JBNews.id — Intel mencatatkan pendapatan kuartal kedua sebesar USD 16,1 miliar, melonjak 25 persen dari tahun ke tahun (YoY). Pencapaian ini jauh melampaui ekspektasi analis Wall Street, sekaligus menandai momentum kebangkitan krusial bagi raksasa teknologi tersebut.
Pendapatan yang disesuaikan mencapai USD 0,42 per saham, hampir dua kali lipat dari proyeksi pasar. Perusahaan pun optimistis menatap kuartal berjalan dengan target penjualan berada di kisaran USD 15,8 miliar hingga USD 16,8 miliar, demikian dikutip dari Techspot, Selasa (28/7/2026).
Divisi AI dan Data Center Jadi Penyelamat
Seperti tren yang tengah melanda berbagai perusahaan teknologi raksasa, penyumbang terbesar Intel kini berasal dari divisi Data Center dan AI. Pendapatan dari unit ini meroket 59 persen menjadi USD 6,3 miliar, didorong oleh lonjakan permintaan CPU yang digunakan berdampingan dengan akselerator AI.
Sementara itu, grup Client Computing dan Physical AI juga mencetak pertumbuhan 13 persen menjadi USD 8,9 miliar, disusul oleh pendapatan dari bisnis foundry yang meningkat 31 persen menjadi USD 5,8 miliar.
Baca Juga:
Imbas Negatif pada Pasar PC Tradisional
Meski membawa untung besar, ledakan AI rupanya memicu masalah baru bagi bisnis PC tradisional Intel. Para produsen memori kini mengalihkan kapasitas produksinya ke produk data center yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi. Kondisi ini berkontribusi langsung pada fenomena kelangkaan dan kenaikan harga perangkat keras untuk konsumen akhir.
Intel bahkan memproyeksikan permintaan PC akan lebih lemah dari biasanya pada paruh kedua tahun 2026, dengan prediksi penurunan pasar hingga persentase dua digit rendah untuk keseluruhan tahun ini.
Di sisi lain, perusahaan juga harus menghadapi tekanan dari sisi harga. Dalam perkembangan terbaru, Intel menaikkan harga Core Ultra 200S Plus secara diam-diam, yang bisa berdampak pada daya beli konsumen.
Titik Balik ‘Intel Baru’
Laporan finansial kuartal ini menjadi titik balik yang luar biasa. Belum lama ini, angka pengiriman CPU server Intel sempat jatuh ke level terendah dalam 14 tahun terakhir. Pada 2024 lalu, perusahaan bahkan menelan rugi bersih tahunan USD 18,8 miliar—kerugian pertama mereka sejak 1986—di mana divisi foundry ikut menyumbang kerugian lebih dari USD 13 miliar.
Masa-masa kelam tersebut sempat memicu rumor liar bahwa Intel akan diakuisisi oleh Qualcomm, atau operasional manufakturnya akan diambil alih oleh TSMC. Namun kini, performa mereka mulai kembali membungkam keraguan pasar.
Intel juga terus berinovasi di berbagai lini. Perusahaan diketahui mengembangkan teknologi Hyper-Threading untuk prosesor 2028, serta menyiapkan chip 18A yang dirancang untuk mengotaki AI satelit lewat proyek Starfire.
Dengan kinerja keuangan yang solid dan strategi fokus pada AI serta data center, Intel kini berada di jalur yang lebih optimistis. Namun, tantangan dari sisi pasar PC tradisional dan tekanan harga tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Bagi para pengamat industri, pertanyaan besarnya adalah apakah Intel mampu mempertahankan momentum ini di tengah persaingan ketat dengan Nvidia dan AMD. Jawabannya akan terlihat pada kuartal-kuartal mendatang.




