Strategi XLSmart Rebut Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Director and Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, dalam konferensi pers
  • XLSmart siap bersaing dalam lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz mulai 7 Juli 2026
  • Tiga operator lolos seleksi: Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart
  • Tiga blok tersedia di setiap spektrum, setiap peserta hanya boleh memenangkan satu blok
  • Nilai tawaran menjadi faktor penentu karena lebar pita antar blok berbeda
  • Komitmen pembangunan meliputi penggelaran 5G dan layanan di desa
  • Frekuensi 700 MHz untuk perluasan coverage, 2,6 GHz untuk kapasitas jaringan

JBNews.id — XLSmart menyatakan kesiapannya bersaing dalam lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mulai 7 Juli 2026. Operator ini menjadi salah satu dari tiga peserta yang lolos tahap evaluasi administrasi, bersama Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison.

Director and Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, mengatakan peluang seluruh peserta untuk memperoleh spektrum cukup besar. Hal ini karena jumlah blok frekuensi yang dilelang sama dengan jumlah peserta.

“Jadi, ada tiga blok di setiap spektrumnya. Artinya pesertanya tiga, tiga blok dilelang dan pesertanya juga tiga. Setiap peserta hanya boleh memenangkan satu blok,” kata Merza ditemui di kantor XLSmart, Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Meski demikian, persaingan tetap terjadi. Setiap blok memiliki lebar pita frekuensi yang berbeda sehingga nilai tawaran yang diajukan operator akan menjadi faktor penentu.

“Bloknya kan lain-lain, ada yang besar, ada yang kecil. Jadi kalau mau yang besar tentu harus berani menawar lebih tinggi,” ujarnya.

Saat ditanya blok frekuensi mana yang menjadi incaran, Merza enggan mengungkapkan secara rinci strategi perusahaan. Namun, ia memastikan XLSmart memiliki ketertarikan terhadap kedua pita frekuensi yang dilelang.

“Itu kembali lagi, setiap operator tentu punya strategi berbeda. Kami tertarik dua-duanya karena satu untuk memperluas coverage, satu lagi untuk menambah kapasitas jaringan,” katanya.

Pita frekuensi 700 MHz dinilai ideal untuk memperluas jangkauan layanan, terutama layanan 4G di wilayah pelosok. Sedangkan pita frekuensi 2,6 GHz lebih cocok untuk meningkatkan kapasitas jaringan di kawasan dengan trafik data yang tinggi, seperti layanan 5G.

Selain nilai penawaran, operator yang memenangkan lelang juga wajib memenuhi sejumlah komitmen pembangunan yang telah ditetapkan Komdigi. Merza menjelaskan, besaran komitmen tersebut bergantung pada blok frekuensi yang dimenangkan.

“Ada di dokumen lelang. Jadi yang mendapatkan blok lebih besar, komitmennya juga lebih besar. Ada komitmen penggelaran 5G dan pembangunan layanan di desa. Itu semua menjadi bagian dari perhitungan operator sebelum mengikuti lelang,” kata Merza.

Lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz menjadi salah satu agenda penting pemerintah untuk mempercepat perluasan jaringan 5G di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas layanan broadband seluler.

Strategi XLSmart dalam lelang ini mencerminkan pendekatan hati-hati namun agresif. Perusahaan tidak ingin mengungkapkan target spesifik, tetapi kesiapan untuk bersaing di kedua spektrum menunjukkan ambisi besar.

Keputusan Komdigi menetapkan tiga operator yang lolos seleksi administrasi memastikan lelang berjalan kompetitif. Dengan tiga blok tersedia di setiap pita frekuensi, setiap operator memiliki peluang sama untuk memenangkan satu blok.

Namun, perbedaan lebar pita antar blok menjadi variabel kunci. Operator yang menginginkan blok lebih lebar harus bersedia membayar lebih tinggi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi XLSmart yang harus menyeimbangkan antara ambisi dan kemampuan finansial.

Komitmen pembangunan pasca-lelang juga menjadi pertimbangan serius. Operator pemenang wajib menggelar jaringan 5G dan membangun layanan di desa sesuai ketentuan dokumen lelang. Semakin besar blok yang dimenangkan, semakin besar pula komitmen yang harus dipenuhi.

Bagi XLSmart, lelang ini bukan sekadar ajang mendapatkan spektrum. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi di pasar telekomunikasi Indonesia yang semakin kompetitif. Dengan jaringan 5G yang lebih luas dan kapasitas yang lebih besar, XLSmart berharap dapat meningkatkan kualitas layanan dan menarik lebih banyak pelanggan.

Namun, persaingan tidak akan mudah. Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison juga memiliki strategi dan sumber daya yang kuat. Ketiga operator akan saling beradu tawaran untuk mendapatkan blok frekuensi terbaik.

Lelang yang dimulai 7 Juli 2026 akan menjadi momentum penting bagi industri telekomunikasi Indonesia. Hasil lelang akan menentukan peta persaingan layanan 5G dan broadband seluler dalam beberapa tahun ke depan.

XLSmart telah menyatakan kesiapannya. Kini, tinggal menunggu eksekusi di lapangan. Apakah strategi yang diterapkan akan membuahkan hasil? Jawabannya akan diketahui setelah proses lelang selesai.

Bagi masyarakat, lelang ini berarti layanan internet yang lebih cepat dan lebih luas. Terutama di wilayah pelosok yang selama ini sulit mendapatkan akses internet berkualitas. Pita frekuensi 700 MHz diharapkan dapat menjembatani kesenjangan digital antara daerah perkotaan dan pedesaan.

Sementara itu, pita frekuensi 2,6 GHz akan meningkatkan kapasitas jaringan di kota-kota besar yang padat trafik data. Pengguna 5G di perkotaan akan merasakan peningkatan kecepatan dan stabilitas koneksi.

Komitmen pembangunan layanan di desa juga menjadi angin segar bagi masyarakat pedesaan. Operator pemenang wajib membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah yang selama ini kurang terlayani.

Dengan demikian, lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz bukan hanya kepentingan bisnis operator, tetapi juga kepentingan publik. Pemerintah melalui Komdigi memastikan bahwa spektrum yang dilelang digunakan untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas layanan bagi seluruh rakyat Indonesia.

XLSmart, sebagai salah satu peserta, memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan visi tersebut. Strategi yang diterapkan akan menentukan sejauh mana kontribusi perusahaan dalam percepatan digitalisasi nasional.

Dalam konteks yang lebih luas, lelang ini juga menjadi indikator kesehatan industri telekomunikasi Indonesia. Minat operator untuk berinvestasi pada spektrum frekuensi menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan pasar.

Dengan populasi yang besar dan penetrasi internet yang terus meningkat, Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi operator telekomunikasi. Lelang frekuensi ini adalah bukti bahwa operator masih melihat potensi besar di sektor ini.

XLSmart, dengan strategi yang matang, berharap dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya. Perusahaan telah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk aspek finansial dan operasional.

Kini, semua mata tertuju pada proses lelang yang akan dimulai pekan depan. Hasilnya akan menjadi babak baru dalam persaingan industri telekomunikasi Indonesia.