JBNews.id — Selama hampir 40 tahun, para astronom dibuat bingung oleh sebuah struktur raksasa yang tampak menjulang dari pusat Galaksi Bima Sakti. Berbagai teori bermunculan, mulai dari sisa ledakan supernova hingga jejak letusan dahsyat lubang hitam supermasif di inti galaksi. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa semua dugaan itu ternyata keliru. Struktur tersebut bukan berada di pusat Bima Sakti, bahkan bukan berbentuk ‘lobus’ seperti yang selama ini diyakini.
Studi yang dipimpin astrofisikawan Kathryn Kreckel dari Heidelberg University, Jerman, menemukan bahwa objek yang dikenal sebagai Galactic Center Lobe (GCL) sebenarnya adalah sebuah gelembung gas berbentuk cincin tertutup yang letaknya jauh lebih dekat ke Bumi. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada Juli 2026.
Sejak ditemukan pada 1980-an melalui teleskop radio, GCL tampak seperti struktur raksasa yang muncul dari inti Bima Sakti. Karena posisinya seolah muncul dari pusat Bima Sakti, para astronom selama ini menduga struktur tersebut merupakan sisa ledakan supernova atau bekas letusan dahsyat yang pernah terjadi di inti galaksi. Banyaknya teori yang saling bertentangan bahkan membuat salah satu tim peneliti menjuluki GCL sebagai ‘uji Rorschach bagi astrofisika galaksi’, merujuk pada tes psikologi yang memungkinkan orang melihat hal berbeda dari gambar yang sama.
Baca Juga:
Pengamatan Baru Mengungkap Fakta
Melalui pengamatan baru menggunakan SDSS-V Local Volume Mapper, tim peneliti berhasil mengamati pancaran sulfur terionisasi yang mampu menembus debu antarbintang lebih baik dibanding pengamatan radio sebelumnya. Data tersebut mengungkap bagian bawah struktur yang selama puluhan tahun tersembunyi.
Hasil analisis menunjukkan GCL berada sekitar 6.520 tahun cahaya dari Bumi, bukan sekitar 26.000 tahun cahaya seperti perkiraan sebelumnya. Artinya, ukurannya juga jauh lebih kecil daripada yang selama ini dibayangkan.
“Kini putusannya sudah jelas. Galactic Center Lobe ternyata bukan berada di pusat galaksi, dan juga bukan sebuah lobus,” tulis tim peneliti dalam laporannya. Karena itu, para peneliti bahkan mengusulkan nama baru yang bernada humor, yaitu ‘greatly confused loop’ atau ‘cincin yang sangat membingungkan’.

Penyebab Sebenarnya GCL
Jika bukan berasal dari lubang hitam di pusat galaksi, lalu apa penyebabnya? Menurut peneliti, struktur tersebut kemungkinan merupakan gelembung raksasa berisi gas hidrogen yang terbentuk akibat aktivitas generasi bintang masif pada masa lalu. Bintang-bintang besar yang hidup singkat akan meledak sebagai supernova, menyapu material di sekitarnya hingga membentuk rongga besar.
Ketika generasi bintang berikutnya lahir, radiasi ultraviolet dari bintang-bintang baru mengionisasi gas di sekelilingnya sehingga tampak bercahaya. Dari sudut pandang Bumi, bagian tepinya terlihat paling terang sehingga membentuk cincin. Ukuran gelembung ini diperkirakan sekitar 115 tahun cahaya, lebih kecil dibanding Barnard’s Loop, gelembung gas terkenal di rasi Orion yang diduga terbentuk melalui proses serupa.
Selama puluhan tahun, para astronom kesulitan memahami GCL karena arah pandangnya tepat menuju pusat Bima Sakti, wilayah yang dipenuhi bintang, awan gas, dan debu. Selain itu, bagian bawah struktur menyatu dengan bidang galaksi sehingga dalam citra radio hanya terlihat seperti struktur terbuka, bukan gelembung utuh.
Tim peneliti menyebut upaya mengungkap identitas GCL sebagai perjuangan panjang. “Ini adalah perjuangan selama 40 tahun untuk memisahkan struktur yang benar-benar berasal dari inti galaksi dengan objek-objek yang sebenarnya berada di bagian depan cakram galaksi,” tulis mereka.
Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan wilayah pusat Bima Sakti yang telah dipelajari selama puluhan tahun masih menyimpan kejutan. Dengan teknik pengamatan yang lebih canggih, para astronom kini dapat membedakan mana struktur yang benar-benar berada di inti galaksi dan mana yang hanya tampak seolah berada di sana akibat ilusi perspektif.
Penemuan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana bintang-bintang masif membentuk lingkungan sekitarnya. Para astronom kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dinamika gas di Galaksi Bima Sakti dan bagaimana struktur serupa mungkin tersembunyi di tempat lain. Ke depannya, teknik serupa dapat digunakan untuk mengidentifikasi objek-objek lain yang selama ini salah diinterpretasikan akibat ilusi perspektif yang sama. Hal ini menjadi pengingat bahwa bahkan objek yang tampak jelas sekalipun bisa menyesatkan tanpa data yang tepat, sebuah pelajaran berharga bagi dunia astronomi yang terus berkembang.




