ChatTJB: Chatbot AI Palsu yang Dijawab Manusia Manual

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi tangan mengetik cepat di keyboard dengan efek blur, menggambarkan satu orang yang menjawab semua pesan ChatTJB secara manual
  • ChatTJB adalah layanan chatbot di San Francisco yang mengklaim "powered by AI" namun sebenarnya dijawab manual oleh satu orang bernama Tucker Bryant
  • Kata "AI" pada ChatTJB berarti "average individual", bukan artificial intelligence
  • Proyek ini merupakan satire dan karya seni publik yang menyoroti fenomena "cognitive surrender" - kecenderungan manusia menyerahkan pemikiran kritis kepada chatbot
  • Istilah "cognitive surrender" dicetuskan oleh peneliti Wharton Business School, University of Pennsylvania
  • ChatTJB merespons pertanyaan dengan jawaban lambat, tidak selalu benar, dan sering samar, serta menggambar tangan untuk permintaan gambar
  • Tersedia langganan "Pro" untuk membantu Bryant membayar biaya papan iklan
  • Tujuan proyek: membuat pengguna lebih kritis terhadap jawaban AI di masa depan

JBNews.id — Sebuah papan iklan di San Francisco memasarkan layanan bernama ChatTJB yang mengklaim sebagai “leading chatbot interface powered by AI.” Namun, klaim tersebut ternyata menyesatkan—kata “AI” di sini bukan singkatan dari artificial intelligence, melainkan “average individual.” Di balik layar, setiap percakapan dengan ChatTJB ditangani oleh satu orang manusia bernama Tucker Bryant, bukan oleh model kecerdasan buatan.

Bryant, seorang seniman dan mantan karyawan Google, mengungkapkan proyek ini dalam video di media sosial. “Saya baru saja membangun [large language model] terburuk sepanjang masa, dan ini akan merevolusi segalanya,” ujarnya. “Bayangkan ChatGPT, tapi di ujung sana hanya saya yang memberikan saran buruk. Secara manual.” Proyek ini pertama kali dilaporkan oleh outlet lokal San Francisco, Gazetteer SF.

Pada halaman “About” di situsnya, ChatTJB digambarkan sebagai “artisanal intelligence, handcrafted by a single human being.” Alih-alih menggunakan LLM, pengalaman ini disebut sebagai “single-operator large language experience” atau LLE. Situs tersebut menjelaskan bahwa setiap pertanyaan diselesaikan melalui “proprietary biological reasoning substrate” yang menghasilkan respons yang sepenuhnya dapat diinterpretasikan, non-sintetis, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Secara praktik: Anda mengajukan pertanyaan, dan seseorang bernama Tucker membacanya, memikirkannya, dan membalas ketika sadar dan termotivasi.”

Tangan di atas keyboard dengan efek blur yang mengesankan sedang mengetik dengan sangat cepat.

Motivasi di balik proyek ini berangkat dari fenomena “cognitive surrender” terhadap AI. Istilah ini dicetuskan dalam studi oleh peneliti dari Wharton Business School, University of Pennsylvania. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan pengguna chatbot untuk menyerahkan pemikiran kritis mereka ketika mengikuti saran chatbot yang disampaikan dengan percaya diri, bahkan ketika saran tersebut salah atau menyesatkan.

“Kita sekarang begitu terbiasa dengan jawaban AI yang percaya diri, cepat, dan terdengar cerdas sehingga kita sebagian besar berhenti mempertanyakannya,” kata Bryant dalam video tersebut. “Agar jelas, saya tidak anti-AI, tetapi sebagian dari kita sudah terlalu jauh—begitu kita masuk ke antarmuka gelap yang menenangkan itu, melihat animasi berpikir, dan teks yang muncul huruf demi huruf, kemampuan berpikir kritis langsung hilang.”

ChatTJB sengaja menambahkan friksi kembali ke pengalaman chatbot dengan menjadi “infinitely worse” atau jauh lebih buruk. Bryant menegaskan bahwa proyek ini bukan anti-AI, melainkan pro-berpikir mandiri. “Jawaban saya akan lambat. Mungkin tidak benar, atau mungkin bisa benar, tapi pasti sangat samar,” katanya. “Anda akan mendapatkan pengalaman buruk dengan ChatTJB.”

Selain respons teks, ChatTJB juga merespons permintaan pembuatan gambar dengan gambar-gambar yang digambar tangan. Situs tersebut mencantumkan disclaimer bahwa layanan ini merupakan “karya satire dan proyek seni publik,” bukan peluang investasi nyata. Namun, bagi yang ingin membantu Bryant membayar biaya papan iklan, tersedia langganan “Pro.”

Bryant menjelaskan tujuan akhir proyek ini dengan gamblang: “Saya ingin Anda memiliki pengalaman yang sangat tidak nyaman dengan sesuatu yang secara estetika terlihat seperti kecerdasan buatan, sehingga saat LLM memberi Anda jawaban yang terdengar masuk akal, Anda ingat saat ChatTJB merespons pertanyaan pajak Anda dengan haiku tentang burung gagak.” Dengan begitu, lanjutnya, “Anda menjadi sedikit lebih mungkin untuk berhenti sejenak dan ingat bahwa hanya karena chatbot yang lancar bicara dapat menjawab pertanyaan dengan halus, itu tidak memberi Anda alasan untuk tidak berpikir.”

“Evolusi berikutnya dalam kecerdasan buatan,” tambahnya, “adalah absurditas manusia.”

Fenomena “cognitive surrender” yang menjadi dasar proyek ChatTJB sejalan dengan temuan studi yang mengkhawatirkan: sebagian besar orang cenderung mengikuti apa yang dikatakan ChatGPT, bahkan ketika jawabannya sepenuhnya salah. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa AI chatbot lebih efektif dalam membangun kepercayaan, yang berpotensi disalahgunakan untuk penipuan.

Kritik terhadap keandalan chatbot juga muncul dari sisi keamanan. Para ahli mengingatkan bahwa keamanan AI masih sekadar pelapis yang belum tentu melindungi pengguna dari kesalahan atau penyalahgunaan. Bahkan, fitur-fitur baru pada chatbot populer pun membawa risiko tersendiri, seperti risiko keamanan data yang muncul pada fitur berbagi percakapan.

Sejarah mencatat bahwa kekhawatiran tentang interaksi manusia-mesin bukanlah hal baru. ELIZA, chatbot pertama yang dikembangkan pada 1960-an, telah membentuk masa depan AI dan memicu perdebatan serupa tentang bagaimana manusia mempersepsikan mesin yang merespons secara meyakinkan.

Implikasi dari proyek ChatTJB melampaui sekadar lelucon. Dalam lanskap di mana semakin banyak layanan mengadopsi teknologi chatbot—bahkan Spotify merilis chatbot AI untuk pengguna premium—kehadiran ChatTJB menjadi pengingat bahwa tidak semua yang tampak seperti AI benar-benar AI. Bagi pengguna, ini berarti penting untuk tetap kritis terhadap setiap jawaban yang dihasilkan chatbot, apa pun platformnya.

ChatTJB, dengan segala absurditasnya, menawarkan perspektif unik: bahwa terkadang jawaban yang lambat, tidak sempurna, dan penuh pemikiran manusia justru lebih berharga daripada respons instan yang tampak sempurna namun tanpa refleksi. Ini adalah kritik sosial yang dikemas dalam bentuk parodi teknologi—sebuah pengingat bahwa di balik setiap algoritma, masih ada ruang untuk pemikiran manusia.