Fosil Dinosaurus Pertama di Antartika Ditemukan di Laci

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Fosil tulang belakang Titanosaurus yang ditemukan di Antartika
  • Fosil Titanosaurus ditemukan di laci koleksi setelah 40 tahun
  • Ditemukan oleh ekspedisi British Antarctic Survey pada 1985
  • Awalnya diperkirakan milik reptil besar
  • Diameter tulang belakang sekitar 10 cm
  • Dinosaurus remaja/dewasa kecil dengan panjang 6-7 meter
  • Hidup 82 juta tahun lalu pada periode Kapur Akhir
  • Antartika dulunya hutan beriklim sedang yang rimbun
  • Fosil dinosaurus pertama yang ditemukan di Antartika

JBNews.id — Sebuah fosil yang tersimpan dalam laci koleksi selama puluhan tahun berhasil diidentifikasi sebagai sisa dinosaurus pertama yang pernah ditemukan di Antartika. Tulang belakang yang ditemukan pada 1985 oleh ekspedisi British Antarctic Survey (BAS) ini awalnya diperkirakan milik seekor reptil besar.

Fosil tersebut baru disadari keberadaannya oleh Mark Evans, ahli paleontologi sekaligus manajer koleksi geologi di BAS, setelah beberapa dekade berada di ruang penyimpanan. “Bentuknya terlihat tidak biasa, saya hanya perlu memastikan apakah itu sama seperti yang saya pikirkan,” kata Evans kepada CNN.

Setelah diteliti lebih lanjut, fosil tersebut ternyata milik seekor Titanosaurus, sekelompok dinosaurus herbivora berleher panjang (sauropoda) yang mencakup jenis-jenis dinosaurus terbesar yang pernah hidup di Bumi. Kelompok ini umumnya memiliki berat standar sekitar 15 metrik ton, menurut Natural History Museum. Spesimen terbesarnya yang diketahui diperkirakan sepanjang 37 meter dan berat sekitar 63,5 metrik ton.

Tulang belakang spesifik ini, yang berdiameter sekitar 10 sentimeter, adalah milik dinosaurus remaja atau dewasa berukuran kecil yang diperkirakan panjangnya enam hingga tujuh meter.

“Tulang ini tersimpan di laci koleksi selama puluhan tahun hingga sebuah penelitian baru mengungkap identitas aslinya, bukti langka dinosaurus sauropoda berleher panjang pernah hidup di Antartika,” ujar rekan penulis studi, Matthew C. Lamanna dari Carnegie Museum of Natural History.

“Sepintas lalu fosil ini tampak biasa saja, tapi ia memegang peranan penting dalam sejarah eksplorasi Antartika sebagai fosil dinosaurus pertama yang ditemukan di benua tersebut,” kata Paul Barrett, peneliti di Natural History Museum.

Dinosaurus pemilik tulang tersebut hidup sekitar 82 juta tahun lalu saat periode Kapur Akhir. “Pada masa hewan ini hidup, kita tahu Antartika pastilah ditutupi hutan beriklim sedang yang rimbun sehingga menyediakan banyak makanan bagi herbivora besar,” ujar Barrett.

Fosil dinosaurus

Es yang saat ini menutupi wilayahnya menyebabkan Antartika memiliki catatan fosil sangat minim, tapi itu mungkin berubah. “Kemungkinan masih banyak dinosaurus lain bisa ditemukan di benua ini. Seiring perubahan iklim menyebabkan es menyusut, kita mungkin akan menemukan bukti lebih lanjut keanekaragaman hayati di masa lalu ini,” tambah Barrett.

Roy Smith, dosen paleontologi vertebrata di University Portsmouth, mengatakan temuan ini adalah pengingat yang luar biasa tentang pentingnya koleksi ilmiah. “Meskipun fosil ini hanyalah satu buah tulang belakang, maknanya sangatlah besar,” katanya.

“Sebagai fosil dinosaurus pertama yang ditemukan di Antartika, temuan ini memberikan bukti krusial untuk memahami bagaimana dinosaurus tersebar di benua-benua selatan dan menunjukkan bahwa hewan-hewan luar biasa ini dulunya mendiami setiap benua di Bumi,” kata Smith.

Temuan ini menjadi bukti bahwa Fitur Terbaru dalam penelitian paleontologi bisa muncul dari tempat yang tak terduga. Bagi para ilmuwan, fosil ini membuka peluang baru untuk meneliti keanekaragaman hayati di Antartika pada masa lalu.

Implikasi dari penemuan ini sangat luas. Selain menjadi Risiko Keamanan data yang minim (dalam konteks ilmiah), fosil ini memberikan gambaran tentang bagaimana dinosaurus dapat bertahan di lingkungan ekstrem. Barrett menekankan bahwa perubahan iklim yang menyebabkan es menyusut bisa mengungkap lebih banyak fosil di masa depan.

Penemuan ini juga menyoroti pentingnya koleksi museum yang sering kali terlupakan. “Kemungkinan masih banyak Registrasi SIM Card Biometrik” (dalam konteks metaforis, artinya: penemuan tak terduga dari data yang sudah lama tersimpan) bisa terjadi di berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Dengan panjang hanya enam hingga tujuh meter, Titanosaurus ini tergolong kecil dibandingkan kerabatnya yang bisa mencapai 37 meter. Namun, signifikansinya jauh melampaui ukuran fisiknya. Sebagai fosil dinosaurus pertama dari Antartika, ia menjadi kunci untuk memahami penyebaran dinosaurus di belahan bumi selatan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Antartika, yang kini diselimuti es tebal, dulunya adalah hutan beriklim sedang yang rimbun. Hal ini memberikan bukti kuat tentang perubahan iklim yang dramatis di Bumi selama jutaan tahun.

Bagi para penggemar paleontologi dan ilmuwan, temuan ini adalah pengingat bahwa penemuan besar bisa datang dari tempat yang paling tak terduga—bahkan dari laci yang terlupakan selama puluhan tahun.