Meta Kembangkan Aplikasi Prediksi Arena, Tiru Polymarket

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Foto CEO Meta Mark Zuckerberg menghadiri acara UFC Freedom 250 di Gedung Putih
  • Meta mengembangkan aplikasi prediksi bernama Arena yang meniru platform seperti Polymarket dan Kalshi
  • Arena menggunakan sistem poin bergaya video game, bukan uang sungguhan, namun Meta tidak menutup kemungkinan taruhan uang asli di masa depan
  • Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran para ahli akan lonjakan kecanduan judi akibat platform prediksi pasar
  • Ini bukan pertama kalinya Meta bermain di ranah prediksi - sebelumnya gagal dengan aplikasi Forecast
  • Sumber internal memperingatkan Arena masih dalam pengembangan dan mungkin tidak akan diluncurkan
  • Meta juga mengembangkan aplikasi pembuat foto berbasis AI di samping Arena
  • Tanpa janji keuntungan finansial, Arena dinilai akan sulit menarik minat pengguna

JBNews.id — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, tengah mengembangkan aplikasi prediksi bertajuk “Arena” yang menyerupai platform prediksi pasar seperti Polymarket dan Kalshi. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran para ahli akan lonjakan kecanduan judi akibat maraknya platform sejenis.

Informasi tersebut diungkap oleh dua karyawan Meta yang mengetahui langsung masalah ini kepada The New York Times. Menurut mereka, Arena tidak akan menggunakan uang sungguhan, melainkan sistem poin yang menyerupai permainan video. Namun, Meta tidak menutup kemungkinan untuk mengizinkan pengguna bertaruh dengan uang asli di masa mendatang.

Keputusan Meta untuk terjun ke bisnis aplikasi prediksi ini dinilai sebagai upaya CEO Mark Zuckerberg untuk mencari ide-ide baru demi tetap relevan di industri teknologi yang berubah cepat. Selama ini, aplikasi media sosial Meta telah berjuang mempertahankan relevansi dan pertumbuhan pengguna, meskipun masih menjangkau miliaran pengguna di seluruh dunia.

Popularitas platform prediksi pasar seperti Polymarket dan Kalshi telah meledak dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli memperingatkan bahwa platform-platform ini telah secara masif menurunkan hambatan masuk bagi perjudian bermasalah, memungkinkan hampir semua orang untuk mempertaruhkan uang hasil jerih payah mereka pada berbagai peristiwa, mulai dari hasil perang hingga pemenang Piala Dunia.

Namun, pendekatan Meta dengan Arena justru dianggap membingungkan. Tanpa janji keuntungan finansial yang cepat, daya tarik utama platform prediksi pasar menjadi hilang. Sistem poin bergaya video game dinilai tidak akan mampu menarik minat pengguna seperti halnya taruhan uang sungguhan.

Ini bukan pertama kalinya Meta bermain di ranah prediksi. Pada awal pandemi COVID-19, perusahaan meluncurkan “Forecast,” sebuah aplikasi prediksi berbasis crowdsourcing yang tidak pernah benar-benar populer. Belum diketahui apakah Arena akan bernasib lebih baik jika benar-benar diluncurkan.

Selain aplikasi prediksi, Meta juga dikabarkan sedang mengembangkan aplikasi pembuat foto berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, sumber internal memperingatkan bahwa Arena masih dalam tahap pengembangan dan mungkin tidak akan pernah diluncurkan ke publik.

Keputusan Meta untuk mengembangkan Arena menambah panjang daftar produk-produk yang gagal dari perusahaan tersebut. Mulai dari mata uang kripto yang gagal, membayar selebriti jutaan dolar untuk mengubah mereka menjadi chatbot AI, hingga dunia “metaverse” kartun yang dipenuhi anak-anak berteriak.

Dalam konteks yang lebih luas, pengembangan Arena oleh Meta menunjukkan bagaimana raksasa teknologi terus berupaya memasuki sektor yang sedang tren, meskipun kontroversial. Dengan popularitas Polymarket yang mencapai triliunan rupiah, potensi pasar aplikasi prediksi memang sangat besar, namun risiko regulasi dan dampak sosialnya juga tidak bisa diabaikan.

Para pengamat industri menilai bahwa tanpa adanya elemen taruhan uang sungguhan, Arena kemungkinan besar akan gagal menarik minat pengguna. Namun, jika Meta akhirnya mengizinkan taruhan uang asli, perusahaan akan menghadapi tantangan regulasi yang kompleks di berbagai negara, termasuk Indonesia yang melarang keras praktik perjudian.

Hingga saat ini, Meta belum memberikan pernyataan resmi mengenai pengembangan Arena. Sumber internal menyebutkan bahwa proyek ini masih dalam tahap awal dan bisa berubah atau dibatalkan kapan saja. Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa Meta terus mencari cara untuk tetap relevan di tengah persaingan industri teknologi yang semakin ketat.

Implikasi dari pengembangan aplikasi prediksi oleh Meta sangat luas. Jika berhasil, Arena bisa menjadi platform baru yang mengubah cara orang berinteraksi dengan berita dan peristiwa terkini. Namun, jika gagal, ini akan menjadi tambahan lain dalam deretan produk Meta yang bermasalah.

Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini perlu diwaspadai. Meskipun Arena menggunakan sistem poin, potensi untuk beralih ke taruhan uang asli di masa depan tetap ada. Regulator di Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan masuknya platform semacam ini ke pasar domestik.

Kesimpulannya, langkah Meta mengembangkan Arena menunjukkan bahwa tren aplikasi prediksi sedang menjadi perhatian utama perusahaan teknologi global. Namun, tanpa model bisnis yang jelas dan dengan risiko regulasi yang tinggi, masa depan Arena masih sangat tidak pasti.