JBNews.id — Tren kakek-nenek membuatkan buku cerita anak menggunakan kecerdasan buatan (AI) kini memicu ketegangan di dalam keluarga. Para orang tua di Amerika Serikat mengeluhkan praktik ini, terutama karena kekhawatiran privasi foto anak yang diunggah ke platform AI tanpa persetujuan mereka.
Fenomena ini terungkap melalui laporan Wired yang menyebutkan bahwa kakek-nenek di berbagai negara bagian kini gemar menggunakan AI untuk membuat buku bergambar berisi cucu mereka. Niatnya tampak manis, namun respons dari orang tua justru sebaliknya. Banyak yang merasa horor dengan implikasi data anak mereka yang masuk ke dalam model AI tanpa izin.
Salah satu orang tua mengungkapkan kekesalannya dalam unggahan Reddit yang disorot Wired. Ia menulis bahwa ibunya terus membuat cerita AI meski sudah diminta berhenti. “Saya sudah berkali-kali menegaskan bahwa saya tidak mendukung seni yang dihasilkan AI, dan menetapkan batas tegas bahwa ia sama sekali tidak boleh memasukkan foto kami ke AI atau menggunakan informasi identitas kami dengan cara apa pun,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa sang ibu tetap membuat alur cerita berdasarkan pengalaman bersama anaknya, memodelkan karakter dengan atribut yang mirip, dan menggunakan nama depan keluarga. Tujuannya agar sang cucu “melihat keluarganya tercermin” dalam buku tersebut.

Industri Buku Cerita AI Bermunculan
Laporan Wired mencatat bahwa sebuah industri khusus telah bermunculan untuk mendukung tren ini. Setidaknya ada tiga layanan yang menawarkan kemudahan menyisipkan anak langsung ke dalam cerita AI, yaitu Imagitime, StoryWonderBook, dan Childbook.ai. Ketiga platform ini memungkinkan pengguna membuat buku cerita personal dalam hitungan menit.
Menariknya, anak-anak pun tampaknya tidak terkesan dengan kreasi AI tersebut. Seorang ayah dengan anak berusia tujuh dan tiga tahun menceritakan bahwa kedua buah hatinya merasa “bosan” dengan buku AI yang mereka terima dari teman dan keluarga. “Ceritanya terlalu panjang dan bertele-tele. Setelah dibaca sekali, anak-anak saya langsung bilang, ‘Ya sudah, kita baca Little Blue Truck saja,'” ujarnya merujuk pada seri buku anak terlaris karya Alice Schertle.
Kekecewaan anak-anak ini bukanlah hal yang mengejutkan bagi Daozhi Xu, peneliti dari Macquarie University yang menerbitkan analisis tentang “ledakan buku anak AI”. Menurutnya, anak-anak tidak menyukai buku cerita hanya karena nama atau gambar mereka muncul di dalamnya. “Mereka menyukai buku karena ceritanya sendiri menarik,” kata Xu kepada Wired.
Xu menambahkan bahwa dibandingkan buku karya penulis manusia, buku buatan AI “sering kekurangan humor, karakter yang mudah diingat, dan ketegangan dramatis.” Hal ini menjelaskan mengapa anak-anak cepat bosan meski buku tersebut sangat personal.
Baca Juga:
Kekhawatiran Privasi Data Anak
Brandon Kirman, seorang komedian dan seniman, juga berbagi pengalamannya. Orang tuanya memberikan buku buatan AI tentang aktivitas yang biasa mereka lakukan bersama putrinya yang berusia empat dan dua tahun. Kirman menyebut pemberian itu “berniat baik dari pihak mereka, tapi benar-benar mengerikan.” Ia mengaku anak-anaknya tampak kurang antusias dibandingkan saat membaca buku lain.
Aspek paling mengkhawatirkan dari tren ini, menurut Xu, adalah kurangnya transparansi tentang bagaimana foto anak-anak digunakan dan disimpan di platform AI. “Berpotensi dibagikan kepada pihak ketiga atau digunakan untuk melatih model AI,” jelasnya. Ini menjadi pertanyaan besar yang sulit dijawab, terutama oleh para kakek-nenek yang mungkin tidak memahami cara kerja teknologi tersebut.
Fenomena ini menambah daftar panjang persoalan etika seputar penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, AI influencer palsu juga telah menjerat pengguna Facebook dengan konten vulgar, menunjukkan bahwa teknologi ini dapat disalahgunakan di berbagai ranah.
Di sisi lain, dampak finansial dari pengelolaan AI yang buruk juga nyata. Sebuah perusahaan besar pernah mengalami kerugian akibat AI internal yang boros, membuktikan bahwa implementasi teknologi ini membutuhkan pengawasan ketat. Bahkan protes publik terhadap pembangunan data center di AS juga menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang risiko infrastruktur AI.
Bagi para orang tua, tantangan terbesar adalah menyeimbangkan niat baik keluarga besar dengan perlindungan data anak. Meski buku cerita personal dari kakek-nenek terdengar manis, risiko privasi yang menyertainya tidak bisa diabaikan. Anak-anak mungkin hanya ingin membaca Little Blue Truck, tetapi orang tua harus berpikir jauh lebih kompleks tentang masa depan digital buah hati mereka.
Para ahli menyarankan agar orang tua berkomunikasi terbuka dengan keluarga besar tentang batasan penggunaan AI, termasuk soal foto dan data pribadi anak. Di sisi lain, kakek-nenek yang ingin memberikan hadiah bermakna bisa mempertimbangkan alternatif lain yang tidak melibatkan pengunggahan data anak ke platform AI.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi AI, sekalipun digunakan dengan niat baik, tetap membawa konsekuensi yang perlu dipertimbangkan secara matang. Regulasi dan literasi digital menjadi kunci agar tren seperti ini tidak berubah menjadi masalah keluarga yang lebih besar di masa depan.




