Getty Batal Akuisisi Shutterstock Rp60 Triliun

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Logo Getty Images dan Shutterstock dengan latar belakang biru
  • Getty Images batalkan akuisisi Shutterstock senilai US$3,7 miliar atau Rp60 triliun
  • Keputusan diambil setelah regulator Inggris (CMA) beri syarat berat
  • CMA minta Shutterstock jual bisnis editorial global termasuk Backgrid dan Splash
  • Departemen Kehakiman AS sebelumnya telah beri persetujuan tanpa syarat
  • Kedua perusahaan hadapi persaingan ketat dari AI image generator
  • Dewan direksi Getty voting bulat untuk batalkan merger pada 6 Juli 2026

JBNews.id — Getty Images secara resmi membatalkan rencana akuisisi terhadap Shutterstock senilai US$3,7 miliar atau setara dengan lebih dari Rp60 triliun setelah regulator Inggris memberlakukan persyaratan yang dinilai terlalu berat. Keputusan ini diambil oleh dewan direksi Getty secara bulat pada 6 Juli 2026.

Pembatalan ini terjadi meskipun Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah memberikan persetujuan antimonopoli tanpa syarat pada Februari lalu. Namun, Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris (CMA) justru mengajukan kondisi yang membuat kesepakatan tersebut tidak lagi menarik bagi Getty.

Dalam pengajuan ke Securities and Exchange Commission (SEC) yang dipublikasikan pada Selasa waktu AS, Getty menyatakan bahwa perusahaan “tidak diwajibkan untuk menerima” persyaratan yang ditetapkan oleh CMA pada Mei lalu. Regulator Inggris tersebut meminta Shutterstock untuk menjual seluruh bisnis editorial globalnya, termasuk agensi paparazzi Backgrid dan Splash, sebagai syarat persetujuan akuisisi.

Persyaratan Regulator yang Memberatkan

Ketentuan yang diajukan CMA dinilai terlalu memberatkan oleh Getty. Permintaan agar Shutterstock melepas unit bisnis editorialnya dipandang akan mengurangi nilai strategis dari keseluruhan transaksi. Kedua perusahaan ini sebenarnya bertujuan untuk menggabungkan perpustakaan foto stok mereka guna menciptakan pemain dominan di industri pencitraan digital.

Dewan direksi Getty “dengan suara bulat” memilih untuk mengakhiri perjanjian merger pada 6 Juli 2026, dengan catatan “dengan asumsi tidak ada perubahan material dalam situasi yang disebutkan sebelumnya” yang terjadi sebelum 7 Juli. Ketentuan ini secara efektif membuat kesepakatan antara Getty dan Shutterstock kandas.

Tekanan dari regulator Inggris memang telah menggagalkan sejumlah kesepakatan serupa di masa lalu. Pada 2021, Meta diperintahkan untuk melepas Giphy karena kekhawatiran persaingan usaha. Giphy kemudian dijual ke Shutterstock pada 2023.

Persaingan dari AI Image Generator

Keputusan Getty untuk membatalkan akuisisi ini juga terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari teknologi kecerdasan buatan. Kedua perusahaan saat ini menghadapi persaingan ketat dari AI image generator yang mampu menyediakan konten media dengan cepat dan murah secara on-demand.

Perkembangan teknologi AI generatif telah mengubah lanskap industri pencitraan digital secara fundamental. Platform seperti DALL-E, Midjourney, dan Stable Diffusion memungkinkan pengguna untuk menghasilkan gambar berkualitas tinggi hanya dengan perintah teks, mengancam model bisnis tradisional perusahaan foto stok seperti Getty dan Shutterstock.

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika regulasi dan tekanan kompetitif dari AI ini menjadi tantangan serius bagi industri foto stok global. Sementara itu, insiden terbaru seperti Facebook dan Instagram down yang membuat ribuan pengguna mengeluh di platform X menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung industri ini.

Implikasi bagi Industri Foto Stok

Pembatalan merger ini meninggalkan kedua perusahaan dalam posisi yang sulit. Tanpa penggabungan, Getty dan Shutterstock harus bersaing secara terpisah melawan AI image generator yang terus berkembang pesat. Persaingan ini tidak hanya soal harga, tetapi juga kecepatan produksi dan fleksibilitas konten.

Bagi para pengguna layanan foto stok, situasi ini berarti mereka akan terus memiliki dua platform besar yang bersaing secara independen. Namun, tekanan dari AI generatif kemungkinan akan memaksa kedua perusahaan untuk berinovasi lebih cepat, baik dari segi harga maupun kualitas layanan.

Keputusan CMA yang membatalkan merger ini juga menjadi preseden penting bagi regulasi akuisisi di sektor teknologi dan media. Otoritas Inggris menunjukkan sikap tegas dalam melindungi persaingan pasar, meskipun regulator di negara lain seperti AS telah memberikan lampu hijau.

Dampak bagi Pemegang Saham

Bagi pemegang saham kedua perusahaan, pembatalan ini berarti hilangnya potensi sinergi yang diharapkan dari penggabungan dua raksasa foto stok. Saham Getty dan Shutterstock kemungkinan akan menghadapi volatilitas dalam jangka pendek seiring pasar mencerna implikasi dari keputusan ini.

Namun, beberapa analis melihat bahwa pembatalan merger justru bisa menjadi peluang bagi kedua perusahaan untuk fokus pada strategi pertumbuhan organik yang lebih adaptif terhadap perubahan teknologi. Dalam jangka panjang, kemampuan untuk beradaptasi dengan AI generatif akan menjadi faktor penentu kesuksesan.

Sementara itu, perkembangan di sektor teknologi lainnya terus berlanjut. Florida menggugat OpenAI dan Sam Altman soal keamanan ChatGPT, menunjukkan meningkatnya pengawasan regulasi terhadap perusahaan AI di berbagai yurisdiksi.

Keputusan Getty untuk membatalkan akuisisi ini menegaskan bahwa meskipun regulator di satu negara memberikan persetujuan, hambatan di negara lain bisa menjadi batu sandungan yang fatal. Bagi perusahaan teknologi global, memahami dan menavigasi lanskap regulasi yang berbeda-beda menjadi semakin krusial.

Ke depannya, industri foto stok harus mencari model bisnis baru yang mampu bersaing dengan AI generatif. Baik Getty maupun Shutterstock memiliki perpustakaan konten berlisensi yang sangat besar, sebuah aset yang masih bernilai di tengah banjir konten yang dihasilkan AI. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka dapat memonetisasi aset tersebut secara efektif.

Bagi konsumen, persaingan antara perusahaan foto stok tradisional dan AI generatif pada akhirnya akan menguntungkan dari segi harga dan pilihan. Namun, isu hak cipta dan orisinalitas konten akan terus menjadi perdebatan yang membutuhkan kejelasan regulasi lebih lanjut.

Pembatalan merger Getty-Shutterstock ini menjadi pengingat bahwa di era digital yang bergerak cepat, bahkan kesepakatan bernilai miliaran dolar pun bisa gagal karena faktor regulasi dan perubahan teknologi yang tak terduga.

[/CONTENT]