Masa Cuti Medis Eksekutif OpenAI yang Kembali Bekerja

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Mira Murati eksekutif OpenAI kembali bekerja setelah cuti medis
  • Mira Murati kembali bekerja di OpenAI setelah cuti medis tiga bulan akibat penyakit kronis POTS
  • Ia mengumumkan kepulangannya melalui unggahan di platform X pada Kamis pekan lalu
  • Murati bergabung dengan dewan direksi OpenAI pada Maret 2024 dan direkrut CEO Sam Altman
  • Selama cuti, terjadi perombakan kepemimpinan: Brad Lightcap beralih peran, Greg Brockman mengambil alih strategi produk
  • OpenAI bersiap IPO pada 2027 dengan target valuasi US$1 triliun
  • Perusahaan menggabungkan tim ChatGPT, browser AI, dan agen coding untuk membangun superapp
  • OpenAI meluncurkan pembaruan produk terbesar untuk ChatGPT termasuk agen AI dan desain ulang desktop
  • Perusahaan juga merilis chip Jalapeno dan Patch the Planet untuk keamanan open source

JBNews.id — Mira Murati, mantan Chief Technology Officer (CTO) OpenAI, kembali aktif bekerja di perusahaan kecerdasan buatan tersebut setelah menjalani cuti medis selama tiga bulan akibat penyakit kronis yang dideritanya. Kepulangan Murati menandai babak baru dalam struktur kepemimpinan OpenAI yang tengah bersiap menuju IPO pada 2027.

Murati mengumumkan keputusannya untuk kembali melalui sebuah unggahan di platform X pada Kamis pekan lalu. “Tiga bulan lalu, saya harus mengambil cuti medis setelah mengalami eksaserbasi parah dari penyakit kronis yang sudah saya jalani selama tujuh tahun,” tulisnya. Ia menjelaskan bahwa masa pemulihan ternyata lebih panjang dan kompleks dari perkiraan awal, sehingga ia perlu fokus penuh pada kesehatannya.

Murati bergabung dengan dewan direksi OpenAI pada Maret 2024. Setahun kemudian, CEO Sam Altman merekrutnya untuk memimpin organisasi produk dan bisnis agar Altman dapat fokus pada riset dan pembangunan pusat data perusahaan. Sebelum bergabung dengan OpenAI, Murati menjabat sebagai CEO Instacart dan kepala aplikasi Facebook di Meta.

Kronologi Cuti Medis dan Dampaknya pada Organisasi

Sesaat sebelum memulai pekerjaannya di OpenAI, Murati mengalami kekambuhan kesehatan yang signifikan. Ia didiagnosis menderita sindrom takikardia postural (POTS) pada 2019. Dalam memo internal yang dikirimkan kepada staf OpenAI pada April lalu, Murati mengakui bahwa ia telah menunda berbagai tes medis dan terapi baru untuk tetap fokus bekerja tanpa absen sehari pun. “Sekarang jelas bahwa saya sudah memaksakan diri terlalu jauh dan benar-benar perlu mencoba intervensi baru untuk menstabilkan kesehatan saya,” tulisnya dalam memo tersebut.

Kepergian Murati terjadi di tengah gejolak eksekutif yang lebih besar di OpenAI. Brad Lightcap, mantan COO OpenAI, beralih peran menjadi pengawas proyek-proyek khusus. Presiden dan salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, mengambil alih strategi produk perusahaan. Dalam beberapa bulan sejak Murati mundur, OpenAI kembali merombak tim produknya dengan menempatkan Thibault Sottiaux sebagai kepala produk inti perusahaan, termasuk ChatGPT.

Baca Juga:

Strategi Fokus Produk Menjelang IPO

Openai saat ini berusaha berkonsentrasi pada beberapa produk inti menjelang rencana IPO yang diperkirakan akan datang pada 2027. Perusahaan dilaporkan menargetkan valuasi sebesar US$1 triliun. Sebagai bagian dari strategi fokus ini, OpenAI telah menggabungkan tim yang mengerjakan ChatGPT, browser bertenaga AI, dan agen pengkodean AI untuk membangun sebuah “superapp.” Perusahaan juga telah menutup proyek-proyek yang dianggap terlalu menyebar seperti Sora.

Pada Kamis pekan lalu, OpenAI meluncurkan pembaruan produk terbesar untuk ChatGPT sejak perilisannya. Perusahaan meluncurkan agen AI di ChatGPT yang dapat mengambil tindakan atas nama pengguna, memindahkan file lokal, dan menulis kode. OpenAI juga mendesain ulang tampilan aplikasi desktopnya. Dengan produk yang diperbarui ini, OpenAI berharap dapat memberikan fitur-fitur kepada pengguna ChatGPT yang sebelumnya terbatas pada Codex, seperti kemampuan untuk membuat proyek perangkat lunak khusus dengan AI.

Langkah Murati kembali bekerja terjadi di saat krusial bagi OpenAI. Perusahaan tidak hanya bersiap untuk IPO tetapi juga menghadapi persaingan ketat di industri AI. Keputusan Murati untuk kembali menunjukkan komitmennya terhadap perusahaan meskipun harus menghadapi tantangan kesehatan yang serius. Sumber internal menyebutkan bahwa Murati akan kembali memimpin tim produk dan bisnis dengan dukungan penuh dari manajemen puncak.

Para analis industri menilai bahwa kembalinya Murati memberikan stabilitas bagi OpenAI di tengah transisi kepemimpinan yang kompleks. “Murati adalah figur kunci yang memahami DNA produk OpenAI,” ujar seorang pengamat industri yang enggan disebutkan namanya. “Kepulangannya bisa menjadi katalis positif menjelang IPO.”

Dalam pernyataan terpisah, CEO Sam Altman menyambut baik kepulangan Murati. “Mira adalah salah satu pemimpin terbaik yang pernah bekerja dengan saya. Saya senang dia kembali dan kami akan terus membangun masa depan AI bersama,” kata Altman melalui pernyataan resmi perusahaan.

OpenAI juga tengah mempersiapkan infrastruktur teknis yang lebih besar. Perusahaan baru-baru ini merilis chip Jalapeno untuk menyaingi Nvidia Blackwell, sebuah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok chip eksternal. Selain itu, OpenAI juga meluncurkan Patch the Planet untuk meningkatkan keamanan open source, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap ekosistem AI yang lebih aman.

Meskipun demikian, tantangan tetap ada. Persaingan dengan perusahaan seperti Google dan Anthropic semakin ketat. Google baru-baru ini menginvestasikan Rp1,2 triliun di A24, sementara Amazon menghentikan produksi film dokumenter tentang OpenAI. Situasi ini menunjukkan bahwa lanskap industri AI terus berubah dengan cepat.

Bagi pengguna dan investor, kembalinya Murati menandakan bahwa OpenAI berusaha menjaga stabilitas internal sambil terus berinovasi. Dengan fokus pada produk inti dan persiapan IPO, perusahaan tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mencapai valuasi triliunan dolar yang telah ditargetkan.