Film Resident Evil Terbaru Beda dari Game, Gamer Protes Keras

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Film Resident Evil terbaru garapan sutradara Zach Cregger dengan protagonis Bryan yang diperankan Austin Abrams
  • Film Resident Evil terbaru garapan Zach Cregger menuai protes dari gamer karena terlalu berbeda dari versi game Capcom
  • Karakter ikonik seperti Leon Kennedy, Chris Redfield, Jill Valentine, dan Claire Redfield tidak hadir dalam film
  • Sutradara sengaja menghindari karakter game dan memilih cerita orisinal dengan protagonis baru bernama Bryan
  • Film akan tayang di bioskop pada 18 September 2026

JBNews.id — Film Resident Evil terbaru garapan sutradara Zach Cregger menuai protes keras dari para penggemar game karena dinilai terlalu jauh dari versi asli besutan Capcom. Para gamer menilai film ini hanya sekadar film horor biasa, bukan adaptasi yang setia dari game survival horor legendaris tersebut.

“Ini lebih mirip spin-off 28 Days Later daripada Resident Evil,” klaim seorang penggemar, dilansir IGN, Selasa (28/7/2026). Kekecewaan utama para penggemar adalah absennya karakter-karakter ikonik seperti Leon S Kennedy, Chris Redfield, Jill Valentine, dan Claire Redfield — yang merupakan tokoh inti dari cerita awal Raccoon City.

Keputusan kontroversial ini diambil Cregger dengan alasan kreatif yang kuat. Sutradara tersebut secara terbuka mengakui bahwa ia sengaja menghindari karakter-karakter dari game Capcom dan memilih untuk menceritakan kisahnya sendiri.

“Saya tidak mencoba mengadaptasi dari video game. Saya tidak menggunakan karakter dari game tersebut. Saya tidak menceritakan kisah yang sama seperti yang diceritakan game, karena saya tidak akan mampu melakukannya lebih baik daripada game tersebut,” ujar Cregger.

Dia mengakui bahwa Capcom telah mengeksekusi game Resident Evil dengan sangat baik. Menurutnya, Leon, Claire, dan sejumlah karakter lain hadir dengan sangat sempurna di dalam permainan. “Sehingga siapa pun yang saya pilih sebagai pemeran dan perbedaan apa pun yang saya lakukan terhadap mereka mungkin akan merugikan apa yang ingin saya capai,” ucapnya.

Cregger telah memahami kekhawatiran para penggemar, namun ia tidak menyesali keputusannya untuk mengeksplorasi dunia yang dilanda T-Virus dari perspektif baru. Ia mengaku mungkin tidak akan menikmati mengerjakan film yang terlalu bergantung pada karakter dan cerita yang sudah ada.

“Tapi jika saya melakukan itu, saya rasa saya tidak akan merasa puas secara kreatif, dan saya bahkan tidak berpikir mereka akan menikmatinya. Jika saya hanya membuat cerita dari game-game tersebut, saya rasa penggemar berat akan kecewa. Jadi saya tidak tahu harus berbuat apa,” tambahnya.

Film Resident Evil kali ini akan mengikuti protagonis bernama Bryan, seorang pria biasa yang berperan sebagai kurir obat. Bryan diperankan oleh Austin Abrams dari Weapons. “Konsepnya di sini adalah kita mengikuti seorang idiot. Bukan berarti dia bodoh, tetapi dia bukan tipikal karakter game, tanpa keterampilan bertarung sama sekali dan benar-benar tidak becus dalam bertahan hidup. Bryan adalah orang biasa yang kebetulan dibebani dengan misi suci yang akan membawanya ke jantung segalanya. Ini seperti Frodo yang pergi ke Mordor,” jelasnya.

Meskipun menuai kontroversi, pendekatan Zach Cregger ini bukanlah fenomena baru di Hollywood. Tren adaptasi video game ke layar lebar kini semakin marak, seiring dengan mulai ditinggalkannya genre film superhero. Untuk konteks lebih lanjut, simak ulasan tentang film adaptasi game yang menjadi primadona baru Hollywood.

Namun, keputusan Cregger untuk tidak menyertakan karakter ikonik Resident Evil menjadi perdebatan tersendiri. Beberapa pihak menilai langkah ini berisiko mengasingkan basis penggemar setia waralaba tersebut. Di sisi lain, pendekatan orisinal ini bisa menjadi angin segar bagi genre film horor yang selama ini bergantung pada reboot dan remake.

Fenomena serupa juga terjadi di industri film lainnya, di mana beberapa sutradara memilih jalur kreatif yang kontroversial. Salah satu contohnya adalah kasus Blomkamp dan AI film yang dianggap sebagai tanda kemunduran karier sutradara.

Film Resident Evil karya Zach Cregger akan menentukan apakah pendekatan berani ini berhasil memenuhi ekspektasi penonton. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop pada 18 September 2026. Para penggemar bisa langsung menyaksikannya dan menilai sendiri apakah film ini layak menyandang nama Resident Evil.

Bagi para penggemar yang ingin menghindari bocoran cerita sebelum menonton, ada baiknya mempelajari cara efektif hindari spoiler film di media sosial.

Ke depannya, keputusan kreatif seperti ini akan terus menjadi dilema bagi sineas yang mengadaptasi properti intelektual populer. Di satu sisi, kesetiaan terhadap sumber asli diperlukan untuk memuaskan penggemar setia. Di sisi lain, kebebasan kreatif diperlukan untuk menghasilkan karya yang berdiri sendiri dan bermakna.

Yang jelas, film Resident Evil terbaru ini akan menjadi studi kasus menarik tentang batas antara adaptasi setia dan reinterpretasi kreatif dalam industri hiburan modern. Para penggemar dan kritikus sama-sama menunggu apakah langkah berani Zach Cregger akan membuahkan hasil atau justru menjadi bumerang bagi waralaba yang sudah puluhan tahun dicintai ini.

Terlepas dari kontroversi yang ada, satu hal yang pasti: industri film adaptasi game terus berkembang dan mencari formula terbaik untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang autentik. Perkembangan teknologi seperti penggunaan AI dalam pembuatan film juga turut mempengaruhi lanskap industri ini, sebagaimana terlihat dalam produksi film Lord of the Rings yang menggunakan AI untuk de-aging karakter.

Dengan segala kontroversi dan ekspektasi yang mengelilinginya, film Resident Evil terbaru ini dipastikan akan menjadi salah satu film horor paling dinantikan di tahun 2026. Apakah keputusan Zach Cregger untuk mengambil jalur berbeda akan terbayar? Jawabannya akan diketahui saat film ini resmi tayang di bioskop pada September mendatang.