JBNews.id — Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) resmi mengajukan gugatan hukum terhadap platform telehealth populer Hims and Hers pada Rabu (Juli 2026). Gugatan ini diajukan menyusul dugaan kuat bahwa perusahaan tersebut membagikan informasi kesehatan penggunanya kepada pihak ketiga, termasuk Meta milik Mark Zuckerberg dan Snap, tanpa izin yang sah.
Hims and Hers diketahui memiliki sekitar 2,6 juta pengguna aktif yang memanfaatkan layanan aplikasi untuk mendapatkan resep obat disfungsi ereksi, obat penumbuh rambut, hingga berbagai perawatan kesehatan intim lainnya. FTC menuding praktik berbagi data ini bertentangan langsung dengan janji privasi yang diiklankan perusahaan.
Dalam gugatannya, FTC menyebut klaim Hims and Hers yang menyatakan layanannya “100 persen online, privat, dan aman” adalah pernyataan yang menyesatkan. “Alih-alih menghormati janji privasi mereka, Hims memilih untuk mengembangkan perusahaan dan meningkatkan aliran pendapatan dengan platform periklanan seperti Meta dan Snap,” demikian bunyi dokumen gugatan yang dikutip dari laporan Gizmodo.
Meta dan Snap Jadi Target Utama Kebocoran Data
Gugatan FTC ini tidak secara langsung menyalahkan Meta sebagai pihak yang bersalah. Namun, dokumen tersebut mengungkapkan bahwa Hims and Hers menggunakan dua “teknologi pelacakan otomatis yang ditawarkan oleh Meta” untuk memantau aktivitas pengguna di aplikasi telehealth mereka. Dua alat tersebut secara otomatis melacak dan mengungkapkan “Events” atau tindakan pengguna tertentu kepada Meta.
Hal ini menjadi perhatian serius mengingat Hims and Hers memasarkan berbagai macam obat kesehatan pria, namun yang paling dikenal publik adalah pil disfungsi ereksi. Kebocoran data medis jenis ini tentu jauh lebih sensitif dibanding kebocoran data pribadi biasa, mengingat sifat informasi yang sangat privat bagi para penggunanya.

Baca Juga:
Respons Hims and Hers dan Proses Hukum
Menanggapi gugatan ini, Hims and Hers mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah seluruh tuduhan FTC. Perusahaan menilai kasus yang diajukan tersebut “bukan penegakan hukum yang berlandaskan perlindungan konsumen,” melainkan “upaya untuk menghasilkan pemberitaan dengan mengorbankan perusahaan kami.”
Gugatan ini sendiri merupakan puncak dari penyelidikan yang dilakukan FTC selama tiga tahun terakhir. Meski demikian, proses hukum yang berjalan saat ini masih berada pada tahap sangat awal, yang berarti putusan final berpotensi baru tercapai beberapa tahun ke depan.
Perkembangan ini menambah daftar panjang kekhawatiran terkait keamanan data di era digital. Sebelumnya, 55% warga AS telah menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap perkembangan teknologi yang tidak diimbangi regulasi yang memadai. Kasus Hims and Hers ini menjadi bukti nyata bahwa risiko kebocoran data bukan sekadar skenario hipotetis, melainkan ancaman yang telah terjadi di layanan kesehatan digital berskala besar.
Isu privasi data kesehatan ini juga beririsan dengan perdebatan yang lebih luas mengenai tata kelola teknologi. Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dan platform digital untuk berbagai layanan sensitif, kasus semacam ini menyoroti celah regulasi yang masih terbuka lebar. Kepercayaan publik terhadap keamanan data menjadi taruhan utama, baik bagi perusahaan teknologi maupun pengguna layanan kesehatan modern.
Bagi para pengguna aplikasi telehealth, kasus ini menjadi pengingat penting bahwa janji privasi dalam layanan digital tidak selalu sejalan dengan praktik bisnis perusahaan. Sementara proses hukum masih berjalan panjang, dampak reputasional terhadap Hims and Hers dan industri telehealth secara keseluruhan sudah mulai terasa.
Implikasi dari gugatan ini tidak hanya berhenti pada dua perusahaan yang bersengketa. Kasus ini berpotensi mengubah cara platform kesehatan digital memperlakukan data pengguna di masa depan, sekaligus menjadi preseden penting bagi pengawasan regulasi terhadap praktik berbagi data di sektor kesehatan. Jika FTC memenangkan kasus ini, perusahaan telehealth lain mungkin akan berpikir dua kali sebelum menjadikan data kesehatan pengguna sebagai komoditas bisnis periklanan.




