Hassan Suleiman Target 100 Juta Subscriber dan Luncurkan Kartun Slayman

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Hassan Suleiman atau AboFlah duduk di studio 8Flamez sambil berbincang tentang target 100 juta subscriber YouTube dan kartun Slayman
  • Hassan Suleiman (AboFlah) targetkan 100 juta subscriber YouTube, pertama dari Timur Tengah dan Afrika
  • Luncurkan kartun "Slayman" di Spacetoon, ekspansi ke media tradisional
  • 8Flamez, perusahaan produksi untuk kelola kreator dan bisnis ekonomi kreator
  • Livestream amal 12 hari di Dubai kumpulkan USD 11 juta untuk pengungsi, pecahkan 2 rekor dunia
  • Pembayaran pertama YouTube diterima setelah 4 tahun berkarya tanpa penghasilan
  • Kritik konten pendek sebagai "dopamin murah" namun tetap memanfaatkan tren tersebut
  • Pandangan tegas tentang tanggung jawab keluarga dalam pengawasan anak di media sosial

**JBNews.id —** Hassan Suleiman, kreator konten asal Arab dengan 50 juta subscriber YouTube, menargetkan 100 juta subscriber dan meluncurkan karakter kartun “Slayman” bersama Spacetoon. Target ini menjadikannya kandidat pertama dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang mencapai angka tersebut.

Dalam wawancara eksklusif yang diterbitkan WIRED Middle East, Suleiman yang dikenal dengan nama panggung AboFlah ini membuka rencana besar bisnisnya. Ia tengah mengembangkan 8Flamez, perusahaan produksi yang ia dirikan bersama Eyad Siyam dan Saad Sarwar untuk mengelola kreator dan membangun infrastruktur ekonomi kreator.

Suleiman mengaku ambisinya tumbuh seiring pencapaian yang diraih. “Semakin banyak yang seseorang capai, semakin besar ambisinya. Jadi target sekarang adalah 100 juta. Saya ingin menjadi orang Arab pertama di Timur Tengah dan Afrika Utara—dan seluruh Afrika—yang mencapai 100 juta,” ujarnya.

Kartun Slayman dan Strategi Ekspansi ke Media Tradisional

Langkah berani Suleiman berikutnya adalah masuk ke televisi melalui kartun “Slayman” yang akan tayang di Spacetoon. Keputusan ini menarik karena sebelumnya ia menolak tawaran menjadi presenter TV atau terikat sistem pertelevisian.

“Saya lahir dan besar menonton Spacetoon. Begitu mereka mengajukan ide saya tampil sebagai karakter, saya menyukainya,” kata Suleiman. Ia memperkirakan kartun tersebut rilis akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Meski TV adalah media tradisional yang berbeda dengan platform digital, Suleiman optimistis. “TV tidak seperti media sosial. Di media sosial, kita lebih santai dan spontan. Jika saya bangun dengan ide aneh hari ini, saya bisa langsung melakukannya. Di TV, butuh banyak persetujuan,” jelasnya. Namun, ia menilai karakter Slayman akan menyampaikan pesan positif bagi penonton muda.

Perjalanan Karier dan Dukungan Keluarga

Suleiman mengakui perjalanannya tidak mudah. Pembayaran pertama dari YouTube baru ia terima setelah empat tahun berkarya. Selama periode itu, ia bertahan tanpa penghasilan karena kecintaannya pada konten dan keyakinan akan kesuksesan.

Ayahnya awalnya tidak memahami profesinya sebagai kreator konten. Namun kini, sang ayah merasa puas dan bangga, terutama terhadap aktivitas amal yang dilakukan Suleiman. “Jika di akhir bulan ada uang masuk, ayah saya berkata, ‘OK, anak saya baik-baik saja secara finansial. Itu cukup.’ Tapi dia sangat bangga dengan pekerjaan amal,” ungkapnya.

Suleiman menilai menjadi kreator YouTube saat ini jauh lebih mudah dibandingkan awal kariernya. “Konten pendek memiliki jangkauan yang jauh lebih besar daripada konten panjang. Ada peluang untuk menyebar luas,” katanya. Ia menambahkan bahwa para pebisnis juga sepakat bahwa mencapai status jutawan di era ini lebih mudah daripada sebelumnya.

8Flamez dan Filosofi Kepemimpinan

Sebagai pendiri 8Flamez, Suleiman menegaskan perbedaan besar antara kreator konten dan pemilik bisnis. Ia memilih fokus pada pembuatan konten dan bermitra dengan ahli bisnis seperti Eyad Siyam yang memiliki pengalaman memasarkan perusahaan di Inggris.

“Saya fokus pada hal yang saya kuasai, yaitu membuat konten. Saya tidak ingin kehilangan fokus pada banyak hal,” tegasnya. Ia bahkan mengaku tidak mengetahui jumlah pendapatan bulanannya dan baru mengetahuinya saat bertemu akuntan.

Filosofi yang ia pegang adalah “berikan roti kepada tukang rotinya”—artinya serahkan urusan pada ahlinya. “Saya bermitra dengan orang-orang yang mampu dan bersama-sama kami mengembangkan bisnis selangkah demi selangkah,” ujarnya.

Amal sebagai Pilar Utama

Salah satu pencapaian paling signifikan Suleiman adalah livestream amal selama 12 hari di dalam kotak kaca di Dubai. Kegiatan ini mengumpulkan USD 11 juta untuk pengungsi dan memecahkan dua rekor dunia: livestream terpanjang dan penonton terbanyak untuk acara donasi amal.

“Itu hal paling indah yang pernah saya lakukan. Saya tidak menghasilkan uang secara finansial dari kegiatan itu, tetapi amal memberi saya banyak peluang. Saya menjadi lebih terkenal—dari 10 persen menjadi 100 persen—setelah melakukan amal,” jelasnya. Kesuksesan amal ini juga membuka pintu bagi banyak kesepakatan bisnis dan sponsor.

Meski memikul tanggung jawab besar dari jutaan pengikut, Suleiman belajar mengelolanya. “Saya menyadari bahwa saya manusia biasa. Menyenangkan semua orang adalah tujuan yang mustahil,” katanya.

Pandangan tentang Regulasi Media Sosial untuk Anak

Menanggapi semakin banyaknya negara yang membatasi media sosial untuk anak-anak, Suleiman menilai kebijakan tersebut sangat baik. Ia menekankan tanggung jawab ganda: kreator konten dan keluarga.

“Tanggung jawab ada pada keduanya—kreator konten dan terutama keluarga. Keluarga memiliki kendali untuk mencegah anak mengikuti konten tertentu. Ketika keluarga melepaskan tanggung jawabnya dan menyerahkannya kepada kreator konten, itu berbahaya,” tegasnya.

Ia merencanakan pendekatan ketat untuk anaknya kelak. “Jika saya memiliki anak, saya tidak akan memberikannya ponsel atau mengenalkannya pada media sosial sampai nanti. Saya akan membiarkannya hidup dan merasakan kehidupan,” ujarnya.

Suleiman juga mengkritik konten pendek sebagai “dopamin murah” yang dirancang untuk mengambil fokus seseorang. Meski demikian, ia mengakui memanfaatkan tren ini—video pendek terbarunya meraih 5 juta views dalam sehari. “Sebagai bisnis, ini positif karena lebih banyak views. Namun dari sudut pandang kemanusiaan, ini salah,” katanya.

Ia menyarankan batasan waktu hiburan yang jelas. “Hiburan harus punya waktu yang ditentukan. Setengah jam, satu jam, selesai. Bukan 24 jam. Bukan hal pertama yang dilakukan saat bangun tidur—mengambil ponsel,” pungkasnya.

Dengan 50 juta subscriber saat ini dan target 100 juta di depan, Suleiman terus membangun ekosistem yang mencakup konten digital, animasi televisi, dan perusahaan produksi. Langkah ekspansinya ke media tradisional melalui kartun Slayman menjadi ujian apakah kesuksesan digital dapat ditransfer ke platform konvensional. Perkembangan YouTube Premium dan ekosistem platform juga turut memengaruhi lanskap kompetisi yang ia hadapi.

Di tengah berbagai tantangan, termasuk isu penyebaran konten ilegal di platform YouTube dan adaptasi animasi ke media lain, Suleiman tetap optimistis. Ia meyakini bahwa kecintaan pada pekerjaan dan keyakinan adalah kunci bertahan di industri yang penuh risiko ini.