JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah merampungkan lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, namun masyarakat tidak akan langsung merasakan peningkatan kualitas internet secara instan. Lelang yang menjadi tonggak penting bagi pengembangan jaringan seluler ini baru akan menunjukkan hasil nyata setelah operator menyelesaikan serangkaian investasi infrastruktur dalam 12 bulan ke depan.
Dalam analisis terbarunya, Opensignal menyebut pelelangan spektrum yang dilakukan Komdigi sebagai suntikan yang sangat dibutuhkan bagi pengembangan 5G nasional. Selama ini, Indonesia bertahun-tahun menghadapi keterbatasan spektrum yang menjadi salah satu tantangan terbesar industri telekomunikasi. Keterbatasan sumber daya frekuensi, terutama pada pita menengah (mid-band) yang menjadi tulang punggung layanan broadband seluler dan 5G, membuat operator harus melayani pertumbuhan trafik data yang terus meningkat dengan ruang spektrum yang relatif terbatas.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada kapasitas jaringan dan kualitas layanan di sejumlah wilayah. Lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz dinilai menjadi langkah strategis untuk keluar dari krisis spektrum di tengah meningkatnya kebutuhan layanan digital.
“Tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz akan menjadi lompatan besar bagi pengembangan 5G di Indonesia. Frekuensi baru ini akan memperluas jangkauan sinyal, meningkatkan kapasitas jaringan untuk melayani lebih banyak pengguna, serta mengurangi kepadatan trafik yang selama ini sulit diatasi jika hanya mengandalkan pita 2,1 GHz dan 2,3 GHz,” kata Opensignal seperti dikutip Jumat (17/7/2026).
Karakteristik Pita Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
Pita 700 MHz memiliki karakteristik jangkauan yang luas sehingga efektif memperluas cakupan layanan hingga wilayah suburban dan pedesaan. Sementara itu, pita 2,6 GHz menyediakan kapasitas yang lebih besar untuk mengakomodasi lonjakan trafik data di kawasan perkotaan yang padat pengguna. Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting bagi pengembangan layanan 4G dan percepatan implementasi 5G di Indonesia.
“Kedua pita frekuensi tersebut mengatasi kedua ujung tantangan cakupan dan kapasitas,” tulis Opensignal. Namun, lembaga analis tersebut mengingatkan bahwa tambahan spektrum tidak otomatis membuat kualitas internet meningkat dalam waktu singkat. Spektrum hanyalah salah satu komponen dalam pembangunan jaringan seluler.
Ujian sebenarnya akan datang dalam 12 bulan ke depan setelah pasca lelang. Operator seluler harus melakukan serangkaian investasi lanjutan, mulai dari pembangunan BTS baru, modernisasi perangkat radio, penambahan kapasitas backhaul berbasis serat optik, hingga optimalisasi jaringan agar spektrum yang baru diperoleh dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan kata lain, manfaat lelang frekuensi baru akan dirasakan masyarakat secara bertahap seiring implementasi jaringan oleh masing-masing operator.
Baca Juga:
Hasil Lelang dan Pembagian Spektrum
Komdigi telah menyelesaikan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz seiring dengan berakhirnya masa sanggah. Di seleksi spektrum 700 MHz, XLSmart menguasai paling tinggi 30 MHz, diikuti Telkomsel 20 MHz dan Indosat 20 MHz. Sedangkan, di seleksi 2,6 GHz dikuasai Telkomsel dengan 80 MHz, Indosat 60 MHz, dan XLSmart 50 MHz.
Setelah ditetapkan secara resmi oleh Menteri Komunikasi dan Digital, para pemenang akan melanjutkan proses pemanfaatan spektrum sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk informasi lebih lengkap mengenai perubahan komposisi frekuensi, Anda dapat menyimak peta spektrum operator yang telah berubah.
Namun untuk langkah awal, lelang ini akan menyelesaikan persoalan mendasar Indonesia terkait keterbatasan spektrum. Meski demikian, seperti diingatkan Opensignal, spektrum bukanlah solusi instan. Manfaatnya baru akan terasa setelah operator menyelesaikan seluruh proses implementasi jaringan.
Proses pasca lelang ini membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit. Operator harus membangun infrastruktur pendukung agar spektrum yang baru diperoleh dapat berfungsi optimal. Hal ini mencakup pemasangan perangkat radio baru di BTS yang sudah ada, pembangunan menara baru di wilayah yang belum terjangkau, serta peningkatan kapasitas backhaul untuk mendukung lalu lintas data yang lebih besar.
Untuk mengetahui lebih detail tentang pemenang lelang, Anda dapat membaca artikel Komdigi Tetapkan Pemenang Lelang Frekuensi.
Implikasi bagi Masyarakat
Bagi masyarakat, hasil lelang ini berarti bahwa dalam waktu dekat belum akan ada perubahan signifikan pada kualitas internet yang dirasakan sehari-hari. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, kombinasi pita 700 MHz dan 2,6 GHz diharapkan mampu memberikan pengalaman broadband yang lebih baik, terutama di wilayah yang selama ini sulit mendapatkan sinyal kuat.
Pita 700 MHz dengan jangkauan luasnya akan sangat membantu memperluas cakupan layanan hingga ke daerah suburban dan pedesaan. Sementara pita 2,6 GHz akan memberikan kapasitas tambahan yang sangat dibutuhkan di kota-kota besar yang padat pengguna. Kombinasi keduanya menjadi kunci untuk mewujudkan layanan 5G yang merata di Indonesia.
Lelang ini juga menjadi indikator keseriusan pemerintah dalam mendorong transformasi digital nasional. Dengan tambahan spektrum yang signifikan, operator memiliki modal yang lebih kuat untuk berinvestasi dan meningkatkan kualitas layanan. Namun, semua itu membutuhkan waktu dan proses yang tidak bisa dipercepat begitu saja.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana lelang ini akan mempengaruhi kualitas internet, Anda dapat membaca analisis tentang lelang 700 MHz dan 2,6 GHz sebagai penentu kualitas internet RI.
Dengan selesainya lelang frekuensi ini, Indonesia memasuki babak baru dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasinya. Meskipun hasilnya tidak instan, langkah ini merupakan fondasi yang kokoh untuk masa depan konektivitas nasional yang lebih baik.




