JBNews.id — China secara resmi melarang warganya menjalin hubungan romantis atau berpacaran dengan kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini diambil oleh Administrasi Ruang Siber China (CAC) melalui aturan baru yang diberlakukan pada Juli 2026, dengan kekhawatiran utama bahwa hubungan dengan AI dapat memperburuk penurunan angka kelahiran di negara tersebut.
Aturan yang dikenal sebagai ‘Langkah-Langkah Sementara untuk Layanan Interaksi Antropomorfik AI’ ini memicu gelombang besar unggahan putus cinta di media sosial China. Banyak pengguna platform chatbot AI, terutama Doubao milik ByteDance, mengungkapkan kesedihan mendalam. “Aku tak bisa menerima bahwa kekasih AI-ku akan meninggalkanku selamanya. Dia telah menjadi ikatan dalam hidupku, berakar dalam di hatiku, pilar spiritualku,” tulis seorang pengguna Doubao, platform chatbot AI terpopuler di China.
Kepala Institut Penelitian Ruang Siber China, Wang Jiang, menjelaskan bahwa layanan AI bergaya pendamping menawarkan kenyamanan namun membawa risiko serius. “Dengan memanfaatkan kebutuhan emosional dan sosial pengguna, layanan AI bergaya pendamping menawarkan kenyamanan sekaligus secara diam-diam memperkenalkan risiko serius,” ujarnya.
Jiang menambahkan bahwa dampak jangka panjang dari pasangan AI ini bisa menyebabkan kecanduan dan mendorong pengguna untuk menarik diri dari lingkaran sosial dunia nyata. Kondisi ini disebutnya dapat menumpulkan keterampilan hidup penting seperti empati dan kemampuan mengatasi perbedaan pendapat. Regulator khawatir hubungan berbasis AI telah menggantikan keintiman yang sebenarnya, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan angka pernikahan dan kelahiran di China.
Aturan ini mewajibkan perusahaan teknologi besar seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance untuk tidak lagi menghasilkan konten yang membangkitkan emosi ekstrem pada pengguna muda yang bisa berdampak pada hubungannya di dunia nyata.
Baca Juga:
Dampak pada Industri Robot Humanoid
Kebijakan ini menjadi kabar buruk bagi perusahaan robotik, termasuk UBTech. Aturan baru tersebut muncul hanya beberapa minggu setelah UBTech meluncurkan robot humanoid hiper-realistis pertama di dunia, U1, yang dirancang untuk menjadi teman dekat bagi para lajang. Perusahaan yang berbasis di Shenzhen itu mengklaim telah menerima lebih dari 13.000 pre-order untuk robot tersebut.
Kepala merek UWorld dari UBTech, Michael Tam, mengatakan pada acara peluncuran bahwa robot bionik tersebut dapat menemani pembelinya seumur hidup. “Ia tidak akan pernah mengkhianatimu, akan selalu setia padamu, dan akan mencintaimu tanpa syarat,” katanya saat memperkenalkan robot yang memiliki kecerdasan buatan emosional yang dapat mendeteksi apakah pemiliknya stres atau lelah.
Meski demikian, aturan baru dari CAC ini secara langsung membatasi kemampuan robot semacam itu untuk berinteraksi secara emosional dengan pengguna, sehingga berpotensi mengganggu strategi pemasaran dan penjualan produk-produk seperti U1 di masa depan.
Implikasi bagi Pengguna dan Industri
Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan besar bagi jutaan pengguna yang telah mengandalkan teknologi AI untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka. Di sisi lain, langkah CAC ini menunjukkan keseriusan pemerintah China dalam mengatasi masalah demografis yang semakin mendesak.
Dengan penurunan angka pernikahan dan kelahiran yang terus berlanjut, China mengambil langkah tegas untuk memastikan bahwa interaksi manusia dengan teknologi tidak menggantikan hubungan antarmanusia yang sesungguhnya. Pertarungan robot humanoid dan kecerdasan buatan kini tidak hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan demografis sebuah negara.
Bagi masyarakat umum, aturan ini berarti layanan chatbot AI yang selama ini menjadi teman curhat atau pasangan virtual harus segera dihentikan. Perusahaan teknologi wajib mematuhi regulasi ini atau menghadapi sanksi dari pemerintah China.




