JBNews.id — Seorang dosen di Amerika Serikat berhasil mengungkap 32 mahasiswa yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengerjakan ujian melalui sebuah jebakan tersembunyi. Jason Gibson dari Alcorn State University membagikan kisah ini melalui akun TikTok-nya pada 20 Juli 2026, dan video tersebut telah ditonton lebih dari 2,2 juta kali.
Dalam unggahannya, Gibson mengaku telah menyembunyikan sebaris teks putih yang hanya dapat dilihat jika disorot oleh kursor. Teks tersebut berisi instruksi untuk menempatkan kata “Madagascar” dalam respons jawaban dengan cara yang tidak masuk akal. Metode ini dirancang untuk mendeteksi mahasiswa yang menyalin jawaban langsung dari AI tanpa membaca instruksi dengan saksama.
Hasilnya mengejutkan. Dari 35 mahasiswa yang mengikuti ujian, sebanyak 32 orang memuat kata “Madagascar” dalam tugas mereka. Hanya tiga orang yang tidak menempatkan kata tersebut, yang menurut Gibson mengindikasikan bahwa mereka kemungkinan besar tidak menggunakan AI untuk mengerjakan ujian.
“Anda akan takjub dengan penggunaan kata Madagascar yang aneh yang saya lihat dalam tugas-tugas siswa ini,” kata Gibson dalam salah satu videonya.
Kesempatan Mengajukan Keberatan
Dalam video kedua dari seri unggahannya, Gibson menjelaskan bahwa ia memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswa yang gagal dalam postingan forum diskusi untuk mengajukan keberatan atas nilai mereka. Dari 32 mahasiswa yang gagal, hanya dua orang yang mengajukan keberatan, dan hanya satu yang berhasil mendapatkan perubahan nilai.
Mahasiswa yang berhasil mengajukan keberatan tersebut mengaku kepada Gibson bahwa komputernya dalam mode gelap. Akibatnya, ia tidak dapat melihat teks putih dalam instruksi dan secara tidak sengaja menyertakan kata tersembunyi tersebut untuk mengikuti instruksi yang tidak ia sadari.
Kasus ini menjadi salah satu contoh bagaimana institusi pendidikan berupaya mendeteksi penyalahgunaan AI dalam proses akademik. Sebelumnya, Skandal Kecurangan AI di Ivy League juga pernah terungkap dan menjadi perbincangan luas di kalangan akademisi.
Reaksi Netizen
Video eksperimen Gibson pun memicu beragam reaksi dari netizen di platform TikTok. Beberapa pengguna memberikan komentar yang mendukung langkah tegas dosen tersebut, sementara yang lain justru menyoroti perlunya edukasi penggunaan AI yang lebih baik di lingkungan pendidikan.
“Solusi mudah. Semua ujian dan tugas yang dinilai harus dikerjakan dengan pensil dan kertas di kelas. Tidak ada e-book, tidak ada ponsel, tidak ada komputer jenis apa pun. Itu seharusnya menunjukkan apa yang Anda ketahui dan pelajari sebagai seorang siswa,” komentar seorang pengguna TikTok.
“Anak-anak bahkan tidak tahu lagi cara mencontek dengan benar,” sindir pengguna lain.
Sementara itu, seorang netizen yang mengaku sebagai mahasiswa memberikan pandangan berbeda. “Saya mahasiswa. Sebenarnya, semua 35 siswa menggunakan AI. Mereka yang lulus hanya memeriksa ulang jawaban mereka,” timpalnya.
“Para pendidik perlu mulai mengajari siswa cara menggunakan AI dengan benar, bukan malah menggagalkan mereka karena tidak tahu caranya,” seru warganet lainnya.
Baca Juga:
Kasus ini menyoroti tantangan yang semakin kompleks di era digital, di mana mahasiswa memiliki akses mudah terhadap berbagai alat bantu AI. Gibson memilih pendekatan preventif dengan membuat jebakan yang cerdas, namun hasilnya menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang belum memahami batasan penggunaan AI dalam konteks akademik.
Di sisi lain, kasus ini juga membuka diskusi tentang bagaimana institusi pendidikan seharusnya merespons perkembangan teknologi. Alih-alih sekadar menghukum, beberapa pihak menilai pendidik perlu mengintegrasikan literasi AI ke dalam kurikulum agar mahasiswa memahami etika penggunaan teknologi dalam proses belajar.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana penggunaan AI di kalangan pelajar dan mahasiswa semakin meningkat. Regulasi dan kebijakan yang jelas diperlukan untuk mengatur penggunaan teknologi ini tanpa menghambat inovasi dalam dunia pendidikan.
Bagi para pendidik, kasus Gibson memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya merancang metode evaluasi yang mampu membedakan antara karya orisinal mahasiswa dan hasil produksi AI. Sementara bagi mahasiswa, kasus ini menjadi pengingat bahwa kecurangan dalam bentuk apa pun, termasuk memanfaatkan AI tanpa izin, tetap memiliki konsekuensi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Alcorn State University mengenai kebijakan mereka terkait penggunaan AI dalam proses akademik. Namun, kasus ini diprediksi akan menjadi bahan diskusi di kalangan akademisi tentang perlunya pedoman yang lebih jelas mengenai penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan kampus.




