China dan Jepang Berlomba Jelajahi Asteroid, Indonesia?

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Wahana antariksa China dan Jepang berlomba mendekati asteroid Kamo'oalewa dan Torifune pada Juli 2026
  • China dan Jepang sukses mengirim wahana ke dua asteroid berbeda hanya berselang tiga hari
  • Tianwen-2 tiba di Kamo'oalewa pada 2 Juli, Hayabusa2 tiba di Torifune pada 5 Juli 2026
  • Kamo'oalewa adalah asteroid sepanjang 91 meter yang dijuluki Bulan kedua Bumi
  • Tianwen-2 menempuh perjalanan 400 hari dan berjarak 19 km dari asteroid
  • China akan menjadi negara ketiga yang bawa sampel asteroid jika misi berhasil
  • Hayabusa2 melanjutkan misi setelah sukses ambil sampel Ryugu pada 2020
  • Kedua misi akan lanjut ke target baru: 1998 KY26 (Jepang) dan komet 311P (China)

JBNews.id — China dan Jepang sukses mengirim wahana antariksa mereka mendekati dua asteroid berbeda hanya dalam selang waktu tiga hari, menandai babak baru dalam eksplorasi luar angkasa global. China National Space Administration (CNSA) mengonfirmasi wahana Tianwen-2 tiba di asteroid Kamo’oalewa pada 2 Juli 2026, disusul Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) yang mendaratkan Hayabusa2 di asteroid Torifune pada 5 Juli 2026.

Pencapaian ini menunjukkan dominasi teknologi antariksa kedua negara Asia di tengah meningkatnya minat global terhadap eksplorasi asteroid. Tianwen-2 menempuh perjalanan selama kurang lebih 400 hari untuk mencapai Kamo’oalewa, asteroid sepanjang 91 meter yang sering disebut sebagai “Bulan kedua Bumi.” Wahana tersebut berhasil mendekati asteroid hingga jarak 19 kilometer.

Xinhua, kantor berita China, membagikan foto pertama asteroid Kamo’oalewa pada Senin (6/7). Ilmuwan China menggunakan data navigasi selama proses pendekatan untuk menyempurnakan informasi orbit asteroid, yang saat itu berjarak sekitar 41 juta kilometer dari Bumi.

Asteroid Kamo'oalewa yang dikunjungi wahana asteroid China Tianwen-2

Kamo’oalewa, yang berarti “benda langit yang terombang-ambing” dalam bahasa Hawaii, tidak mengorbit Bumi secara langsung. Namun, asteroid ini menempuh jalur orbit yang sama seperti Bumi, sehingga kerap dijuluki bulan kedua. Beberapa astronom berpendapat Kamo’oalewa mungkin dulunya merupakan pecahan Bumi kuno yang tercipta dari tumbukan jutaan tahun lalu.

Setelah mempelajari Kamo’oalewa selama beberapa bulan, tim misi Tianwen-2 akan mencoba mengumpulkan sampel dan membawanya kembali ke Bumi. Jika berhasil, China akan menjadi negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Jepang yang berhasil membawa pulang puing-puing asteroid. Dalam konteks ini, perkembangan AI China turut mendukung kemampuan analisis data navigasi yang presisi.

Sementara itu, JAXA mengirimkan Hayabusa2 ke asteroid Torifune yang memiliki panjang 457 meter. Wahana ini tiba di tujuannya pada 5 Juli, saat asteroid berjarak 99 juta kilometer dari Bumi. Bagi Hayabusa2, perjalanan ke Torifune merupakan perpanjangan misi. Diluncurkan pada 2014, Hayabusa2 sebelumnya pernah mengunjungi asteroid Ryugu dan berhasil membawa sampel ke Bumi pada 2020.

Asteroid Torifune yang dikunjungi wahana Hayabusa2 milik Jepang

JAXA mengatakan tim teknisinya menggunakan kombinasi tracking gambar dan radio untuk memandu Hayabusa2 mendekati targetnya. Teknologi ini memungkinkan navigasi yang sangat akurat meskipun jarak tempuh mencapai puluhan juta kilometer. Inovasi serupa juga terlihat pada Model AI China yang mampu memproses data kompleks untuk keperluan eksplorasi.

Misi Berikutnya: Target Baru di Luar Angkasa

Setelah mencapai tujuannya masing-masing, kedua misi akan langsung bergerak mengunjungi target lain. JAXA berencana mengirimkan Hayabusa2 dalam perjalanan berdurasi lima tahun ke asteroid 1998 KY26. Sementara itu, China berencana mengirimkan Tianwen-1 ke komet 311P yang jaraknya lebih jauh dari Mars.

Keberhasilan ini menunjukkan betapa seriusnya kedua negara dalam menguasai teknologi eksplorasi asteroid. Jepang sudah memiliki rekam jejak panjang melalui misi Hayabusa dan Hayabusa2, sementara China terus mengejar ketertinggalan dengan misi Tianwen yang ambisius. Persaingan ini juga mendorong inovasi di sektor terkait, seperti SSD China yang mulai digunakan pada perangkat komersial.

Bagi Indonesia, capaian ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi di bidang sains dan teknologi antariksa. Meskipun belum memiliki program eksplorasi asteroid mandiri, kolaborasi internasional bisa menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk turut serta dalam riset luar angkasa global. Semoga suatu saat Indonesia juga bisa seperti ini.

[CONTENT_END]