JBNews.id — Semangat karyawan Meta dilaporkan memburuk akibat gelombang PHK yang terus berlanjut. Mereka yang dipindahkan ke divisi AI bahkan menyebut tempat kerja baru mereka sebagai ‘gulag’ atau penjara kerja paksa.
Drama ini terungkap ketika seseorang membajak presentasi yang disiarkan langsung khusus untuk karyawan pekan ini. Pelaku meluapkan amarahnya dan mengajak peserta livestream untuk menghina seorang eksekutif senior Meta. Salah satu presenter dilaporkan menutupi wajahnya dengan tangan.
Ledakan emosi itu, menurut laporan Wired yang dikutip TechCrunch, Selasa (16/6/2026), mencerminkan amarah yang terpendam dalam Applied AI. Unit ini berisi 6.500 engineer dan manajer yang ditugaskan untuk mendukung ambisi riset AI perusahaan.
Dipindahkan Secara Mendadak
Laporan Business Insider bulan lalu mengungkap banyak karyawan Meta yang kaget setelah dipindahkan ke divisi Applied AI. Mereka hanya diberi tahu lewat email dan salah satu karyawan mengatakan prosesnya cukup acak.
Menurut pengumuman internal yang dilihat Business Insider, alasan pemindahan adalah karena model AI Meta masih kekurangan pengetahuan untuk melampaui kemampuan manusia dalam tugas teknis seperti coding. Karyawan ditugaskan membuat puzzle dan masalah coding untuk melatih model AI.
Para karyawan yang dipindahkan menggambarkan bahwa mereka seolah diberi dua pilihan: bergabung ke Applied AI atau keluar. Banyak yang menyebut pekerjaan baru tersebut sebagai ‘wajib militer’.
“Ini benar-benar seperti gulag,” kata seorang karyawan kepada Wired. “Kebanyakan orang menganggap pekerjaan ini sangat melelahkan jiwa,” ujar karyawan lain.
Ketegangan internal ini sejalan dengan laporan sebelumnya tentang Ketegangan Internal Meta yang melibatkan ribuan karyawan.
Baca Juga:
Petisi dan Lingkungan Kerja Brutal
Bukan hanya di unit Applied AI yang semangat karyawannya buruk. Lebih dari 1.600 karyawan Meta kabarnya menandatangani petisi untuk memprotes program yang memantau klik dan penekanan tombol mereka untuk data pelatihan AI.
Suasana di perusahaan milik Mark Zuckerberg ini cukup suram sampai Chief Product Officer Chris Cox merasa perlu untuk membahas lingkungan kerja yang ‘brutal’ dalam pertemuan dengan karyawan pekan ini.
Fenomena PHK massal di industri teknologi bukan hanya terjadi di Meta. Sebelumnya, Ubisoft PHK 380 Karyawan dan menutup dua studio sebagai bagian dari restrukturisasi.
Situasi di Meta menunjukkan tekanan besar yang dihadapi perusahaan teknologi dalam perlombaan kecerdasan buatan. Di satu sisi, Meta harus mempertahankan talenta terbaiknya, namun di sisi lain kebijakan PHK dan pemindahan paksa justru menciptakan ketidakpuasan di kalangan karyawan.
Bagi para pengamat industri, kasus ini menjadi contoh bagaimana transisi ke AI bisa berdampak negatif pada moral karyawan jika tidak dikelola dengan baik. Implikasinya, Meta berisiko kehilangan talenta berharga di tengah persaingan ketat dengan perusahaan AI lainnya.
Karyawan yang menolak kebijakan ini juga terlihat dalam aksi Karyawan Meta Tolak Hackathon AI yang menjadi simbol perlawanan terhadap tekanan internal.
Belum ada pernyataan resmi dari Meta mengenai protes internal ini. Namun, ledakan emosi dalam presentasi langsung dan petisi yang ditandatangani ribuan karyawan menunjukkan bahwa masalah ini sudah mencapai titik kritis.
Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri teknologi, situasi di Meta ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap inovasi AI, ada dampak nyata pada tenaga kerja yang perlu diperhatikan.




