Bumi Memanas Makin Cepat Sejak 2015, Ini Datanya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Es di Greenland terus mencair sebagai sinyal memburuknya pemanasan global
  • Laju pemanasan global sejak 2015 mencapai 0,35 derajat Celsius per dekade
  • Periode 1970-2015 laju pemanasan berada di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade
  • Penelitian dipimpin Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman
  • Dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters
  • Bukti statistik pertama percepatan pemanasan global yang signifikan
  • Analisis menggunakan 5 kumpulan data: NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, ERA5
  • Tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen
  • Target 1,5 derajat Celsius Perjanjian Paris belum resmi terlampaui
  • Laju pemanasan tertinggi sejak pencatatan suhu modern dimulai 1880

JBNews.id — Pemanasan global diduga telah memasuki fase yang lebih cepat. Analisis terbaru menunjukkan laju kenaikan suhu Bumi dalam sekitar satu dekade terakhir meningkat jauh dibandingkan empat dekade sebelumnya, bahkan setelah pengaruh fenomena alam seperti El Nino, letusan gunung api, dan aktivitas Matahari dihilangkan dari perhitungan.

Penelitian yang dipimpin ilmuwan dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman, menemukan bahwa sejak sekitar 2015, Bumi memanas dengan laju sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade. Sebagai perbandingan, pada periode 1970-2015 laju pemanasan global berada di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters dan disebut sebagai bukti statistik pertama yang menunjukkan bahwa pemanasan global benar-benar mengalami percepatan.

ILULISSAT, GREENLAND - SEPTEMBER 02: A pedestrian walks as ice and icebergs float in Disko Bay on September 02, 2021 in Ilulissat, Greenland. Greenland in 2021 is experiencing one of its biggest ice-melt years in recorded history. Scientists studying the Greenland Ice Sheet observed rainfall on the highest point in Greenland for the first time ever this August. Researchers from Denmark estimated that in July of this year enough ice melted on the Greenland Ice Sheet to cover the entire state of Florida with two inches of water. The observations come on the heels of the recent United Nations report on global warming which stated that accelerating climate change is driving an increase in extreme weather events. (Photo by Mario Tama/Getty Images)

“Kini kami dapat menunjukkan adanya percepatan pemanasan global yang kuat dan signifikan secara statistik sejak sekitar 2015,” kata Grant Foster, ahli statistik asal Amerika Serikat sekaligus salah satu penulis studi, dikutip dari Science Daily.

Para peneliti menjelaskan bahwa suhu Bumi dari tahun ke tahun dipengaruhi berbagai faktor alami yang dapat menutupi tren pemanasan jangka panjang. Misalnya, El Nino dapat membuat suhu global melonjak sementara karena melepaskan panas dari Samudra Pasifik tropis ke atmosfer. Sebaliknya, letusan gunung api besar bisa mendinginkan Bumi untuk sementara dengan menyebarkan partikel yang memantulkan sinar Matahari. Perubahan aktivitas Matahari juga turut memberikan pengaruh meski relatif kecil.

Untuk melihat tren sebenarnya, tim peneliti ‘membersihkan’ data suhu global dari pengaruh faktor-faktor alami tersebut. Mereka menganalisis lima kumpulan data suhu global yang banyak digunakan, yakni NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5. Hasilnya konsisten di semua basis data.

“Kami menyaring pengaruh alami yang telah diketahui dari data pengamatan sehingga ‘gangguan’ dapat dikurangi dan sinyal pemanasan jangka panjang menjadi jauh lebih jelas terlihat,” ujar Foster.

Kepastian Statistik Lebih dari 98 Persen

Menurut peneliti utama Stefan Rahmstorf dari PIK, percepatan pemanasan global yang terlihat sejak 2015 muncul dengan tingkat keyakinan statistik lebih dari 98%. “Data yang telah disesuaikan menunjukkan percepatan pemanasan global sejak 2015 dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen. Hasil ini konsisten pada semua kumpulan data yang kami analisis dan tidak bergantung pada metode analisis yang digunakan,” kata Rahmstorf.

Artinya, kemungkinan bahwa peningkatan laju pemanasan ini hanya terjadi karena fluktuasi acak sangat kecil. Para peneliti menyebut laju pemanasan pada dekade terakhir sebagai yang tertinggi sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1880.

Penelitian ini tidak berarti target 1,5 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris telah resmi terlampaui. Para ilmuwan menegaskan bahwa target tersebut mengacu pada rata-rata pemanasan jangka panjang, bukan suhu satu tahun tertentu.

Namun, hasil studi menunjukkan bahwa jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, Bumi berpotensi membara lebih cepat dibandingkan yang dialami selama akhir abad ke-20. Apakah percepatan ini akan terus berlanjut sangat bergantung pada seberapa cepat dunia mampu mengurangi emisi karbon dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.

Bagi masyarakat umum, temuan ini menjadi sinyal bahwa upaya pengurangan emisi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Setiap sektor, termasuk teknologi dan industri, perlu berkontribusi dalam menekan laju pemanasan global agar dampaknya tidak semakin parah.

Data yang dirilis para ilmuwan PIK ini juga menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari. Semakin cepat dunia bertindak, semakin besar peluang untuk memperlambat laju pemanasan yang kini tengah berlangsung.

Para peneliti berharap temuan ini dapat mendorong pengambil kebijakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mempercepat transisi energi dan kebijakan iklim yang lebih ambisius. Tanpa aksi nyata, konsekuensi perubahan iklim akan semakin terasa di masa depan.