CoreWeave Bangun 3 Pusat Data AI di Indonesia Kapasitas 360 MW

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
CoreWeave ekspansi pusat data AI di Indonesia
  • CoreWeave bangun 3 pusat data AI di Indonesia dengan total kapasitas 360 MW
  • Ekspansi pertama CoreWeave di kawasan Asia-Pasifik, target beroperasi 2028
  • Indonesia dipilih karena pertumbuhan ekonomi digital dan investasi pendidikan AI
  • CoreWeave akan rekrut dan latih tim lokal untuk operasikan pusat data
  • Perusahaan layani Microsoft, Meta, OpenAI, dan Anthropic
  • Persaingan infrastruktur AI global semakin ketat di tingkat regional

JBNews.id — Perusahaan cloud khusus kecerdasan buatan (AI), CoreWeave, mengumumkan ekspansi pertamanya ke kawasan Asia-Pasifik dengan membangun tiga pusat data baru di Indonesia. Ketiga fasilitas tersebut akan memiliki total kapasitas daya teknologi informasi sebesar 360 megawatt dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

Ekspansi ini menandai kehadiran fisik pertama CoreWeave di Asia-Pasifik. Sebelumnya, perusahaan tersebut mengoperasikan jaringan pusat data terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Indonesia dipilih menjadi lokasi strategis untuk menopang kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat di Asia Tenggara.

CoreWeave akan memiliki dan mengoperasikan lingkungan komputasi di ketiga lokasi tersebut. Infrastruktur ini nantinya menyediakan platform cloud AI milik perusahaan bagi laboratorium AI, startup, dan pelanggan perusahaan yang menjalankan beban kerja di Asia Tenggara.

Alasan CoreWeave Memilih Indonesia

CoreWeave menilai Indonesia memiliki kombinasi pertumbuhan ekonomi digital, investasi pada pendidikan AI, dan kebutuhan komputasi yang terus meningkat. Posisi Indonesia di Asia Tenggara juga dinilai strategis untuk melayani perusahaan, startup AI, dan lembaga pemerintah yang membutuhkan kapasitas komputasi berperforma tinggi.

“CoreWeave hadir di mana pun kami dapat memberikan para pionir AI kapasitas, kinerja, dan keandalan yang mereka butuhkan untuk membangun dan mengembangkan ide-ide mereka,” kata Sachin Jain, Chief Operating Officer CoreWeave.

Menurut Jain, investasi besar Indonesia dalam pendidikan AI dan kapasitas digital mulai menunjukkan hasil. Ia menilai Indonesia berkembang menjadi salah satu tujuan investasi teknologi global dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.

“Sekarang, ekspansi ini memberi perusahaan, perusahaan berbasis AI, dan pemerintah lebih banyak daya komputasi secara lokal dan global, di mana pun mereka membutuhkannya, untuk mengubahnya menjadi keunggulan kompetitif,” ujarnya.

Investasi CoreWeave juga disebut sejalan dengan prioritas nasional Indonesia untuk memperkuat infrastruktur digital, memperluas kemampuan AI domestik, dan memosisikan Indonesia sebagai salah satu ekonomi digital terkemuka di kawasan.

Selain membangun fasilitas secara fisik, CoreWeave berencana merekrut dan melatih tim lokal untuk mengoperasikan pusat data tersebut. Langkah ini diharapkan ikut mendukung pengembangan talenta teknis Indonesia, terutama di bidang pusat data, cloud, dan infrastruktur AI.

Kehadiran kapasitas komputasi di dalam negeri juga dapat membantu pelanggan menekan latensi atau waktu tunda saat mengakses layanan AI. Infrastruktur lokal semakin penting bagi perusahaan yang membutuhkan pemrosesan data berkecepatan tinggi, kapasitas GPU besar, serta kepatuhan terhadap aturan penyimpanan dan pengelolaan data.

Persaingan Infrastruktur AI Makin Panas

CoreWeave merupakan perusahaan cloud yang berfokus menyediakan infrastruktur komputasi berakselerasi untuk kebutuhan AI. Layanannya banyak menggunakan akselerator AI Nvidia untuk menangani pelatihan model, inferensi, dan aplikasi AI berskala besar. Perusahaan itu melayani sejumlah nama besar di industri teknologi, termasuk Microsoft, Meta, OpenAI, dan Anthropic.

CoreWeave dilaporkan telah mengoperasikan hampir 50 pusat data di Amerika Serikat dan Eropa dengan lebih dari 1 GW daya aktif dan lebih dari 3,5 GW daya kontrak yang mendukung beban kerja AI. Pembangunan tiga fasilitas di Indonesia memperlihatkan bahwa persaingan AI tidak hanya berlangsung pada pengembangan model.

Perusahaan juga berlomba mengamankan pasokan chip, pusat data, jaringan, dan listrik untuk menjalankan teknologi tersebut. Dengan total kapasitas 360 megawatt, ekspansi CoreWeave berpotensi menjadi tambahan besar bagi ekosistem pusat data Indonesia. Namun, dampak investasi ini baru dapat dinilai lebih jauh setelah perusahaan mengungkap lokasi, sumber energi, jumlah lapangan kerja, serta mitra yang terlibat dalam proyek tersebut, demikian dilansir dari Reuters.

Langkah CoreWeave ini juga mempertegas tren global di mana infrastruktur AI menjadi medan persaingan baru. Di sisi lain, beberapa wilayah justru mengambil langkah berbeda. New York melarang pembangunan data center AI besar selama setahun, sementara negara lain seperti Jepang justru gencar membangun kapasitas komputasi melalui kemitraan dengan pemain global seperti Nvidia.

Bagi Indonesia, kehadiran CoreWeave membuka peluang besar. Kapasitas komputasi lokal akan membantu perusahaan domestik mengurangi ketergantungan pada infrastruktur di luar negeri. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan komputasi AI di berbagai sektor, seiring dengan pertumbuhan adopsi teknologi di Tanah Air.

Meski demikian, masih banyak detail yang belum diungkap. Lokasi pasti ketiga pusat data, sumber energi yang digunakan, serta estimasi lapangan kerja yang akan diciptakan masih menunggu pengumuman resmi dari CoreWeave. Keputusan perusahaan untuk merekrut tim lokal menjadi sinyal positif bagi pengembangan talenta digital Indonesia, khususnya di bidang pusat data dan infrastruktur AI.

Dengan target operasional pada 2028, proyek ini memberi waktu bagi ekosistem digital Indonesia untuk bersiap. Kehadiran CoreWeave diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di peta infrastruktur AI global, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang lebih inklusif di kawasan.