GameStop Raup Cuan Lebih Besar dari Kartu Pokemon Dibanding Game

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
Seri Kartu Pokemon Evolusi Mega Impian ex yang menjadi primadona baru bisnis GameStop di tahun 2026
  • GameStop kini lebih banyak cuan dari penjualan kartu Pokemon dan barang koleksi dibanding game fisik
  • CEO Ryan Cohen ungkap kontribusi penjualan game fisik hanya di bawah 12% dari total pendapatan
  • Lini bisnis barang koleksi dan kartu permainan menyumbang sekitar 41% pendapatan GameStop
  • Kartu Pokemon menjadi produk tunggal paling laris di rak toko GameStop
  • Bisnis kartu koleksi antarkan GameStop raih rekor pendapatan operasional USD 143 juta di Q1 2026
  • Tren industri game global semakin meninggalkan format fisik menuju digital
  • Sony akan hentikan produksi game fisik PlayStation mulai Januari 2028
  • Otoritas Uni Eropa tidak bisa mencegah kebijakan Sony tersebut

JBNews.id — Nama besar GameStop selama puluhan tahun selalu identik sebagai surga belanja bagi para penggemar video game fisik. Namun secara mengejutkan, jaringan toko ritel raksasa tersebut kini justru mendulang lebih banyak cuan dari penjualan kartu Pokemon dan barang koleksi dibandingkan kepingan kaset game itu sendiri.

Fakta ironis ini terungkap setelah CEO GameStop, Ryan Cohen, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut bahwa penjualan kepingan cakram game fisik kini sudah sama sekali tidak relevan bagi perusahaannya. Dalam wawancara terbarunya, Cohen menjelaskan bahwa penurunan tren game fisik tidak akan mengganggu bisnis GameStop.

Pasalnya, kontribusi penjualan perangkat lunak atau video game saat ini hanya menyumbang kurang dari 12 persen dari keseluruhan total pendapatan perusahaan. Membongkar rahasia dapur perusahaannya, Cohen mencatat bahwa lini bisnis barang koleksi dan kartu permainan kini menjadi mesin pencetak uang utama yang menyumbang sekitar 41 persen pendapatan GameStop.

Dari sekian banyak barang dagangan, kartu permainan Pokemon dinobatkan sebagai produk tunggal yang paling laris manis diserbu pembeli di rak toko mereka. Peralihan strategi ini terbukti sangat menguntungkan. Bisnis kartu dan barang koleksi ini bahkan berhasil mengantarkan GameStop mencetak rekor pendapatan operasional tertinggi dalam sejarah mereka pada kuartal pertama tahun 2026, yakni mencapai USD 143 juta.

Peralihan fokus bisnis GameStop ini sejalan dengan tren industri game global yang semakin meninggalkan format fisik. Meski memancing kekecewaan dari sebagian gamer yang menuntut jaringan ritel seperti GameStop untuk memperjuangkan warisan kaset fisik, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dominasi unduhan digital sudah tidak bisa dibendung.

Beberapa realita yang mempertegas berakhirnya era game fisik di industri saat ini antara lain: Banyak game besar terbaru dari penerbit AAA seperti Cairn, Marathon, Esoteric Ebb, dan The Alters: Last Variable yang diluncurkan murni dalam format digital. Rockstar Games mengumumkan bahwa Grand Theft Auto VI akan dirilis secara digital, di mana edisi fisiknya diprediksi hanya berisi selembar kode unduhan, meski belakangan muncul wacana revisi akibat protes penggemar.

Sony secara resmi telah mengumumkan akan berhenti merilis salinan fisik untuk judul game PlayStation baru mulai Januari 2028. Tumbangnya perlawanan para kolektor game fisik ini semakin nyata setelah otoritas Uni Eropa pada pekan ini turut mengklarifikasi bahwa mereka tidak memiliki wewenang untuk mencegah kebijakan Sony terkait penghentian kaset fisik tersebut, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (19/7/2026).

Fenomena ini menunjukkan bagaimana model bisnis ritel game tradisional harus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. GameStop, yang dulu identik dengan rak-rak berisi kaset game bekas dan baru, kini justru lebih bergantung pada kartu koleksi dan mainan. Hal ini juga mencerminkan bagaimana pasar barang koleksi, khususnya kartu Pokemon, memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dan stabil.

Bagi para kolektor dan penggemar, fenomena ini mungkin tidak mengejutkan. Harga kartu Pokemon langka di pasar sekunder bisa mencapai jutaan hingga ratusan juta rupiah, melampaui nilai jual kaset game baru sekalipun. Daya tarik nostalgia, kelangkaan, dan komunitas yang solid menjadi faktor pendorong utama di balik permintaan yang terus meningkat.

Sementara itu, bagi industri game secara keseluruhan, transisi ke digital adalah keniscayaan. Kemudahan akses, penyimpanan tanpa batas, dan model berlangganan seperti Xbox Game Pass dan PlayStation Plus semakin mempercepat matinya format fisik. GameStop, dengan strategi barunya, seolah memberikan konfirmasi paling gamblang tentang arah masa depan industri ini.

Langkah GameStop ini juga menjadi pelajaran bagi para pebisnis ritel lainnya untuk tidak terlalu bergantung pada satu lini produk yang sedang menurun. Diversifikasi ke produk yang memiliki basis penggemar setia, seperti kartu koleksi, bisa menjadi penyelamat di tengah disrupsi digital. Google Buka Toko Aplikasi Pesaing di Play Store juga menunjukkan bagaimana persaingan di ranah digital semakin ketat, memaksa pemain lama untuk berinovasi atau tergerus.

Ke depannya, kita mungkin akan melihat lebih banyak toko game fisik yang mengubah tampilan tokonya. Rak-rak kaset game mungkin akan semakin menyempit, digantikan oleh etalase kaca yang memajang kartu Pokemon, action figure, dan merchandise eksklusif lainnya. Ini bukan lagi sekadar tren, melainkan realitas baru di industri hiburan.

Bagi penggemar game yang masih setia pada format fisik, kabar ini mungkin terasa pahit. Namun, data dari GameStop menunjukkan bahwa mayoritas konsumen telah beralih. Keputusan bisnis yang diambil oleh Ryan Cohen adalah respons rasional terhadap realitas pasar, bukan sekadar iseng. Dengan pendapatan operasional USD 143 juta, strategi ini terbukti berhasil secara finansial.

Fenomena ini juga membuka mata tentang nilai sebuah “koleksi”. Di era digital, memiliki file game di hard drive tidak memberikan kepuasan yang sama seperti memegang sebuah kotak kaset, membuka plastiknya, dan mencium aroma buku manual. Barang koleksi fisik seperti kartu Pokemon mengisi kekosongan itu, menawarkan pengalaman taktil yang tidak bisa ditiru oleh unduhan digital.

Dengan semua bukti yang ada, masa depan GameStop sebagai “toko game” mungkin akan bergeser menjadi “toko barang koleksi”. Nama besarnya mungkin tetap sama, tetapi identitasnya akan berubah total. Ini adalah contoh sempurna dari adaptasi bisnis di era disrupsi, di mana bertahan hidup berarti berani meninggalkan masa lalu.

Para pengamat industri memperkirakan bahwa tren ini akan terus berlanjut dan bahkan diikuti oleh peritel game lainnya. Jika GameStop, yang merupakan salah satu rantai toko game terbesar di dunia, telah mengambil langkah ini, maka peritel kecil kemungkinan besar akan mengikuti jejak yang sama untuk tetap bisa bertahan.

Kesimpulannya, cerita GameStop adalah sebuah metafora untuk seluruh industri hiburan saat ini: apa yang dulu dianggap sebagai inti bisnis bisa menjadi tidak relevan dalam sekejap. Kemampuan untuk membaca tren dan beradaptasi dengan cepat adalah kunci utama untuk bertahan dan bahkan meraih kesuksesan baru, seperti yang dibuktikan oleh raksasa ritel ini dengan kartu Pokemon-nya.

Bagi para penggemar game di Indonesia, fenomena ini mungkin belum terasa dampaknya secara langsung. Namun, dengan semakin maraknya platform digital dan toko online, bukan tidak mungkin peritel game lokal juga akan mengalami pergeseran serupa dalam beberapa tahun ke depan. Google Ubah Sistem Kuota Gemini AI juga menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar terus beradaptasi, menjadi preseden bagi industri lainnya.

GameStop telah memberikan peta jalan yang jelas: di era digital, yang fisik bukan lagi kaset game, melainkan barang koleksi yang bisa disentuh, dipamerkan, dan diperdagangkan dengan nilai tinggi. Kartu Pokemon adalah raja baru di kerajaan GameStop.

Dengan strategi ini, GameStop tidak hanya bertahan dari badai digital, tetapi justru berlayar dengan angin segar menuju rekor pendapatan baru. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam bisnis, tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Dan bagi GameStop, perubahan itu bernama Pokemon.

Ke depan, akan menarik untuk melihat apakah GameStop akan memperluas lini barang koleksinya ke properti intelektual lain yang sedang naik daun, seperti kartu One Piece atau bahkan kartu olahraga digital (NFT) jika tren itu kembali bangkit. Yang jelas, GameStop telah menemukan tambang emasnya, dan mereka tidak akan meninggalkannya dalam waktu dekat.

Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan baru: akankah penerbit game seperti Nintendo, yang memiliki hak atas Pokemon, mulai mengambil langkah untuk mengontrol pasar kartu koleksi mereka sendiri dengan lebih ketat? Atau justru mereka akan merangkul fenomena ini sebagai sumber pendapatan baru? Hanya waktu yang akan menjawab.

Yang pasti, bagi para pebisnis dan pengamat industri, kisah GameStop adalah studi kasus yang brilian tentang bagaimana sebuah perusahaan bisa berputar 180 derajat dan tetap sukses. Ini bukan sekadar berita tentang game, melainkan pelajaran tentang strategi bisnis di abad ke-21.

Dengan pendapatan operasional USD 143 juta hanya dalam satu kuartal, GameStop telah membuktikan bahwa para peragu salah. Kartu Pokemon bukan hanya mainan anak-anak, melainkan aset bisnis yang sangat serius dan menguntungkan. Dan GameStop kini menjadi bukti hidup dari kesuksesan tersebut.