CareCam Ekspansi Aplikasi Kesehatan 3DGait ke Indonesia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ekosistem Apple untuk transformasi kesehatan termasuk aplikasi 3DGait
  • CareCam ekspansi aplikasi kesehatan 3DGait ke Indonesia
  • Aplikasi untuk pantau pemulihan pasien operasi tulang belakang
  • Gunakan iPad Pro dan AI untuk analisis gaya berjalan 3D
  • Uji coba di Changi General Hospital sejak Mei 2026
  • Keamanan data pasien jadi prioritas dengan enkripsi
  • Target ekspansi ke Thailand dan Indonesia di Asia Pasifik

JBNews.id — CareCam, perusahaan teknologi asal Singapura, mengincar ekspansi ke Indonesia untuk aplikasi kesehatan 3DGait. Aplikasi ini dirancang membantu dokter memantau pemulihan pasien pasca operasi tulang belakang, cukup dengan berjalan di depan kamera iPad Pro.

CareCam telah mengembangkan aplikasi 3DGait yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis gaya berjalan pasien secara tiga dimensi. Saat ini, aplikasi tersebut sedang diuji coba di Changi General Hospital sejak Mei 2026 dengan durasi uji coba selama 18 bulan. Keberhasilan uji coba ini menjadi batu loncatan bagi CareCam untuk memperluas jangkauan ke pasar global, termasuk Indonesia.

Dr. Raman Pahwa, CTO CareCam, menyatakan bahwa pihaknya sudah memulai uji coba di Amerika Serikat dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Jepang. “Kami mengincar Thailand dan Indonesia sebagai langkah selanjutnya di wilayah Asia Pasifik,” kata Pahwa. Pernyataan ini menegaskan komitmen CareCam untuk membawa teknologi kesehatan inovatif ke Indonesia.

Teknologi 3DGait mengandalkan iPad Pro dan AI untuk melakukan analisis gaya berjalan. Pasien cukup berjalan di depan kamera iPad yang akan mengambil video singkat. Proses ini tidak memerlukan laboratorium khusus atau pakaian khusus yang dilengkapi sensor, sehingga lebih praktis dan efisien. Algoritma AI kemudian menganalisis parameter gerakan seperti panjang langkah, irama langkah, dan waktu berdiri, lalu menghasilkan laporan yang dapat ditinjau dokter saat konsultasi.

Karena prosesnya hanya membutuhkan beberapa menit, dokter bisa langsung melakukan evaluasi sebelum operasi maupun analisis pemulihan untuk tindak rawat jalan berikutnya. Hal ini tentu mempercepat proses diagnosis dan pemantauan pasien, terutama bagi mereka yang menjalani operasi tulang belakang.

Pemilihan iPad Pro sebagai perangkat utama bukan tanpa alasan. Layar besar dan prosesor M-series yang bertenaga menjadi pertimbangan utama. Selain itu, CareCam juga mengandalkan sensor LiDAR di iPad Pro untuk menangkap gerakan pasien secara tiga dimensi. Aplikasi 3DGait juga dapat dijalankan di iPhone Pro. Dr. Pahwa bahkan menyebut performa aplikasi di iPhone Pro lebih cepat dibandingkan iPad Pro karena chipset A-series lebih dioptimalkan untuk kinerja AI.

Keamanan Data Pasien Jadi Prioritas

Aspek keamanan menjadi perhatian utama CareCam dalam mengembangkan 3DGait. “Alasan kenapa kami mengandalkan iPad Pro atau ekosistem Apple adalah keamanan siber,” tegas Dr. Pahwa. Data pasien tetap terenkripsi saat transit. Ketika data diproses di perangkat, laporan dikirim ke backend yang terintegrasi dengan sistem EHR, EMR, atau Apex yang digunakan di rumah sakit. Pendekatan ini membangun kepercayaan antara dokter dan pasien.

Di tengah maraknya isu keamanan data di sektor digital, langkah CareCam ini patut diapresiasi. Keamanan siber menjadi faktor krusial, terutama di bidang kesehatan yang menyangkut data sensitif pasien. Hal ini juga menjadi pembeda dengan platform lain yang mungkin kurang memperhatikan aspek keamanan, seperti yang diingatkan dalam bahaya aplikasi tertentu.

Ekspansi CareCam ke Indonesia diprediksi akan membawa dampak positif bagi dunia kesehatan di tanah air. Rumah sakit di Indonesia bisa mengadopsi teknologi ini untuk meningkatkan kualitas layanan, terutama dalam rehabilitasi pasca operasi tulang belakang. Teknologi ini juga berpotensi mengurangi biaya dan waktu yang dibutuhkan pasien untuk kontrol rutin.

Dengan populasi yang besar dan kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial. Apalagi, adopsi teknologi digital di sektor kesehatan di Indonesia terus berkembang. Hal ini sejalan dengan tren global di mana berbagai aplikasi prediksi dan inovasi digital lainnya mulai merambah berbagai sektor.

CareCam juga melihat potensi kerja sama dengan rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan di Indonesia. Dengan sistem yang mudah digunakan dan hasil analisis yang cepat, 3DGait bisa menjadi solusi bagi keterbatasan tenaga medis spesialis di daerah-daerah. Dokter di kota besar bisa membantu menganalisis kondisi pasien di daerah terpencil melalui laporan yang dihasilkan aplikasi.

Kehadiran CareCam di Indonesia juga membuka peluang bagi pengembangan ekosistem kesehatan digital. Integrasi dengan sistem rekam medis elektronik (EMR/EHR) yang sudah ada di rumah sakit akan memudahkan adopsi teknologi ini. Pasien pun akan merasakan manfaat langsung berupa pemantauan yang lebih akurat dan efisien.

Dr. Pahwa optimistis bahwa 3DGait akan diterima dengan baik di Indonesia. “Kami melihat antusiasme yang besar dari rumah sakit di Asia Pasifik. Teknologi ini menjawab kebutuhan akan alat diagnostik yang cepat, akurat, dan aman,” ujarnya. Optimisme ini didukung oleh data uji coba yang menunjukkan efektivitas 3DGait dalam membantu proses pemulihan pasien.

Selain untuk pemulihan pasca operasi, 3DGait juga berpotensi digunakan untuk deteksi dini gangguan gerak. Hal ini bisa membantu dalam diagnosis penyakit seperti Parkinson atau stroke. Namun, untuk saat ini, fokus utama CareCam tetap pada rehabilitasi tulang belakang. Perusahaan juga terus mengembangkan aplikasi untuk berbagai keperluan medis lainnya.

Ekspansi ini juga menjadi kabar baik bagi pengguna perangkat Apple di Indonesia. iPad Pro dan iPhone Pro tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga alat medis yang membantu proses penyembuhan. Ini menunjukkan bahwa perangkat konsumen bisa dialihfungsikan untuk kebutuhan profesional di bidang kesehatan.

CareCam berencana untuk memulai proses perizinan dan uji coba di Indonesia dalam waktu dekat. Jika semua berjalan lancar, aplikasi 3DGait bisa mulai digunakan di rumah sakit Indonesia pada tahun 2027. Ini akan menjadi langkah maju dalam digitalisasi layanan kesehatan di tanah air.

Keberhasilan CareCam membawa teknologi ini ke Indonesia juga akan menjadi contoh bagi startup kesehatan lainnya. Kolaborasi antara teknologi dan layanan kesehatan semakin terbuka lebar. Hal ini sejalan dengan perkembangan di sektor lain, seperti yang dilakukan Meta dengan AI Creator Assistant yang menunjukkan potensi AI di berbagai bidang.

Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, 3DGait siap menjadi game changer di dunia rehabilitasi medis. Pasien tidak perlu lagi repot datang ke laboratorium khusus untuk analisis gaya berjalan. Cukup dengan berjalan di depan kamera iPad, data langsung terkirim ke dokter untuk dievaluasi. Ini adalah terobosan yang akan memudahkan pasien dan tenaga medis.

Implikasi dari ekspansi CareCam ke Indonesia sangat jelas: akses layanan kesehatan yang lebih baik, efisien, dan aman. Teknologi ini menjawab tantangan klasik dalam dunia medis, yaitu keterbatasan waktu dan jarak. Bagi pasien, ini berarti pemantauan yang lebih sering dan akurat tanpa harus bolak-balik ke rumah sakit. Bagi rumah sakit, ini berarti peningkatan kapasitas dan kualitas layanan.

CareCam telah membuktikan bahwa inovasi di bidang kesehatan tidak harus rumit. Dengan memanfaatkan perangkat yang sudah ada, seperti iPad Pro, mereka menciptakan solusi yang praktis namun powerful. Kini, tinggal menunggu realisasi ekspansi ke Indonesia untuk melihat bagaimana teknologi ini bisa mengubah wajah rehabilitasi medis di tanah air.

Perusahaan teknologi asal Singapura ini juga berencana untuk membuka kantor perwakilan di Jakarta untuk mendukung operasional dan pemasaran. Langkah ini menunjukkan keseriusan CareCam dalam menjangkau pasar Indonesia. Dengan dukungan pemerintah dan rumah sakit, 3DGait bisa menjadi standar baru dalam pemantauan pemulihan pasien tulang belakang.