DuckDuckGo Jual Kacamata Anti-Surveillance Tanpa AI Seharga Rp560 Ribu

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Kacamata hitam DuckDuckGo tanpa kamera untuk melindungi privasi
  • DuckDuckGo berkolaborasi dengan Knockaround meluncurkan kacamata anti-surveillance tanpa elektronik
  • Produk dijual seharga US$35, jauh lebih murah dari kacamata Meta yang mulai US$299
  • Respons atas penyalahgunaan kacamata AI Meta yang dijuluki "kacamata mesum" untuk mengintai orang di publik
  • Kacamata tidak memiliki kamera, mikrofon, AI, baterai, atau elektronik apa pun
  • Persentase signifikan dari stok telah terjual menurut perwakilan DuckDuckGo
  • Fenomena ini mencerminkan kejenuhan publik terhadap penetrasi AI yang agresif
  • Netizen mengusulkan produk serupa untuk kategori lain seperti TV dan kulkas

JBNews.id — DuckDuckGo, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai alternatif Google yang fokus pada privasi, meluncurkan produk terbaru yang kontras dengan tren industri: sepasang kacamata hitam tanpa elektronik sama sekali. Produk yang dijuluki “Normal F***ing Sunglasses” ini merupakan respons langsung terhadap kontroversi kacamata pintar bermuatan AI milik Meta yang kerap disalahgunakan untuk mengintai orang di ruang publik.

Kacamata antikamera ini merupakan hasil kolaborasi DuckDuckGo dengan produsen kacamata Knockaround. Dalam laman resminya, Knockaround menegaskan produk tersebut tidak memiliki kamera, mikrofon, AI, baterai, maupun komponen elektronik apa pun. “Hanya sepasang kacamata hitam matte black yang dirancang indah dengan logo DuckDuckGo mengilap, dirancang untuk menghalau sinar matahari dan tidak pernah mengirim data ke cloud,” demikian pernyataan perusahaan dalam situsnya.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap penyalahgunaan kacamata pintar Meta yang dibanderol mulai dari US$299 atau sekitar Rp4,8 juta. Perangkat tersebut mendapat julukan tidak sedap “kacamata mesum” karena kamera yang mudah terlewat oleh korban, memungkinkan oknum tidak bertanggung jawab melecehkan orang asing di tempat umum tanpa sepengetahuan mereka. Bahkan, pemilik sah yang telah mengeluarkan ratusan dolar kini enggan memakai perangkat tersebut di luar ruangan karena takut dicap negatif.

Sebagai perbandingan, produk DuckDuckGo ini dijual hanya dengan harga US$35 atau sekitar Rp560 ribu. Selisih harga yang sangat signifikan ini menjadikannya pilihan yang jauh lebih terjangkau bagi masyarakat yang menginginkan kacamata tanpa risiko pelanggaran privasi.

Kampanye Pemasaran yang Sukses

DuckDuckGo bahkan harus meyakinkan publik melalui pengumuman resmi di platform X bahwa produk ini benar-benar nyata, bukan sekadar lelucon. Respons netizen pun beragam, mulai dari apresiasi hingga humor. Publikasi satir The Onion bahkan ikut mempromosikan produk ini dengan mengutip berbagai reaksi fiktif, termasuk komentar “0/10, tidak berguna untuk para mesum” dan “Sepertinya saya harus melanggar privasi orang dengan cara kuno: dari balik semak-semak.”

Strategi pemasaran ini terbukti efektif. Seorang perwakilan DuckDuckGo mengungkapkan kepada CNET bahwa persentase signifikan dari stok telah terjual, meskipun masih terlalu dini untuk merilis data penjualan resmi.

Fenomena ini juga mencerminkan kejenuhan publik terhadap penetrasi AI yang semakin agresif dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pengguna Bluesky bahkan terinspirasi untuk mengusulkan produk serupa di kategori lain: “Ini awal yang bagus. Bisakah kita dapatkan TV Normal F*ing dan Kulkas Normal F*ing berikutnya?”

Seorang pria mengenakan kacamata hitam anti-surveillance DuckDuckGo

Implikasi bagi Industri Teknologi

Keberhasilan produk ini menunjukkan adanya pasar yang signifikan untuk perangkat “dumb” atau sederhana di tengah gempuran teknologi pintar. Sementara Meta terus berjuang menindak pengguna yang menyalahgunakan kacamata AI-nya, DuckDuckGo justru memanfaatkan celah ini dengan menawarkan solusi yang sepenuhnya menghilangkan risiko.

Langkah DuckDuckGo ini juga mempertegas posisinya yang selama ini konsisten menjauhi praktik Big Tech. Perusahaan yang berbasis di Paoli, Pennsylvania ini telah lama membangun reputasi sebagai pelindung privasi pengguna internet, dan produk terbaru ini memperkuat citra tersebut di ranah perangkat keras.

Bagi konsumen Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat penting tentang trade-off antara kemudahan teknologi dan risiko privasi. Sementara kacamata pintar menawarkan fungsionalitas kamera dan AI, produk sederhana seperti yang diluncurkan DuckDuckGo ini menawarkan ketenangan pikiran yang tidak bisa dibeli dengan teknologi apa pun. Tren “de-teknifikasi” produk konsumen ini bisa menjadi sinyal pergeseran preferensi publik yang semakin sadar privasi, sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran tentang risiko keamanan data di berbagai platform digital.

Dengan harga yang hanya sepersepuluh dari produk Meta, kacamata ini bukan sekadar aksesori mode, melainkan pernyataan sikap terhadap arah industri teknologi yang semakin invasif. Pertanyaannya kini: apakah tren ini akan diikuti produsen lain, atau justru menjadi catatan kaki dalam perlombaan AI yang tak terbendung? Sementara itu, isu keamanan model AI yang terus berkembang menjadi pengingat bahwa regulasi dan kesadaran publik harus berjalan seiring dengan inovasi teknologi.