JBNews.id — Microsoft telah menggelontorkan dana hampir USD 80 miliar atau sekitar Rp 1.442 triliun dalam satu dekade terakhir untuk menghidupkan kembali divisi Xbox dan layanan Game Pass. Hasilnya? Target 77 juta pelanggan Game Pass pada akhir tahun fiskal 2026 hanya tercapai 30 juta, turun 4 juta dari laporan sebelumnya.
Laporan Bloomberg, Kamis (9/7/2026), mengungkapkan bahwa investasi besar-besaran ini merupakan inisiatif di bawah kepemimpinan sebelumnya. CEO Xbox, Asha Sharma, mengakui bahwa upaya tersebut memang menghasilkan nilai berarti bagi perusahaan, tetapi tidak cukup untuk menutupi pertumbuhan yang ditargetkan.
Angka tersebut menjadi pukulan telak bagi strategi gaming Microsoft. Dari target ambisius 77 juta pelanggan, realisasi hanya 30 juta. Jumlah ini bahkan lebih rendah 4 juta pelanggan dibandingkan laporan terakhir Microsoft terkait layanan Game Pass. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan karyawan Xbox.
Baca Juga:
Kenaikan Harga dan Pembatalan Massal
Kepala strategi Xbox, Matthew Ball, mengungkapkan pada Juni 2026 bahwa “jutaan” orang membatalkan langganan Game Pass. Pemicunya adalah kenaikan harga hingga 50% yang diumumkan pada Oktober 2025. Strategi berlangganan untuk periode tertentu dengan akses bebas memainkan game apa pun di dalamnya, ternyata belum berhasil menarik minat gamer.
Analis Circana, Mat Piscatella, memberikan analisis tajam tentang kegagalan ini. Menurutnya, Game Pass gagal karena Fortnite dan sejumlah game lain dengan strategi serupa lebih berhasil menahan gamer memainkannya lebih lama dan mendorong pembelian di dalam permainan.
“Masalah dengan Game Pass bukanlah layanannya sendiri, melainkan tujuan untuk menjual langganan dan layanan, seperti yang diincar Microsoft di seluruh bisnisnya saat itu. Call of Duty diluncurkan di Game Pass dan tidak secara signifikan meningkatkan jumlah pelanggan, dan hanya berdampak kecil pada penjualan perangkat keras. Dan hanya itu saja,” katanya.
Belanja Akuisisi Raksasa
Pengeluaran sebesar USD 80 miliar sebagian besar berasal dari akuisisi besar-besaran. Microsoft membeli Activision Blizzard senilai USD 75,4 miliar dan ZeniMedia USD 7,5 miliar. Selain itu, perusahaan juga mengakuisisi pengembang seperti Ninja Theory, Obsidian, dan Double Fine.
Langkah ini merupakan inisiatif mantan eksekutif Xbox, Phil Spencer, untuk meningkatkan basis studio guna menciptakan lebih banyak game yang dapat dimainkan oleh anggota Game Pass. Bloomberg juga melaporkan bahwa mantan presiden Xbox, Sarah Bond, adalah pemimpin strategi Game Pass. Microsoft mengeluarkan USD 1 miliar setiap tahun untuk kesepakatan game pihak ketiga demi meyakinkan orang mendaftar Game Pass.
Upaya lain untuk memperluas Game Pass termasuk menawarkannya kepada basis pengguna PC yang besar dan pasar streaming. Namun, hasilnya tetap mengecewakan. Bug Windows 11 yang sempat menjadi perhatian publik juga menambah daftar tantangan yang dihadapi Microsoft tahun ini.
Bagi pengamat industri, kegagalan ini menunjukkan bahwa strategi akuisisi besar tidak selalu menjamin kesuksesan layanan berlangganan. Meskipun Microsoft memiliki portofolio game yang kuat setelah mengakuisisi Activision Blizzard—pemilik waralaba seperti Call of Duty—daya tarik Game Pass tetap tidak mampu menyaingi game-game free-to-play seperti Fortnite yang mendominasi pasar.
Implikasinya jelas: Microsoft harus memikirkan ulang strategi gaming mereka secara fundamental. Target 77 juta pelanggan yang gagal tercapai, ditambah dengan penurunan 4 juta pelanggan, menjadi sinyal bahwa model bisnis Game Pass membutuhkan perubahan besar. Sementara itu, para pemegang saham dan karyawan Xbox menunggu langkah konkret dari manajemen baru di bawah kepemimpinan Asha Sharma.
Kegagalan ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri game global: investasi miliaran dolar tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan pelanggan yang diharapkan. Faktor seperti harga, konten eksklusif, dan kebiasaan konsumen menjadi variabel yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kekuatan finansial.




