Crispr Ciptakan Anjing Bebas Alergi, Ini Temuannya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Dua ekor anjing beagle bernama Bailey dan Alfie yang bebas alergi hasil pengeditan gen Crispr
  • Kindred Companion Sciences berhasil menciptakan dua anjing beagle bebas alergi menggunakan teknologi Crispr
  • Protein Can f 1 yang menjadi penyebab utama alergi anjing berhasil dihilangkan melalui pengeditan gen
  • Metode yang digunakan adalah Crispr untuk menonaktifkan gen penyebab alergi, dilanjutkan kloning somatic cell nuclear transfer
  • Dari 25 embrio yang dibuat, dua berkembang menjadi Bailey dan Alfie dengan kondisi normal tanpa kelainan bawaan
  • Pengujian DNA dan sampel air liur/bulu mengonfirmasi tidak ada protein Can f 1 yang terdeteksi
  • Pendiri perusahaan, Walker, telah hidup berdampingan dengan Bailey selama 1,5 tahun tanpa gejala alergi
  • Perusahaan berencana memperluas ke ras lain dan mengembangkan anjing layanan bebas alergi
  • Belum ada jadwal pasti kapan anjing bebas alergi akan tersedia secara komersial

JBNews.id — Sebuah perusahaan bioteknologi bernama Kindred Companion Sciences berhasil menciptakan dua ekor anjing bebas alergi menggunakan teknologi pengeditan gen Crispr. Dua anjing beagle bernama Bailey dan Alfie ini merupakan hasil penelitian bertahun-tahun yang dipimpin oleh Walker, pendiri perusahaan yang juga seorang peneliti. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Crispr Journal pada Rabu lalu, menandai langkah maju dalam penerapan teknologi gen untuk memecahkan masalah kesehatan manusia.

Walker, yang memulai kariernya sebagai mahasiswa di Harvard dan peneliti di Columbia University, memiliki mimpi untuk memiliki anjing namun terkendala alergi. Pertanyaan besarnya adalah apakah teknologi Crispr dapat digunakan untuk menghilangkan protein penyebab alergi pada anjing. Jawabannya kini hadir dalam wujud dua ekor beagle muda yang sehat dan normal seperti anjing lainnya, namun tanpa protein yang memicu bersin dan mata berair pada penderitanya.

Protein yang menjadi biang keladi alergi anjing adalah Can f 1, yang ditemukan pada bulu, kulit, dan air liur anjing. Protein ini merupakan alergen paling umum yang menyebabkan reaksi pada lebih dari separuh orang yang memiliki alergi anjing. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa ras anjing yang sering dilabeli hipoalergenik pun sering kali memiliki kadar protein ini yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan ras lainnya.

Proses Penelitian dan Hasil Pengujian

Tim Kindred menggunakan Crispr untuk menonaktifkan gen yang memproduksi Can f 1 pada sel kulit yang diambil dari seekor beagle betina. Sel-sel yang sudah diedit kemudian disuntikkan ke dalam sel telur dari beagle donor menggunakan metode kloning yang disebut somatic cell nuclear transfer. Dari 25 embrio yang berhasil dibuat, dua di antaranya berkembang hingga lahir. Kedua anak anjing tersebut memiliki berat badan lahir normal dan tidak ditemukan kelainan bawaan.

Untuk memastikan protein pemicu alergi benar-benar hilang, tim melakukan dua tahap pengujian. Pertama, mereka mengurutkan DNA anjing untuk mengonfirmasi bahwa edit gen telah berhasil. Kedua, mereka mengambil sampel air liur dan bulu untuk mengukur kadar protein Can f 1. Hasilnya, tidak ada protein terdeteksi pada sampel dari anjing yang diedit, sementara sampel dari beagle, poodle, dan golden doodle yang tidak diedit menunjukkan sinyal Can f 1 yang jelas.

Walker kemudian menjadi kelinci percobaan untuk tes tusuk kulit, sebuah metode yang melibatkan pemberian tetesan alergen cair pada kulit dan menusuknya secara perlahan. Tetesan dari anjing yang telah diedit tidak menimbulkan reaksi kulit, sementara tetesan dari anjing biasa memicu respons. Ujian terbesar adalah apakah seseorang bisa hidup berdampingan dengan anjing ini tanpa reaksi alergi—dan Walker telah melakukannya selama satu setengah tahun bersama Bailey tanpa satu pun gejala alergi.

Upaya Sebelumnya dan Dukungan Ahli

Upaya menciptakan hewan peliharaan bebas alergen sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun lalu, peneliti dari InBio yang berbasis di Virginia mempublikasikan studi penggunaan Crispr untuk mengedit alergen utama pada sel kucing. Meski tidak menghasilkan kucing hasil edit gen, kelompok peneliti di Korea Selatan berhasil melakukannya pada 2024. Kucing bernama Alsik tersebut memiliki kadar alergen Fel d 1 yang “sangat rendah” dibandingkan kucing normal.

Fyodor Urnov, ahli pengeditan gen dari UC Berkeley, menyambut baik penggunaan Crispr untuk tujuan ini. Menurutnya, teknologi edit gen bisa dan seharusnya diterapkan untuk memecahkan masalah nyata yang dihadapi manusia. Ia juga menambahkan bahwa teknologi ini berpotensi digunakan untuk meningkatkan kesehatan anjing, terutama untuk mengatasi masalah yang diinduksi oleh praktik pembiakan, sambil tetap mempertahankan sifat-sifat unggul dari ras tersebut.

Bailey dan Alfie terus menjalani pemeriksaan dokter hewan secara rutin dan akan terus dipantau sepanjang hidup mereka. Tim juga memeriksa kemungkinan off-target edits—perubahan tak disengaja pada lokasi yang salah dalam genom—dan tidak menemukan satu pun. Seluruh penelitian hewan dilakukan di fasilitas berlisensi di bawah pengawasan dokter hewan.

Rencana Pengembangan dan Komersialisasi

Perusahaan memulai dengan beagle karena penggunaannya yang luas dalam penelitian hewan, namun berencana memperluas ke ras lain. Mereka juga tertarik untuk menciptakan anjing layanan bebas alergi. Walker menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah menciptakan “founder animals” melalui teknik kloning yang bisa digunakan untuk membiakkan lebih banyak anjing tanpa alergen. Karena setiap sel yang berasal dari embrio yang diedit membawa perubahan genetik tersebut, perkawinan dua hewan dengan edit gen akan menghasilkan anak yang juga membawa edit tersebut.

Meski begitu, Walker belum memberikan jadwal pasti kapan anjing bebas alergi ini akan tersedia secara komersial. Ia menegaskan bahwa perusahaannya tidak tertarik menggunakan pengeditan gen untuk tujuan “kebaruan” atau “kosmetik”—sebuah pernyataan yang kontras dengan perusahaan lain di Texas yang justru mencoba merekayasa kelinci bercahaya dan unicorn sungguhan.

Bagi Walker, pencapaian ini adalah pemenuhan impian pribadinya. “Dia telah membawa begitu banyak kegembiraan, aktivitas, dan komunitas ke dalam hidup saya,” ujarnya tentang Bailey. Keberhasilan ini membuka peluang bagi jutaan penderita alergi anjing di seluruh dunia untuk akhirnya bisa merasakan kebahagiaan memiliki sahabat berbulu tanpa harus khawatir bersin dan mata berair setiap kali berinteraksi.

Inovasi di bidang bioteknologi ini sejalan dengan perkembangan pesat teknologi lain yang sedang berlangsung. Seperti halnya Meta Matikan Fitur AI untuk menjaga keamanan pengguna, peneliti juga harus memastikan setiap terobosan ilmiah mematuhi standar etika dan keamanan. Begitu pula dengan Generative Edit Samsung yang menunjukkan bagaimana teknologi canggih dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, penelitian ini membuktikan bahwa Crispr dapat menjadi solusi nyata bagi masalah kesehatan yang telah lama mengganggu manusia.