Kebangkitan Zombie Cambridge Analytica Jadi Peternakan Konten AI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi Christopher Wylie dengan rambut pendek dicat merah muda memegang megafon, dengan latar rambu berhenti bertuliskan AI SLOP di langit biru.
  • Cambridge Analytica bangkit kembali sebagai peternakan konten AI bernama CA Privacy Watch
  • Situs ini memproduksi artikel penuh plagiarisme dari 404 Media, New York Times, Wired, dan lainnya
  • Menggunakan jurnalis palsu bernama "Nicolas Menier" dengan foto curian dari insinyur di Quebec
  • Semua artikel yang diuji dinyatakan 100 persen dihasilkan oleh AI
  • Domain dibeli oleh Vortexlab Digital Marketing seharga $30.500 pada September 2025
  • Vortexlab juga memiliki situs lain seperti Le Ravi dan History in Politics yang diubah menjadi peternakan konten serupa
  • Setelah diinvestigasi, situs mengubah kebijakan tentang penggunaan AI dalam pembuatan konten

JBNews.id — Cambridge Analytica, perusahaan analitik data yang pernah menjadi pusat skandal penyalahgunaan data Facebook pada 2018, kini bangkit kembali dalam bentuk yang berbeda. Situs resminya, CambridgeAnalytica.org, telah berubah menjadi peternakan konten bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang memproduksi artikel penuh plagiarisme, menggunakan jurnalis palsu, dan menyebarkan informasi menyesatkan.

Skandal Cambridge Analytica pada Maret 2018 mengungkap bahwa perusahaan milik miliarder Robert Mercer dan dijalankan oleh sekutu dekat Donald Trump, Steve Bannon, telah mengumpulkan data pribadi puluhan juta pengguna Facebook tanpa izin. Data tersebut digunakan untuk menarget pemilih dengan serangan terhadap Hillary Clinton pada pemilu presiden AS 2016. Peristiwa ini memicu gelombang kesadaran global tentang privasi dan pengawasan di era media sosial, memaksa CEO Facebook Mark Zuckerberg bersaksi di hadapan Kongres, dan akhirnya menutup Cambridge Analytica beberapa bulan kemudian.

Kini, di tahun 2026, Cambridge Analytica kembali secara mengejutkan. Situs yang telah mati itu dihidupkan kembali dan diubah menjadi CA Privacy Watch, sebuah portal berita yang mengklaim fokus pada data, privasi, dan AI. Namun, investigasi mendalam mengungkap bahwa situs ini tidak lebih dari mesin konten otomatis yang dipenuhi plagiarisme, gambar buatan AI, dan jurnalis palsu.

Plagiarisme Sistematis dan Jurnalis Palsu

Salah satu temuan paling mencolok adalah praktik plagiarisme sistematis yang dilakukan situs tersebut. Sebagai contoh, artikel berjudul “My town just voted for more Flock cameras than cops — and the false arrests nobody’s talking about convinced them anyway” yang diterbitkan pada 22 Juli ternyata merupakan salinan dari laporan eksklusif jurnalis Matthew Gault di 404 Media yang terbit hanya beberapa jam sebelumnya. Artikel yang sama juga mencatut nama Miora Danielle Raveloarison sebagai penulis, seorang warga Madagaskar yang tidak memiliki hubungan dengan lokasi kejadian di South Carolina.

Investigasi lebih lanjut menemukan bahwa Cambridge Analytica versi baru ini telah menjiplak puluhan artikel dari berbagai media terkemuka, termasuk The New York Times, Engadget, MIT Technology Review, dan Wired. Salah satu contohnya adalah artikel tentang data pengemudi yang dijual ke perusahaan asuransi, yang ternyata merupakan salinan dari investigasi jurnalis Kashmir Hill di The New York Times yang terbit setahun sebelumnya.

Grafik yang menunjukkan CambridgeAnalytica.org melakukan plagiarisme terhadap laporan asli dari 404 Media, The New York Times, dan Wired.

Selain plagiarisme, situs ini juga menggunakan jurnalis palsu. Salah satu nama yang paling menonjol adalah “Nicolas Menier”, yang diklaim sebagai jurnalis sains dan teknologi. Namun, investigasi mengungkap bahwa foto profil Menier dicuri dari akun LinkedIn seorang insinyur komputer di Quebec, Kanada. Tidak ada bukti bahwa jurnalis dengan nama tersebut benar-benar ada. Situs ini setidaknya memiliki empat penulis yang tercatat, di mana tiga di antaranya tampaknya adalah orang sungguhan yang berbasis di Madagaskar, sementara satu lainnya, Menier, sepenuhnya palsu.

Konten AI dan Gambar Palsu

Analisis terhadap sepuluh artikel dari situs tersebut menggunakan layanan deteksi AI Pangram menunjukkan bahwa setiap artikel yang diuji dinyatakan 100 persen dihasilkan oleh AI. Keanehan khas teks AI juga terlihat jelas, seperti referensi samar terhadap “startup” atau “pemerintah” tanpa menyebutkan entitas spesifik, serta penggunaan gambar buatan AI yang sering kali memiliki teks kacau atau tanda-tanda khas AI slop lainnya.

Situs ini bahkan menggunakan AI untuk menghasilkan gambar palsu dari tokoh nyata, termasuk Christopher Wylie, whistleblower Cambridge Analytica yang terkenal. Gambar-gambar tersebut digunakan untuk memperkuat ilusi bahwa situs ini dikelola oleh tim jurnalis profesional.

Artikel CambridgeAnalytica.org yang menampilkan gambar buatan AI dari whistleblower Christopher Wylie.

Dalam sebuah ironi yang aneh, situs yang telah bangkit ini justru banyak menerbitkan artikel tentang skandal Cambridge Analytica dan berbagai karakter yang terlibat di dalamnya. Lebih aneh lagi, situs ini sering memaksakan hubungan antara berita yang tidak terkait dengan peristiwa Cambridge Analytica, bahkan ketika hubungan tersebut tidak masuk akal sama sekali.

Kepemilikan dan Operasi

Investigasi mengungkap bahwa domain CambridgeAnalytica.org dijual di pasar lelang domain Dropcatch pada September 2025 dengan harga 30.500 dolar AS. Pembelinya adalah Vortexlab Digital Marketing, sebuah perusahaan yang terdaftar di Dubai dan mengklaim sebagai agensi pemasaran digital yang berspesialisasi dalam SEO. Vortexlab juga diketahui memiliki setidaknya tiga situs lain yang diubah menjadi peternakan konten serupa, termasuk Le Ravi, History in Politics, dan CMU.fr.

Semua situs ini menunjukkan pola yang sama: membeli domain yang sudah memiliki otoritas tinggi di mata mesin pencari, kemudian mengisinya dengan konten buatan AI yang ditargetkan untuk SEO. Strategi ini, menurut Gisele Navarro, pakar optimasi mesin pencari dari HouseFresh, adalah praktik yang umum namun berbahaya. “Mereka membeli domain yang pernah dipercaya untuk memanfaatkan otoritasnya, lalu mengisinya dengan konten clickbait buatan AI sebelum membanjiri jutaan pengguna melalui amplifikasi berbayar,” jelas Navarro.

Menariknya, meskipun Vortexlab cukup sukses dengan situs-situs lain, domain Cambridge Analytica tampaknya kurang berhasil. Dalam pengujian, situs tersebut hampir tidak terindeks oleh Google, mungkin karena reputasi buruk yang melekat pada nama Cambridge Analytica.

Versi arsip CambridgeAnalytica.org yang menampilkan iklan farmasi impor berbahasa Jepang.

Setelah dihubungi oleh jurnalis, pemilik situs mengubah halaman “Tentang Kami” yang sebelumnya mengklaim bahwa semua artikel ditulis oleh jurnalis manusia. Halaman tersebut kini menyatakan bahwa artikel “dikembangkan dan direview oleh tim editorial kami, dengan dukungan alat digital dan AI yang sesuai untuk riset, analisis, dan penulisan draft.” Perubahan ini menunjukkan bahwa operator situs sadar akan pengawasan yang mereka terima.

Implikasi bagi Ekosistem Informasi

Kebangkitan Cambridge Analytica sebagai peternakan konten AI adalah cerminan gelap dari ancaman yang dihadapi ekosistem informasi saat ini. Jika di masa lalu perusahaan ini menggunakan data pribadi untuk memanipulasi opini publik, kini versi zombienya menggunakan AI untuk membanjiri internet dengan informasi palsu dan menyesatkan. Ini adalah evolusi yang menunjukkan bahwa ancaman terhadap integritas informasi tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk.

Fenomena ini juga sejalan dengan temuan terbaru tentang kerentanan sistem AI, seperti yang diungkap dalam riset FAR.AI yang menunjukkan bahwa model AI tertentu sangat rentan terhadap serangan jailbreak. Sementara itu, kemajuan AI yang semakin otonom, seperti yang diungkap dalam pernyataan Sam Altman tentang singularitas AI, membuat pengawasan terhadap konten buatan AI menjadi semakin krusial.

Bagi pembaca, kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang tampak seperti situs berita kredibel dapat dipercaya. Verifikasi sumber, pengecekan fakta, dan literasi digital menjadi keterampilan yang semakin penting di era di mana AI dapat menghasilkan konten yang tampak meyakinkan namun sepenuhnya palsu. Kehadiran peternakan konten seperti Cambridge Analytica versi baru ini menegaskan bahwa pertempuran melawan disinformasi belum berakhir, dan justru memasuki babak baru yang lebih kompleks.