1,9 Juta Lulusan SMA Gagal Kuliah, Teknologi Pendidikan Belum Cukup

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pelajar belajar online dengan laptop dan headphone di kafe, menggambarkan pembelajaran digital yang belum cukup mengatasi akses pendidikan tinggi
  • 1,9 juta lulusan SMA di Indonesia tidak melanjutkan kuliah setiap tahun (data Kemenko PMK)
  • Teknologi pendidikan belum cukup mengatasi masalah akses perguruan tinggi
  • BISA Project (Salam Setara + Kitabisa) hadir dengan model pendampingan terpadu
  • Program mencakup beasiswa, bimbingan belajar, mentoring, dan pengembangan karakter
  • Sejak 2024: 623 pelajar didampingi dari 26 provinsi, 540 berhasil kuliah
  • 84% diterima di PTN, separuhnya masuk 20 kampus terbaik versi Webometrics
  • Batch 3 (2026): 401 dari 495 peserta diterima di perguruan tinggi
  • BISA Future Fest 2026 (24-27 Juli) dibuka untuk masyarakat umum di Jakarta
  • Kolaborasi lintas sektor dinilai mutlak untuk memperluas akses pendidikan

JBNews.id — Sekitar 1,9 juta lulusan sekolah menengah di Indonesia tidak melanjutkan kuliah setiap tahun. Data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi pendidikan belum sepenuhnya mampu meningkatkan akses ke perguruan tinggi.

Angka tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan yang masih lebar antara ketersediaan platform pembelajaran digital dengan kebutuhan nyata pelajar, terutama dari keluarga prasejahtera. Bantuan biaya pendidikan saja tidak cukup; dibutuhkan pendampingan yang melengkapi pembelajaran digital secara menyeluruh.

Menjawab tantangan tersebut, BISA Project yang diinisiasi Salam Setara bersama Kitabisa mengembangkan model pendampingan terpadu. Program ini memadukan beasiswa, pembelajaran digital, bimbingan belajar, mentoring, dan pengembangan karakter bagi pelajar dari keluarga prasejahtera.

Direktur Eksekutif Salam Setara Ahmad Mujahid menegaskan bahwa perluasan akses pendidikan tidak cukup hanya melalui bantuan biaya pendidikan. Menurutnya, pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan solusi holistik.

“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ketika masih ada anak muda yang gagal melanjutkan pendidikan karena keterbatasan akses, maka itu menjadi panggilan bagi kita semua untuk menghadirkan solusi. Melalui BISA Project, kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda memiliki kesempatan yang setara untuk meraih pendidikan tinggi,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis.

Smiling girl student wear wireless headphone study online with skype teacher, happy young woman learn language listen lecture watch webinar write notes look at laptop sit in cafe, distance education

Sejak diluncurkan pada 2024, BISA Project telah mendampingi 623 pelajar dari 26 provinsi. Dari jumlah tersebut, 540 peserta berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebanyak 84 persen diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan separuhnya berhasil masuk ke 20 perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Webometrics.

Sementara pada Batch 3 tahun 2026, sebanyak 401 dari 495 peserta telah diterima di berbagai perguruan tinggi melalui beragam jalur seleksi. Angka ini menunjukkan efektivitas model pendampingan yang berkelanjutan dalam meningkatkan peluang pelajar kurang mampu.

Pendampingan Jadi Faktor Penentu Keberhasilan

Program ini tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tapi menyediakan bimbingan belajar, mentoring dalam kelompok kecil, konsultasi akademik, pengembangan karakter, hingga pembelajaran digital. Model ini dinilai membantu peserta siap menghadapi seleksi perguruan tinggi sekaligus beradaptasi dengan kehidupan kampus.

BISA Project menunjukkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang pelajar melanjutkan pendidikan tinggi, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Kehadiran mentor dan sistem pendampingan terbukti menjadi pembeda signifikan dibanding sekadar akses ke platform digital.

Salah satu penerima manfaat, Uji Sandi, mengaku sempat pesimistis dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya mengikuti bimbingan belajar. Melalui program tersebut, ia memperoleh pendampingan akademik hingga akhirnya diterima di Program Studi Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Kita memang tidak bisa memilih terlahir dari latar belakang seperti apa, tetapi kita selalu bisa memilih untuk berhenti atau terus melangkah,” kata Sandi.

Perluas Akses untuk Masyarakat

Tahun ini, BISA Project juga memperluas jangkauan program melalui BISA Future Fest 2026, yang untuk pertama kalinya dibuka bagi masyarakat umum. Sebelumnya, berbagai sesi pengembangan diri hanya dapat diikuti peserta program.

Kegiatan yang berlangsung pada 24-27 Juli 2026 di Jakarta tersebut menghadirkan talkshow, workshop, dan sesi pengembangan diri bersama sejumlah tokoh, seperti Pandji Pragiwaksono, Andovi da Lopez, serta praktisi dan pegiat pendidikan. Forum tersebut juga mempertemukan pemerintah, lembaga filantropi, dunia pendidikan, dan sektor swasta untuk membahas penguatan kolaborasi dalam memperluas akses pendidikan.

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis, menegaskan bahwa peningkatan akses pendidikan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pernyataan ini memperkuat argumen bahwa solusi tunggal tidak akan pernah cukup mengatasi masalah kompleks seperti akses pendidikan.

“Pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan untuk mewujudkannya mutlak diperlukan kolaborasi dari banyak pihak,” ungkapnya.

Data 1,9 juta lulusan yang gagal kuliah setiap tahun menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan struktural. Ketergantungan pada platform digital tanpa dukungan pendampingan manusia terbukti tidak cukup. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa ketergantungan teknologi dapat menimbulkan masalah tersendiri jika tidak dikelola dengan bijak.

Model BISA Project menawarkan pendekatan berbeda: teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Pendekatan ini selaras dengan tren global yang mulai menyadari bahwa teknologi praktis yang tepat sasaran lebih efektif daripada sekadar mengadopsi teknologi canggih tanpa strategi.

Bagi 1,9 juta lulusan yang setiap tahunnya menghadapi risiko tidak melanjutkan kuliah, kehadiran program seperti BISA Project menjadi jembatan harapan. Namun, skala masalah yang jauh lebih besar dari kapasitas program yang ada saat ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini.