Drone Dianggap Senjata Pemusnah Massal di Piala Dunia 2026

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Stadion Piala Dunia 2026 di Guadalajara, Meksiko dengan pemandangan lapangan hijau dan penonton di tribun
  • Penegak hukum AS memperlakukan drone sebagai potensi senjata pemusnah massal di Piala Dunia 2026
  • Kebijakan tanpa toleransi diterapkan selama 78 pertandingan di 11 kota di AS
  • 145 pelanggaran wilayah udara tercatat sejak 11-16 Juni 2026 di delapan lokasi
  • Pelanggar menghadapi denda hingga USD 100.000, penyitaan drone, dan ancaman pidana
  • FBI tidak berencana menembak jatuh drone karena risiko puing-puing jatuh
  • Ancaman terbesar adalah serangan kawanan drone yang dapat lolos dari pertahanan

JBNews.id — Penegak hukum di Amerika Serikat memperlakukan drone yang terbang di atas atau dekat stadion Piala Dunia 2026 sebagai potensi senjata pemusnah massal. Kebijakan tanpa toleransi diterapkan selama 78 pertandingan di 11 kota untuk mengantisipasi ancaman dari perangkat terbang tersebut.

“Perang Ukraina menjadi arena uji coba dunia nyata teknologi drone dan jika ada satu ancaman yang membuat saya tak bisa tidur nyenyak di malam hari, itu adalah dari drone,” ujar Komisaris Departemen Kepolisian New York (NYPD), Jessica Tisch, seperti dikutip dari Associated Press.

Sejak Piala Dunia dimulai pada 11 Juni hingga 16 Juni 2026, pihak berwenang melaporkan 145 pelanggaran wilayah udara di delapan lokasi penyelenggaraan. Pemerintah federal melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mencatat telah menyita puluhan drone sejak ajang bergengsi ini berlangsung.

Kewenangan Baru untuk Penegak Hukum

Pada Desember 2025, Kongres AS memberikan lampu hijau kepada penegak hukum negara bagian dan lokal untuk mengambil alih kendali drone yang dianggap mengancam. Opsi pertama adalah melumpuhkan drone secara elektronik dan mendaratkannya dengan aman. Jika tidak memungkinkan, petugas diizinkan menembak jatuh drone tersebut.

Administrasi Penerbangan Federal (FAA) membatasi wilayah udara di sekitar dan di atas stadion selama pertandingan berlangsung. Pelanggar menghadapi denda hingga USD 100.000, penyitaan drone, bahkan ancaman pidana jika terbang dalam radius sekitar 4,8 kilometer dari area pertandingan.

Militer AS telah mengembangkan laser anti drone yang digunakan di sepanjang perbatasan Meksiko awal tahun ini. Berbagai sistem lain juga dikembangkan untuk menembak drone. Namun, FBI tidak berencana menembak jatuh drone selama Piala Dunia karena risiko jatuhnya puing-puing yang membahayakan.

“Jika drone dicegat dan tidak lagi bisa terbang, drone itu pasti akan jatuh. Dan seperti yang sering kami katakan, apa pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat mengubah hukum gravitasi,” kata pakar keamanan nasional Hal Kempfer.

Pendekatan Tanpa Toleransi FBI

FBI menerapkan pendekatan tanpa toleransi untuk melindungi wilayah udara di sekitar lokasi Piala Dunia. Devin Kowalski, asisten direktur FBI, menegaskan semua drone diperlakukan seolah-olah bisa menjadi ancaman nyata.

“Ketika drone masuk ke area, kami menanganinya seolah itu adalah sesuatu yang dapat melukai orang. Kami agresif melacak posisi operatornya dan melakukan investigasi logis untuk menentukan sifat situasi tersebut, serta meminta pertanggungjawaban orang itu,” ujar Kowalski.

Pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam berbagai sistem yang memungkinkan petugas mengambil alih kendali drone mencurigakan dan mendaratkannya dengan aman atau mengacak sinyalnya. Beberapa teknologi mampu mendeteksi drone dari jarak hingga 40 kilometer, memberikan waktu untuk mitigasi ancaman.

Namun, ada kemungkinan seseorang menyelundupkan drone dekat stadion dan meluncurkannya dari jarak kurang dari 1,6 kilometer. Hal ini menyisakan sedikit waktu bagi pihak berwenang untuk bertindak.

Ancaman Kawanan Drone

Derek Reisfield, mantan presiden perusahaan penyedia teknologi anti drone, menilai drone di tangan yang salah sangat menakutkan. “Kita harus berasumsi ada seseorang di Iran menghabiskan tiap hari memikirkan bagaimana dapat menyerang AS di wilayah kita sendiri,” kata Reisfield.

Sistem untuk mengacak sinyal atau mengambil alih kendali drone mungkin tidak efektif jika drone diprogram untuk menabrak stadion penuh penonton sambil membawa bahan peledak. Ancaman juga meningkat jika drone dikendalikan melalui jalur serat optik yang tidak dapat diintervensi secara elektronik.

Taktik perang yang dinilai paling mengancam adalah serangan kawanan drone secara bersamaan. Bahkan dengan pertahanan terbaik, beberapa drone mungkin dapat lolos ke target, seperti yang dilakukan Iran dengan sejumlah besar drone Shahed. Militer AS memiliki berbagai macam senjata untuk menjatuhkan drone, namun Iran masih mampu mengenai target.

Pengalaman di medan perang Ukraina menunjukkan bagaimana teknologi drone terus berkembang menjadi ancaman yang semakin canggih. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi aparat keamanan di AS.

Bagi masyarakat umum yang tinggal di sekitar lokasi pertandingan, penting untuk memahami bahwa penerbangan drone di area terlarang dapat berakibat fatal. Pelanggaran tidak hanya berujung pada denda besar, tetapi juga berpotensi menimbulkan kepanikan dan risiko keamanan yang serius.

Kasus serupa juga terjadi di luar negeri, di mana warga Norwich resah dengan aktivitas drone besar yang mengintai rumah di malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman drone tidak hanya terbatas pada ajang olahraga besar, tetapi juga meresahkan masyarakat sehari-hari.

Pemerintah AS terus mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk sistem seperti Madis untuk melumpuhkan drone tanpa menggunakan rudal mahal. Investasi ini menunjukkan keseriusan dalam menghadapi ancaman drone yang semakin kompleks.

Implikasinya bagi penyelenggaraan event besar di masa depan, keamanan wilayah udara dari ancaman drone akan menjadi prioritas utama. Teknologi deteksi dan mitigasi harus terus ditingkatkan untuk mengimbangi perkembangan kemampuan drone yang semakin canggih dan mudah diakses.