JBNews.id — Reaksi keras publik terhadap kecerdasan buatan (AI) kini meningkat menjadi ancaman fisik yang nyata. Para CEO perusahaan AI terkemuka mulai bepergian dengan pengawalan bersenjata menyusul eskalasi sentimen anti-AI yang memuncak pada percobaan kekerasan, termasuk serangan ke rumah pemimpin industri tersebut.
Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip detikINET, perusahaan-perusahaan AI terkemuka dan jajaran eksekutif puncak secara drastis meningkatkan keamanan mereka. Beberapa eksekutif bahkan memilih mengurangi penampilan publik demi keselamatan jiwa. Langkah ini diambil seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa sentimen negatif terhadap AI bisa berubah menjadi aksi kekerasan fisik yang lebih serius.
“Beberapa tahun lalu, para CEO teknologi jelas tidak memiliki pengawalan keamanan. Sekarang, banyak perusahaan teknologi yang memasukkan hal tersebut ke dalam anggaran mereka,” ujar Dakota Dominguez, eksekutif firma keamanan JPT Security di Silicon Valley, seperti dikutip dari Futurism.
Peningkatan pengamanan ini bukan tanpa alasan. Awal tahun 2026, industri AI diguncang oleh insiden serius ketika seorang aktivis anti-AI bernama Daniel Moreno Gama, 20 tahun, mencoba melempar bom molotov ke rumah CEO OpenAI, Sam Altman. Beruntung, aksinya gagal dan tidak ada korban jiwa. Namun, insiden ini terjadi setelah serangkaian ancaman kekerasan dan setidaknya satu kali lockdown di kantor OpenAI.
OpenAI tidak sendirian dalam menghadapi ancaman ini. Menurut WSJ, sekitar waktu yang sama saat rumah Altman menjadi sasaran, perusahaan pesaingnya, Anthropic, hampir mengalami insiden berbahaya. Seorang pria berhasil menyelinap masuk ke kantor pusat mereka sebelum akhirnya dihentikan oleh petugas keamanan. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Baca Juga:
Namun, tidak semua sentimen anti-AI berujung pada percobaan kekerasan fisik. Para aktivis juga menggunakan cara-cara lain untuk melumpuhkan industri ini. Aksi mereka meliputi perusakan data center, merusak kamera berbasis AI, dan menggelar protes di kantor pusat perusahaan AI. Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap AI semakin terorganisir dan beragam.
Beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa kekhawatiran publik terhadap AI cukup mendalam. Masyarakat khawatir AI akan memicu PHK massal, memusatkan kekayaan dan kekuasaan pada segelintir orang, bahkan mendatangkan bencana bagi peradaban manusia. Kekhawatiran ini menjadi bahan bakar bagi gerakan anti-AI yang semakin vokal.
“Itu alasannya mengapa orang-orang membakar. Kita tak bisa kembali ke sistem perhambaan. Sangat terasa orang-orang yang berkuasa ingin jadi raja. Secara historis, itu tak pernah berakhir baik bagi para raja,” ujar Bonnie Kate Wolf, mantan karyawan Pinterest yang terkena PHK selama restrukturisasi perusahaan yang fokus pada AI.
Pernyataan Wolf mencerminkan sentimen yang berkembang di kalangan pekerja teknologi yang merasa dirugikan oleh perkembangan AI. Kekhawatiran akan PHK massal menjadi salah satu pendorong utama kemarahan publik terhadap industri ini.
Fenomena ini juga memicu perdebatan tentang masa depan tata kelola AI. Sebagian pihak mendorong regulasi yang lebih ketat, sementara yang lain mengusulkan model kepemilikan yang lebih inklusif. Misalnya, gagasan tentang AI Sovereign Fund yang didukung oleh 69% warga AS, di mana 50% saham perusahaan AI akan menjadi milik publik.
Meningkatnya ancaman terhadap para pemimpin AI juga berpotensi mengubah lanskap persaingan global. Beberapa perusahaan mulai mencari alternatif yang lebih murah, termasuk beralih ke penyedia AI dari China. Lonjakan tagihan AI yang membengkak di AS menjadi salah satu faktor pendorong pergeseran ini.
Para eksekutif AI kini harus menghadapi dilema baru: di satu sisi mereka mendorong inovasi, di sisi lain mereka harus melindungi diri dari ancaman yang ditimbulkan oleh inovasi itu sendiri. Langkah-langkah keamanan ekstra seperti bodyguard bersenjata diperkirakan akan menjadi standar baru di industri ini, setidaknya dalam waktu dekat.
Implikasi dari situasi ini sangat jelas bagi para pemangku kepentingan di industri teknologi. Keamanan fisik para eksekutif kini menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar, dan biaya operasional perusahaan AI dipastikan akan meningkat. Bagi para pekerja di sektor ini, ketegangan antara inovasi dan dampak sosial AI menjadi semakin nyata dan tidak bisa diabaikan.
Perusahaan-perusahaan AI kini harus menyeimbangkan antara percepatan pengembangan teknologi dengan pengelolaan risiko keamanan dan reputasi. Jika tidak, bukan hanya inovasi yang terhambat, tetapi juga keselamatan para pionirnya yang terancam.




