JBNews.id ā GameStop, jaringan ritel game terkemuka asal Amerika Serikat, kini justru meraup pendapatan lebih besar dari penjualan kartu Pokemon dibandingkan dengan penjualan kepingan game fisik itu sendiri. Fakta ini terungkap setelah CEO GameStop, Ryan Cohen, mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan banyak pihak.
Dalam sebuah wawancara terbaru, Cohen mengungkapkan bahwa penjualan kepingan cakram game fisik saat ini sudah sama sekali tidak relevan bagi perusahaannya. Penurunan tren game fisik disebut tidak akan mengganggu bisnis GameStop karena kontribusi penjualan perangkat lunak atau video game saat ini hanya menyumbang kurang dari 12 persen dari keseluruhan total pendapatan perusahaan.
Sebaliknya, lini bisnis barang koleksi dan kartu permainan kini menjadi mesin pencetak uang utama. Cohen mencatat bahwa segmen ini menyumbang sekitar 41 persen pendapatan GameStop. Dari sekian banyak barang dagangan, kartu permainan Pokemon dinobatkan sebagai produk tunggal yang paling laris manis diserbu pembeli di rak toko mereka.
Peralihan strategi ini terbukti sangat menguntungkan. Bisnis kartu dan barang koleksi ini bahkan berhasil mengantarkan GameStop mencetak rekor pendapatan operasional tertinggi dalam sejarah mereka pada kuartal pertama tahun 2026, yakni mencapai USD 143 juta.
Era Digital Kian Mendominasi
Peralihan fokus bisnis GameStop ini sejalan dengan tren industri game global yang semakin meninggalkan format fisik. Meski memancing kekecewaan dari sebagian gamer yang menuntut jaringan ritel seperti GameStop untuk memperjuangkan warisan kaset fisik, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dominasi unduhan digital sudah tidak bisa dibendung.
Beberapa realita yang mempertegas berakhirnya era game fisik di industri saat ini antara lain:
- Banyak game besar terbaru dari penerbit AAA seperti Cairn, Marathon, Esoteric Ebb, dan The Alters: Last Variable yang diluncurkan murni dalam format digital.
- Rockstar Games mengumumkan bahwa Grand Theft Auto VI akan dirilis secara digital, di mana edisi fisiknya diprediksi hanya berisi selembar kode unduhan, meski belakangan muncul wacana revisi akibat protes penggemar.
- Sony secara resmi telah mengumumkan akan berhenti merilis salinan fisik untuk judul game PlayStation baru mulai Januari 2028.
Tumbangnya perlawanan para kolektor game fisik ini semakin nyata setelah otoritas Uni Eropa pada pekan ini turut mengklarifikasi bahwa mereka tidak memiliki wewenang untuk mencegah kebijakan Sony terkait penghentian kaset fisik tersebut, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (19/7/2026).

Fenomena ini juga menarik untuk dicermati dari sisi bisnis ritel. Sementara GameStop sukses beralih ke barang koleksi, tren lain di industri teknologi juga menunjukkan pergeseran serupa. Misalnya, Toko Aplikasi Pesaing yang akan dibuka Google mulai 22 Juli mendatang, menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar terus berinovasi dalam model bisnis digital.
Baca Juga:
Implikasi bagi Industri Game
Keberhasilan GameStop beralih ke penjualan kartu Pokemon menunjukkan bahwa model bisnis ritel game fisik tradisional harus beradaptasi dengan cepat. Fenomena ini juga mengonfirmasi bahwa nilai dari barang koleksi fisik, seperti kartu Pokemon, masih memiliki daya tarik yang kuat di kalangan konsumen, bahkan ketika game digital semakin dominan.
Bagi para kolektor game fisik, kabar ini mungkin mengecewakan. Namun, data dari GameStop menunjukkan bahwa pasar telah berbicara. Konsumen kini lebih memilih kemudahan unduhan digital dan daya tarik barang koleksi fisik seperti kartu Pokemon dibandingkan dengan kepingan game tradisional.
Dengan rekor pendapatan operasional USD 143 juta yang diraih pada kuartal pertama 2026, GameStop membuktikan bahwa strategi diversifikasi ke barang koleksi adalah langkah yang tepat. Perusahaan ritel game lainnya mungkin perlu mengikuti jejak serupa untuk tetap relevan di tengah perubahan preferensi konsumen dan perkembangan teknologi.
Selain itu, perkembangan di sektor lain seperti Sistem Kuota Gemini AI yang diubah Google berdasarkan kompleksitas, juga menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi terus beradaptasi dengan kebutuhan pengguna yang semakin spesifik.
Kisah GameStop ini menjadi pelajaran berharga bagi para pebisnis di industri ritel. Ketika produk utama mulai ditinggalkan pasar, kemampuan untuk membaca tren dan beralih ke lini bisnis yang lebih menguntungkan adalah kunci untuk bertahan dan bahkan meraih kesuksesan baru.




