Apple Naikkan Harga iPad dan Mac Rekondisi, Komponen Lawas Tak Terkait

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi MacBook Pro M5 Pro yang mengalami kenaikan harga rekondisi
  • Apple menaikkan harga iPad dan Mac rekondisi resmi di toko Certified Refurbished
  • Rata-rata kenaikan USD 160-180 (Rp 2,8-3,2 juta) untuk Mac, USD 120-150 (Rp 2,16-2,7 juta) untuk iPad
  • Kenaikan tertinggi pada MacBook Pro 14 inch M2 Max: dari USD 4.249 ke USD 4.839 (naik Rp 10,7 juta)
  • Unit rekondisi masih pakai komponen lawas (memori, storage, logic board original)
  • Kenaikan dilakukan agar harga selaras dengan versi baru, bukan karena krisis komponen
  • iPad Pro rekondisi alami kenaikan tertinggi antar varian iPad: USD 230-250

JBNews.id — Apple resmi menaikkan harga untuk sebagian besar produk rekondisi (refurbished) iPad dan Mac yang dijual melalui toko online resmi Certified Refurbished. Kenaikan ini terjadi meskipun unit-unit tersebut masih menggunakan komponen lawas seperti memori, storage, dan logic board original yang seharusnya tidak terdampak oleh krisis harga chip memori global.

Berdasarkan laporan MacRumors yang dikutip Sabtu (27/6/2026), rata-rata kenaikan harga untuk produk rekondisi mencapai USD 160-180 atau setara Rp 2,8-3,2 juta. Namun, kenaikan harga untuk lini Mac jauh lebih signifikan dibandingkan iPad. Kebijakan ini sejalan dengan kenaikan harga produk baru Apple yang dipicu oleh melonjaknya harga chip memori dan storage akibat kebutuhan pembangunan pusat data AI.

Kenaikan Harga MacBook Rekondisi Paling Drastis

Model MacBook Pro 14 inch dengan chip M4 Pro rekondisi mengalami kenaikan dari USD 1.699 (Rp 30,3 juta) menjadi USD 1.779 (Rp 31,7 juta). Varian yang sama dengan layar Nano-texture harganya melonjak dari USD 1.829 (Rp 32,7 juta) menjadi USD 1.909 (Rp 34,1 juta).

Semakin premium spesifikasi Mac-nya, semakin tinggi pula kenaikan harganya. MacBook Pro 14 inch rekondisi dengan chip M5 naik dari USD 1.359 (Rp 24,46 juta) menjadi USD 1.439 (Rp 25,90 juta). Sementara itu, konfigurasi tertinggi model yang sama meroket dari USD 2.629 (Rp 47,32 juta) menjadi USD 3.309 (Rp 59,56 juta).

Kenaikan paling ekstrem terjadi pada MacBook Pro 14 inch dengan chip M2 Max. Harganya melonjak dari USD 4.249 (Rp 76,48 juta) menjadi USD 4.839 (Rp 87,10 juta). Kenaikan hampir Rp 10,7 juta ini menjadi yang tertinggi di antara semua produk rekondisi Apple.

Kebijakan ini membuat harga MacBook rekondisi semakin mendekati harga unit baru. Padahal, komponen internal yang digunakan masih berasal dari generasi sebelumnya. Situasi ini memperkuat tren bahwa Apple menaikkan harga MacBook dan iPad hingga 20 persen di semua lini produk.

iPad Rekondisi Juga Terdampak, Kenaikan Lebih Konsisten

Untuk lini iPad, kenaikan harga rekondisi lebih konsisten dengan rata-rata USD 120-150 atau sekitar Rp 2,16-2,70 juta. Model low-end seperti iPad generasi ke-10 edisi Wi-Fi 256GB naik dari USD 339 (Rp 6,10 juta) menjadi USD 409 (Rp 7,36 juta). Sementara iPad mini 6 rekondisi naik dari USD 379 (Rp 6,82 juta) menjadi USD 459 (Rp 8,26 juta).

Model iPad Pro yang merupakan varian paling premium mengalami kenaikan lebih tinggi, antara USD 230 hingga USD 250 (sekitar Rp 4,14-4,50 juta). Kenaikan ini cukup signifikan mengingat iPad Pro rekondisi sudah dibanderol dengan harga tinggi sebelum kebijakan ini diterapkan.

Menariknya, sebagian besar unit rekondisi Apple masih menggunakan komponen asli seperti memori, storage, dan logic board yang seharusnya tidak terpengaruh oleh krisis RAM global. Namun, Apple tampaknya sengaja menaikkan harga agar harga iPad dan Mac rekondisi lebih selaras dengan versi barunya. Dengan kata lain, nilai diskon yang ditawarkan tetap sama seperti sebelumnya meskipun harga naik.

Dampak bagi Konsumen dan Pasar Rekondisi

Kenaikan harga ini menjadi pukulan bagi konsumen yang selama ini mengandalkan produk rekondisi Apple sebagai alternatif lebih terjangkau. Dengan harga yang kini mendekati unit baru, daya tarik utama produk rekondisi—yaitu diskon signifikan—mulai tergerus.

Kebijakan ini juga berpotensi mengubah peta pasar laptop dan tablet bekas premium. Konsumen mungkin akan beralih ke produk pesaing atau menunda pembelian hingga harga kembali normal. Namun, belum ada indikasi kapan Apple akan menyesuaikan kembali harga produk rekondisinya.

Bagi para pengguna setia Apple yang ingin menghemat anggaran, opsi membeli unit baru dengan spesifikasi lebih rendah kini mungkin lebih masuk akal secara finansial dibandingkan membeli unit rekondisi yang harganya melonjak tajam. Apalagi dengan kenaikan yang tidak proporsional antara komponen lawas dan harga jual, nilai ekonomis produk rekondisi Apple patut dipertanyakan.