembangkan oleh Arkane Studios yang berbasis di Prancis, studio yang dikenal lewat seri Dishonored. Game ini awalnya dijadwalkan rilis pada akhir tahun ini, namun menurut sumber yang mengetahui pengembangan game tersebut, jadwal internal peluncurannya mundur ke akhir 2027 dan mengalami pembengkakan anggaran.

Selain mempertimbangkan pembatalan Blade, Microsoft juga tengah menjajaki opsi untuk menjual Arkane Studios. Bloomberg melaporkan awal bulan ini bahwa Microsoft berusaha memisahkan Compulsion Games, Double Fine, dan Ninja Theory. GamesBeat juga melaporkan pekan ini bahwa Microsoft secara aktif mencari pembeli untuk Undead Labs, pengembang di balik State of Decay.

Jika ditemukan pembeli untuk studio-studio ini, maka mereka akan terhindar dari penutupan. Namun, sumber menekankan bahwa negosiasi tersebut bisa memakan waktu berbulan-bulan dalam beberapa kasus. Compulsion Games, pengembang di balik South of Midnight, sudah yakin bahwa penutupan sudah dekat dan mulai memberi tahu karyawan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Karyawan Ninja Theory diberi tahu awal bulan ini bahwa Microsoft ingin menutup studio yang berbasis di Inggris itu atau memisahkannya.

Di luar potensi penutupan studio, Microsoft juga sedang mempersiapkan gelombang PHK di Xbox yang secara drastis akan mengubah bentuk divisi gamenya. PHK ini dijadwalkan mulai pada 6 Juli, menurut sumber, dan akan berdampak pada sebagian besar bagian Xbox. Rumor menyebutkan setidaknya ada 1.000 PHK, dan jika Microsoft melanjutkan penutupan lima studio, maka setidaknya 500 karyawan akan terdampak sebelum pemotongan yang lebih luas.

PHK Sebagai Bagian dari ‘Reset’ Divisi Xbox

PHK yang akan datang ini merupakan bagian dari ‘reset’ divisi Xbox di bawah CEO baru Asha Sharma, yang mengisyaratkan tentang “membuat keputusan sulit” bulan lalu. Sharma berulang kali memperingatkan bahwa bisnis Xbox tidak sehat, namun juga mengklaim bahwa mandatnya bukanlah margin akuntabilitas 30 persen, melainkan menjadi perusahaan game dan hiburan nomor satu.

Pernyataan Sharma ini memberikan konteks penting mengenai arah strategis Microsoft ke depan. Perusahaan tampaknya tidak hanya fokus pada efisiensi biaya jangka pendek, tetapi juga pada posisi kompetitif jangka panjang di industri game global. Langkah drastis ini menunjukkan bahwa Microsoft bersedia melakukan restrukturisasi besar-besaran untuk mencapai ambisi tersebut.

Dampak dari PHK ini diperkirakan akan terasa luas, tidak hanya bagi karyawan yang terkena dampak langsung, tetapi juga bagi ekosistem pengembangan game secara keseluruhan. Penutupan studio seperti Arkane dan Ninja Theory, yang memiliki reputasi kuat dalam mengembangkan game berkualitas tinggi, dapat mengubah lanskap industri game.

Dampak pada Proyek Game dan Karyawan

Pembatalan Marvel’s Blade menjadi salah satu dampak paling signifikan dari gelombang PHK ini. Game yang diumumkan dengan antusiasme tinggi ini kini terancam batal rilis. Sumber menyebutkan bahwa jadwal internal game tersebut sudah mundur ke akhir 2027 dan mengalami pembengkakan anggaran, yang menjadi alasan utama Microsoft mempertimbangkan pembatalannya.

Sementara itu, nasib studio-studio game lain masih belum jelas. Compulsion Games, pengembang South of Midnight, sudah mulai memberi tahu karyawan untuk mencari pekerjaan di tempat lain, menandakan bahwa penutupan studio tersebut dianggap sudah dekat. Ninja Theory, yang berbasis di Inggris, juga diberi tahu tentang rencana penutupan atau pemisahan.

Undead Labs, pengembang State of Decay, sedang dalam proses mencari pembeli. Jika tidak ada pembeli yang ditemukan, studio ini juga berpotensi ditutup. Proses pencarian pembeli ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi karyawan di studio-studio tersebut.

PHK yang dijadwalkan mulai 6 Juli ini akan menjadi salah satu gelombang PHK terbesar di industri game tahun ini. Dengan potensi 1.000 PHK dan penutupan lima studio, dampaknya akan terasa di seluruh divisi Xbox. Perubahan drastis ini menunjukkan bahwa Microsoft sedang melakukan transformasi besar-besaran pada bisnis gamenya.

Bagi para penggemar Xbox, perubahan ini juga berarti kemungkinan perubahan pada jajaran game yang akan dirilis di masa depan. Pembatalan proyek seperti Marvel’s Blade dan potensi penutupan studio-studio pengembang dapat mempengaruhi portofolio game eksklusif Xbox. Namun, Microsoft tampaknya lebih memilih untuk melakukan restrukturisasi sekarang demi posisi yang lebih kuat di masa depan.

Langkah Microsoft ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri game, di mana perusahaan-perusahaan besar melakukan efisiensi dan restrukturisasi untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Dengan pendapatan yang terus tumbuh namun margin yang tipis, perusahaan game dituntut untuk membuat keputusan sulit demi keberlanjutan bisnis.

Para analis industri akan mengamati dengan cermat bagaimana PHK ini mempengaruhi posisi kompetitif Xbox di pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, Xbox telah berinvestasi besar-besaran dalam layanan berlangganan Game Pass dan akuisisi studio. Kini, perusahaan tampaknya sedang mengevaluasi kembali strategi tersebut dan melakukan penyesuaian yang diperlukan.

Bagi karyawan yang terkena dampak, situasi ini tentu sangat menegangkan. Dengan PHK yang dijadwalkan mulai pekan depan, banyak karyawan yang masih menunggu kepastian mengenai nasib mereka. Microsoft sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana PHK ini, namun sumber-sumber internal mengonfirmasi bahwa persiapan sedang berlangsung.

Implikasi dari langkah ini bagi masa depan Xbox masih belum sepenuhnya jelas. Namun, satu hal yang pasti: Microsoft sedang melakukan perubahan besar-besaran pada divisi gamenya, dan dampaknya akan dirasakan oleh seluruh ekosistem Xbox, mulai dari pengembang game hingga para pemain. Keputusan sulit yang diambil sekarang diharapkan dapat membawa Xbox menuju posisi yang lebih kuat di masa depan.

Perubahan kepemimpinan di bawah CEO baru Asha Sharma tampaknya menjadi katalis utama di balik restrukturisasi ini. Sharma, yang mengambil alih kepemimpinan Xbox beberapa bulan lalu, telah memberikan isyarat tentang perlunya perubahan besar. Pernyataannya tentang “membuat keputusan sulit” kini mulai terwujud dalam bentuk PHK dan penutupan studio.

Meskipun langkah ini terlihat drastis, beberapa analis melihatnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan bisnis Xbox dalam jangka panjang. Dengan biaya pengembangan game yang terus meningkat dan persaingan yang semakin ketat dari Sony dan Nintendo, Microsoft perlu memastikan bahwa sumber dayanya dialokasikan secara efisien.

Bagi para pemain, perubahan ini mungkin berarti penundaan atau pembatalan beberapa game yang sudah diumumkan. Namun, Microsoft berharap bahwa dengan melakukan restrukturisasi sekarang, mereka dapat fokus pada pengembangan game-game yang lebih berkualitas dan menguntungkan di masa depan.

Keputusan Microsoft untuk memisahkan atau menjual beberapa studio juga menunjukkan perubahan strategi dalam pendekatan pengembangan game. Alih-alih memiliki semua studio secara internal, Microsoft mungkin akan lebih fokus pada kemitraan dan penerbitan game dari pengembang independen. Pendekatan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dan mengurangi risiko finansial.

Seiring dengan perkembangan situasi ini, para pemangku kepentingan di industri game akan terus memantau langkah-langkah Microsoft selanjutnya. PHK besar-besaran ini bisa menjadi awal dari gelombang restrukturisasi yang lebih luas di industri game, terutama jika perusahaan-perusahaan lain mengikuti jejak Microsoft dalam melakukan efisiensi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak PHK ini terhadap harga konsol dan game, Anda dapat membaca artikel tentang kenaikan harga Xbox Series yang mungkin terkait dengan strategi efisiensi perusahaan.