DOJ Dukung xAI Lawan Gugatan Lingkungan NAACP

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pusat data xAI dengan turbin gas alam di Southaven Mississippi yang menjadi sengketa lingkungan
  • DOJ dan Mississippi dukung xAI tolak gugatan NAACP terkait turbin gas tanpa izin
  • NAACP ajukan gugatan April lalu, tuduh xAI langgar Clean Air Act
  • DOJ klaim hanya 4 model AI termasuk Grok dukung operasi militer rahasia
  • Jumlah turbin tanpa izin meningkat dari 27 menjadi 57 sejak gugatan diajukan
  • Emisi nitrogen oksida naik 111%, PM2.5 naik 83%, formaldehida naik 88%
  • Militer AS gunakan Grok untuk serangan ke Iran, jadi alasan keamanan nasional

JBNews.id — Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) bersama xAI dan negara bagian Mississippi meminta pengadilan untuk menolak gugatan yang diajukan oleh NAACP pada April lalu. Gugatan tersebut menuding xAI tidak mematuhi Clean Air Act dan membahayakan kesehatan publik dengan mengoperasikan turbin gas alam tanpa izin di lokasi pusat data keduanya di Southaven, Mississippi, yang dijuluki Colossus 2.

Pada Mei lalu, NAACP mengajukan permohonan preliminary injunction untuk menghentikan pengoperasian turbin tersebut. NAACP mendalihkan bahwa penggunaan turbin tanpa izin meningkatkan risiko serangan asma dan penyakit jantung di komunitas yang sudah memiliki beban polusi berat. Baik xAI maupun DOJ belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait perkembangan kasus ini.

Dampak pada Keamanan Nasional

Menurut memorandum DOJ, hanya ada empat model kecerdasan buatan, termasuk Grok, yang mendukung operasi misi-kritis di jaringan rahasia tingkat Secret dan Top-Secret. Sebuah pernyataan terpisah yang diajukan oleh Cameron Stanley, chief digital and artificial intelligence officer di Departemen Pertahanan, merinci bagaimana militer AS bergantung pada model Gov milik Grok untuk mendukung misi vital keamanan nasional.

Stanley menyebutkan bahwa penggunaan model tersebut termasuk dalam serangan terbaru terhadap Iran. Memaksa xAI untuk menghentikan pengoperasian turbin gas yang memasok listrik ke Colossus 2, menurut Stanley, secara langsung mengancam kepentingan keamanan nasional yang sedang berlangsung.

Eskalasi Jumlah Turbin Tanpa Izin

xAI, yang merupakan bagian dari SpaceX, menjadi sorotan nasional pada 2024 ketika warga Memphis bagian barat daya mengeluhkan perusahaan telah mulai mengoperasikan turbin gas tanpa izin di lokasi pusat data pertamanya. Wilayah Memphis memiliki salah satu tingkat asma tertinggi di AS, dan warga khawatir akan tambahan polusi dari turbin yang tidak berizin tersebut.

Badan-badan negara bagian di Tennessee dan Mississippi mengklaim bahwa perusahaan memiliki waktu satu tahun untuk mengoperasikan turbin tanpa izin udara bersih. Namun, NAACP berpendapat bahwa klaim tersebut tidak konsisten dengan peraturan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA).

Gugatan awal yang diajukan oleh NAACP mengidentifikasi 27 turbin yang beroperasi tanpa izin di lokasi Southaven. Namun, email antara xAI dan regulator negara bagian yang diperoleh oleh Southern Environmental Law Center (SELC), mitra dalam gugatan NAACP, menunjukkan bahwa per pertengahan Mei, terdapat 57 turbin yang beroperasi tanpa izin di lokasi Colossus 2.

Peningkatan Emisi yang Signifikan

Banyak dari turbin tersebut, menurut email yang diperoleh, ditambahkan beberapa minggu setelah NAACP mengajukan gugatan. Pertumbuhan jumlah turbin Colossus 2 dari 27 menjadi 57 berarti, menurut SELC, lokasi tersebut telah mengalami peningkatan emisi nitrogen oksida sebesar 111 persen, peningkatan emisi PM2.5 sebesar 83 persen, dan peningkatan emisi formaldehida sebesar 88 persen sejak April.

Peningkatan emisi yang drastis ini menjadi perhatian utama bagi kelompok lingkungan dan masyarakat setempat. Mereka menilai bahwa operasi xAI tanpa kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dapat memperburuk kondisi kesehatan warga yang sudah rentan. Perkembangan hukum ini akan terus dipantau, mengingat implikasinya tidak hanya pada lingkungan tetapi juga pada operasional teknologi AI yang semakin terintegrasi dengan kepentingan nasional.

Kasus ini menyoroti ketegangan antara percepatan pengembangan infrastruktur AI dengan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan. Bagi pembaca yang tertarik dengan persimpangan antara teknologi dan hukum, perkembangan ini memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi perusahaan AI dalam ekspansi operasionalnya.