Mantan Bos PlayStation Kritik Keras Performa Steam Machine

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Konsol Steam Machine buatan Valve dengan desain futuristik
  • Shuhei Yoshida, mantan Presiden SIE Worldwide Studios Sony, kritik keras performa Steam Machine
  • Yoshida menyebut kualitas Steam Machine mengecewakan dan seperti kembali ke era PS4
  • Valve terpaksa revisi klaim performa 4K/60fps menjadi "Up to 4K gaming with FSR 4.1"
  • Harga Steam Machine dimulai dari USD 1.049 (Rp 17,1 juta) dinilai terlalu mahal
  • Meski dikritik, Steam Machine tetap ludes terjual dan harga di eBay tembus USD 3.000 (Rp 49 juta)
  • Yoshida puji UI yang mudah digunakan dan fitur face plates yang bisa diganti

JBNews.id — Shuhei Yoshida, mantan Presiden SIE Worldwide Studios Sony, secara terbuka mengkritik konsol terbaru Valve, Steam Machine, dengan menyebut kualitasnya mengecewakan dan mengingatkannya pada era PlayStation 4. Kritik pedas dari tokoh veteran industri game ini muncul di tengah euforia pasar di mana Steam Machine ludes terjual dan harga unit bekasnya di eBay melonjak hingga USD 3.000 (sekitar Rp 49 juta).

Yoshida, yang juga pernah menjabat sebagai kepala divisi game independen PlayStation, termasuk dalam gelombang pertama pembeli Steam Machine. Meskipun harus merogoh kocek dalam untuk banderol yang sangat tinggi, ia memberikan ulasan jujur setelah memainkan konsol tersebut selama beberapa jam melalui media sosial. Sayangnya, sebagian besar ulasannya jauh dari kata positif.

Keluhan pertama Yoshida sejalan dengan poin yang telah disoroti oleh banyak reviewer teknologi, yakni soal performa. Ia merasa terganggu dengan rekomendasi sistem Steam Machine yang menjadikan resolusi 1080p sebagai pengaturan grafis bawaan (default). Hal inilah yang memicu sindiran pedasnya soal perbandingan dengan PlayStation 4.

Sebelumnya, Valve memang panen kritikan atas klaim awal mereka yang menyebut Steam Machine mampu menjalankan game di resolusi 4K pada 60 fps menggunakan bantuan teknologi FSR. Kenyataannya di lapangan, target tersebut hanya bisa dicapai jika pengaturan grafis game diturunkan ke tingkat paling rendah. Bahkan, beberapa game berat tetap gagal menyentuh angka 4K/60fps. Fakta di lapangan ini memaksa Valve secara diam-diam merevisi kalimat promosi mereka minggu lalu menjadi lebih realistis: “Up to 4K gaming with FSR 4.1”.

Selain urusan performa layar, Yoshida juga mengeluhkan waktu booting sistem yang lambat serta stick analog pada Steam Controller yang terasa longgar. Meski melontarkan banyak kritik, Yoshida tetap memberikan beberapa pujian objektif. Ia memuji antarmuka sistem (UI) yang mudah digunakan, kemampuan menyalakan konsol langsung lewat controller, serta kover bodi (face plates) yang bisa diganti-ganti sesuai selera.

Pada akhirnya, Yoshida menyimpulkan bahwa ia akan tetap menyimpan konsol tersebut karena kemampuan Steam Machine untuk memainkan game Steam langsung dari ruang tamu adalah fitur yang cukup bernilai baginya. Namun, ia menegaskan bahwa sangat sulit baginya untuk merekomendasikan Steam Machine kepada orang lain karena harganya yang kontroversial, yakni dimulai dari harga USD 1.049 (sekitar Rp 17,1 juta).

Ironisnya, meski mayoritas pengulas sepakat bahwa Steam Machine kurang bertenaga dan harganya terlampau mahal, konsol ini tetap berstatus habis terjual di mana-mana. Jika ada pembeli yang nekat ingin memilikinya, mereka harus rela berurusan dengan para calo di eBay yang mematok harga dua hingga tiga kali lipat lebih mahal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun kritik terhadap performa Steam Machine sangat keras, permintaan pasar tetap tinggi karena faktor kelangkaan dan status sebagai barang koleksi. Situasi serupa pernah terjadi di industri game, di mana produk yang dianggap gagal secara teknis tetap diburu karena nilai nostalgia atau eksklusivitas.

Bagi para penggemar game yang penasaran dengan performa konsol high-end, perkembangan terbaru dari industri game seperti GTA 6 yang dikabarkan berjalan 60 fps di PS5 dan Xbox Series menunjukkan standar performa yang diharapkan oleh gamer saat ini. Sementara itu, di sisi lain, SpaceX yang merilis ponsel AI usai IPO lesu juga menghadapi tantangan serupa dalam memenuhi ekspektasi pasar.

Kritik dari figur sekelas Yoshida tentu menjadi pukulan telak bagi Valve. Sebagai mantan eksekutif puncak PlayStation, Yoshida memiliki pengalaman puluhan tahun dalam mengembangkan dan memasarkan konsol game. Penilaiannya bahwa Steam Machine terasa seperti “kembali ke era PS4” adalah perbandingan yang sangat tajam, mengingat PS4 adalah konsol yang dirilis lebih dari satu dekade lalu.

Valve sendiri hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang dilontarkan oleh Yoshida. Namun, revisi klaim performa yang mereka lakukan secara diam-diam menunjukkan bahwa perusahaan sadar akan keterbatasan produknya. Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah Valve akan merilis pembaruan untuk meningkatkan performa Steam Machine atau justru akan fokus pada pengembangan generasi berikutnya.

Dari sisi industri, kasus Steam Machine ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara harga dan performa. Konsol game yang terlalu mahal dengan performa di bawah ekspektasi akan sulit mendapatkan rekomendasi positif, bahkan dari para penggemar setia sekalipun. Fenomena serupa juga terlihat di sektor lain, seperti bot Spotify yang memanfaatkan prediksi pasar untuk ribuan stream palsu, menunjukkan bagaimana ekspektasi dan realitas sering kali tidak sejalan.

Bagi konsumen yang tetap ingin membeli Steam Machine, saran dari Yoshida patut dipertimbangkan: hanya beli jika Anda benar-benar menginginkan kemudahan memainkan game Steam dari ruang tamu dan siap menerima kompromi performa. Jika tidak, lebih baik menunggu generasi berikutnya atau beralih ke konsol lain yang sudah terbukti kualitasnya.

Kritik dari mantan bos PlayStation ini menambah daftar panjang ulasan negatif terhadap Steam Machine. Meskipun demikian, fakta bahwa konsol ini tetap ludes terjual menunjukkan bahwa ada segmen pasar yang lebih mementingkan akses ke ekosistem Steam di ruang tamu daripada performa murni. Fenomena ini mengingatkan pada skandal di dunia akademik, di mana skandal kecurangan AI terbesar di Ivy League terungkap, menunjukkan bahwa ekspektasi dan realitas sering kali memiliki kesenjangan yang besar.

Kesimpulannya, Steam Machine adalah produk yang kontroversial: di satu sisi sangat diminati pasar karena kelangkaan dan eksklusivitas, namun di sisi lain menuai kritik tajam dari para ahli karena performa yang dianggap tidak sebanding dengan harga. Bagi industri game, ini menjadi pengingat bahwa inovasi tanpa eksekusi yang matang bisa berujung pada reputasi yang tercoreng, meskipun penjualan jangka pendek tetap menguntungkan.