Misi NASA Selamatkan Teleskop Swift yang Hampir Jatuh

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi Neil Gehrels Swift Observatory di orbit Bumi yang akan diselamatkan oleh misi Swift Boost NASA
  • NASA meluncurkan misi Swift Boost pada 27 Juni 2026 untuk menyelamatkan teleskop Neil Gehrels Swift Observatory
  • Misi ini hasil kolaborasi NASA dengan Katalyst Space menggunakan derek luar angkasa Link
  • Teleskop kehilangan orbit lebih cepat karena tarikan atmosfer akibat aktivitas matahari meningkat
  • Swift tidak memiliki mesin pendorong sehingga memerlukan misi penyelamatan eksternal
  • Jika berhasil, Swift akan bertahan di orbit hingga lima tahun lagi
  • Teleskop telah beroperasi lebih dari dua dekade sejak diluncurkan tahun 2004
  • Misi ini menjadi preseden penting untuk servis wahana antariksa di orbit

JBNews.id – NASA akan meluncurkan misi khusus untuk menyelamatkan teleskop luar angkasa Neil Gehrels Swift Observatory yang hampir jatuh ke Bumi. Misi bernama Swift Boost ini dijadwalkan lepas landas pada 27 Juni 2026 dan merupakan hasil kolaborasi dengan perusahaan Katalyst Space.

Misi ini melibatkan derek luar angkasa yang disebut Link. Wahana ini akan mengangkat observatorium Swift ke orbit yang lebih tinggi dan aman. Langkah penyelamatan ini diambil setelah NASA mendeteksi bahwa teleskop tersebut kehilangan ketinggian orbit lebih cepat dari perkiraan.

Pada 9 Juni, teknisi di Wallops Flight Facility milik NASA di Virginia, Amerika Serikat, menyelesaikan pemasangan Link di roket Northrop Grumman Pegasus XL. Tiga hari kemudian, roket itu dipasangkan ke kabin pesawat Northrop Grumman yang dinamai Stargazer.

Tahapan Misi Swift Boost

Pesawat Stargazer meninggalkan fasilitas NASA pada 18 Juni menuju Atol Kwajalein di Samudera Pasifik Selatan. Lokasi ini menjadi titik lepas landas pada 27 Juni. Stargazer akan membawa Pegasus XL ke ketinggian 40.000 kaki sebelum roket dilepaskan.

Setelah dilepaskan, roket akan jatuh bebas selama beberapa detik sebelum menyalakan mesinnya. Mesin akan membawa Link ke luar angkasa dalam waktu 10 menit. Setelah sampai di orbit Swift, Link akan melakukan docking dan sejumlah manuver untuk membawa teleskop ke orbit yang lebih tinggi.

NASA pertama kali meluncurkan Neil Gehrels Swift Observatory pada tahun 2004. Teleskop ini dirancang untuk mengamati ledakan sinar gamma dan fenomena astrofisika lainnya di antariksa. Misi awal Swift direncanakan hanya berlangsung dua tahun, namun faktanya teleskop ini terus beroperasi selama lebih dari dua dekade.

Penyebab Swift Kehilangan Orbit

Sudah menjadi hal biasa bagi satelit dan wahana antariksa lainnya untuk kehilangan ketinggian di orbit seiring waktu. Namun, NASA mengatakan teleskop Swift kehilangan orbit lebih cepat daripada kebanyakan satelit. Penyebabnya adalah tarikan atmosfer yang lebih besar dari perkiraan akibat peningkatan aktivitas matahari.

Karena Swift tidak memiliki mesin pendorong, NASA memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan ini. “Tidak masalah jika wahana antariksa biasa keluar dari orbit. Tetapi ini bukan sembarang wahana luar angkasa,” kata Direktur Divisi Astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman.

“Ini adalah observatorium dengan kemampuan unik untuk astrofisika … Ini adalah observatorium yang dapat berputar dengan cepat di langit malam untuk menemukan hal-hal yang luar biasa di malam hari. Jadi kami memutuskan kami ingin menyelamatkannya,” imbuhnya.

Ilustrasi penyelamatan telekop Swift oleh wahana antariksa Link

Dampak dan Harapan Misi

Misi penyelamatan ini menjadi krusial mengingat peran Swift dalam penelitian astrofisika. Teleskop ini memiliki kemampuan unik untuk berputar cepat di langit malam guna mendeteksi fenomena luar biasa. Jika misi Swift Boost berhasil, NASA berharap Swift akan bertahan di orbit hingga lima tahun lagi atau lebih.

Keberhasilan misi ini juga akan menjadi preseden penting untuk misi serupa di masa depan. Teknologi derek luar angkasa yang dikembangkan Katalyst Space dapat digunakan untuk menyelamatkan satelit dan teleskop lain yang mengalami masalah orbit.

Bagi industri antariksa global, misi ini menunjukkan bahwa perpanjangan usia operasional wahana antariksa melalui servis di orbit bukan lagi sekadar konsep. Ini adalah langkah nyata menuju ekonomi antariksa yang lebih berkelanjutan, di mana aset berharga tidak harus berakhir sebagai sampah antariksa.

Dari sisi ilmiah, perpanjangan misi Swift berarti para astronom dapat terus mengandalkan data dari teleskop ini untuk penelitian astrofisika. Swift telah menjadi tulang punggung dalam studi ledakan sinar gamma, yang merupakan peristiwa paling energetik di alam semesta setelah Big Bang.

Misi Swift Boost juga menarik perhatian karena melibatkan pendekatan inovatif. Alih-alih membangun teleskop baru, NASA memilih untuk memperpanjang umur aset yang sudah ada. Ini bisa menjadi model yang lebih efisien secara biaya untuk pengelolaan observatorium luar angkasa di masa depan.

Untuk konteks yang lebih luas, misi ini juga relevan dengan perkembangan lain di industri antariksa. Perubahan fokus beberapa perusahaan antariksa besar menunjukkan bahwa sektor ini terus beradaptasi dengan kebutuhan baru, termasuk servis dan perpanjangan misi di orbit.

Peluncuran pada 27 Juni akan menjadi momen kritis. Seluruh tim teknis di NASA dan Katalyst Space telah bekerja selama berbulan-bulan untuk memastikan setiap tahapan berjalan sesuai rencana. Jika berhasil, ini akan menjadi salah satu misi penyelamatan paling penting dalam sejarah eksplorasi antariksa.

Misi serupa di masa depan juga bisa diterapkan untuk teleskop dan satelit lain yang mendekati akhir masa operasinya. Ini membuka peluang baru dalam pengelolaan aset antariksa dan mengurangi jumlah sampah di orbit Bumi.

Bagi Indonesia, misi ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi dalam teknologi antariksa. Negara-negara maju terus mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan dan memperpanjang aset mereka di luar angkasa, sebuah pelajaran berharga bagi pengembangan infrastruktur berbasis antariksa di tanah air.

Kesimpulannya, misi Swift Boost adalah contoh nyata bagaimana inovasi dan kolaborasi dapat memperpanjang umur aset ilmiah yang berharga. Keberhasilan misi ini tidak hanya akan menyelamatkan satu teleskop, tetapi juga membuka jalan bagi era baru dalam perawatan dan servis wahana antariksa di orbit.