Bukti Pertama Keberadaan Bulan di Luar Tata Surya Ditemukan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi eksobulan yang mengorbit katai cokelat CD-35 2722 B dengan latar bintang di kejauhan
  • Tim peneliti menemukan bukti kuat pertama eksobulan yang mengorbit katai cokelat CD-35 2722 B
  • Sistem bintang ini berjarak 73 tahun cahaya dari Bumi dengan massa katai cokelat 37 kali massa Jupiter
  • Pengamatan dilakukan selama 23 malam (Oktober 2023-Februari 2026) menggunakan spektrograf CRIRES+ di Very Large Telescope ESO
  • Eksobulan memiliki periode orbit 170 hari dengan massa minimal 0,9 kali massa Jupiter
  • Rasio massa eksobulan terhadap katai cokelat mencapai 2,5 persen, jauh lebih tinggi dari sistem Bumi-Bulan (1,2 persen)
  • Penelitian dipublikasikan di jurnal Nature dan menggunakan metode Doppler untuk deteksi
  • Belum ada definisi resmi untuk eksobulan, peneliti menggunakan istilah "eksosatelit"
  • Penemuan membuka peluang penelitian tentang potensi kehidupan di luar tata surya

JBNews.id — Sebuah tim peneliti internasional berhasil memperoleh bukti kuat pertama keberadaan satelit alami atau bulan yang mengorbit sebuah katai cokelat di sistem bintang CD-35 2722, yang berjarak 73 tahun cahaya dari Bumi. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature bulan lalu ini menandai tonggak baru dalam pencarian eksobulan di luar tata surya kita.

Meskipun lebih dari 6.000 eksoplanet telah ditemukan hingga saat ini, bukti definitif keberadaan bulan di sistem planet lain selama ini masih belum ada. Penemuan baru ini menjawab tantangan tersebut dengan berfokus pada objek yang mengorbit katai cokelat CD-35 2722 B. Katai cokelat sendiri merupakan benda langit yang berada di antara planet dan bintang, dengan massa yang tidak cukup untuk menjadi bintang.

CD-35 2722 B memiliki massa sekitar 37 kali massa Jupiter dan mengorbit bintang CD-35 2722 yang massanya sekitar 40 persen massa matahari. Keduanya terpisah pada jarak sekitar 2,8 detik busur. Tim peneliti mengamati CD-35 2722 B selama total 23 malam antara Oktober 2023 dan Februari 2026 menggunakan spektrograf inframerah CRIRES+ yang dipasang pada Very Large Telescope milik European Southern Observatory (ESO).

Metode Doppler dan Presisi Pengukuran

Dengan menggunakan teknik yang dikenal sebagai metode Doppler, para peneliti menangkap bagaimana CD-35 2722 B bergoyang saat ditarik oleh gravitasi benda langit lain yang mengorbit di dekatnya. Teknik ini memanfaatkan efek Doppler yang diamati dalam spektrum benda langit untuk mencatat perubahan kecepatan radial, yang pada dasarnya digunakan untuk memperkirakan massa, periode orbit, dan eksentrisitas orbit sebuah eksoplanet. Metode yang sama juga digunakan pada tahun 1995 ketika eksoplanet pertama yang mengorbit bintang mirip matahari ditemukan.

Karena CD-35 2722 B berada cukup jauh dari bintang induknya, para peneliti dapat memperoleh spektrumnya secara langsung dengan hampir tanpa gangguan dari cahaya bintang induk. Upaya serupa pernah dilakukan pada katai cokelat dan planet lain, namun kombinasi instrumen dengan resolusi panjang gelombang lebih tinggi dan kontaminasi spektral minimal dalam studi ini memungkinkan pengukuran yang hingga 100 kali lebih presisi dibandingkan penelitian sebelumnya.

Analisis yang dipublikasikan di Nature mengungkapkan sinyal kuat yang mengindikasikan keberadaan bulan besar yang mengorbit dengan periode sekitar 170 hari dan memiliki massa setidaknya 0,9 kali massa Jupiter. Dalam hal rasio massa, objek ini mencakup sekitar 2,5 persen dari massa katai cokelat yang diorbitnya, nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan di tata surya kita.

Sistem dengan rasio massa tertinggi antara planet dan bulannya di tata surya adalah Bumi dan bulan, yaitu sekitar 1,2 persen. Sementara itu, rasio massa bulan-bulan yang mengorbit Jupiter dan Saturnus jauh lebih kecil. Angka 2,5 persen pada temuan ini menunjukkan posisi unik objek tersebut yang tidak dapat sepenuhnya dipahami menggunakan kerangka konvensional untuk bulan di tata surya kita.

Verifikasi dan Implikasi Ilmiah

Untuk memastikan bahwa sinyal yang teramati memang disebabkan oleh bulan, tim peneliti juga memeriksa faktor-faktor lain yang mungkin. Faktor-faktor tersebut mencakup periode semu yang dihasilkan dari kesalahan koreksi gerakan orbit Bumi, variasi musiman kondisi atmosfer, dan efek rotasi katai cokelat itu sendiri. Selain itu, perhitungan batas Roche—batas di mana satelit akan terkoyak oleh gaya pasang surut katai cokelat—dan radius Hill—radius pengaruh gravitasi katai cokelat—mengonfirmasi bahwa orbit satelit berada dalam rentang yang memungkinkan keberadaannya secara fisik stabil.

Menurut para peneliti, ini adalah bukti pertama satelit yang mengorbit pendamping katai cokelat yang diperoleh menggunakan metode ini. Beberapa bulan sebelumnya, tim lain telah mengumpulkan petunjuk yang mengarah pada keberadaan satelit selama pengamatan sistem bintang HD 206893 menggunakan VLT Interferometer, namun belum mencapai deteksi definitif.

Alice Zurlo, astrofisikawan di Diego Portales University, dalam siaran pers menyatakan bahwa sistem ini mengaburkan batas antara bintang, planet, dan bulan. “Kami memiliki delineasi yang jelas antara planet dan Matahari di Tata Surya, sehingga mendefinisikan hal-hal seperti bulan itu sederhana,” ujarnya. “Dalam sistem CD-35 2722, di mana kami mengaburkan batas antara bintang, planet, dan bulan, semuanya menjadi lebih rumit untuk dijelaskan.”

Masih belum jelas apakah objek ini layak disebut bulan. ESO juga mencatat bahwa belum ada definisi yang diakui secara resmi untuk eksobulan, dan para peneliti menggunakan istilah “eksosatelit”. Makalah penelitian itu sendiri mengakui bahwa tidak pasti apakah objek ini akan memenuhi kriteria masa depan untuk dianggap sebagai bulan, namun penemuan ini merupakan langkah menuju penciptaan deteksi definitif.

Para peneliti percaya penemuan ini akan menjadi katalis untuk mengidentifikasi arah baru dalam teori pembentukan planet dan mekanika benda langit di masa depan. Temuan ini juga membuka wawasan baru tentang potensi kehidupan di luar tata surya. Jika ada bulan-bulan kecil berbatu seperti yang dijelaskan dalam makalah baru ini, mereka dapat mengalami pemanasan pasang surut dari katai cokelat, yang berpotensi menciptakan lingkungan yang cocok untuk kehidupan bahkan pada jarak yang lebih jauh dari bintang mereka. Perkembangan ini juga dapat memiliki implikasi untuk pencarian kehidupan ekstraterestrial.

Selain itu, setelah teleskop generasi berikutnya yang dilengkapi cermin utama 39 meter—Extremely Large Telescope—selesai dibangun, akan dimungkinkan untuk mendeteksi eksobulan yang lebih kecil lagi. Hal ini membuka peluang baru bagi para astronom untuk mengeksplorasi sistem planet di luar tata surya dengan lebih mendalam.

Penemuan ini hadir di tengah meningkatnya minat publik terhadap eksplorasi antariksa. Sebelumnya, Astronom Temukan Planet Layak Huni LHS 1140b yang juga menjadi sorotan komunitas ilmiah. Sementara itu, fenomena Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 yang tidak dapat disaksikan dari Indonesia juga menarik perhatian pengamat langit Tanah Air.

Implikasi dari temuan ini sangat luas. Dengan rasio massa yang jauh lebih tinggi dibandingkan sistem bulan-planet di tata surya kita, objek ini menantang pemahaman konvensional tentang bagaimana sistem satelit terbentuk dan berevolusi. Para ilmuwan kini harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa pembentukan bulan di sekitar katai cokelat mengikuti jalur yang berbeda dengan yang terjadi di tata surya kita.

Keberhasilan penggunaan metode Doppler untuk mendeteksi eksosatelit ini juga membuka jalan bagi pengamatan serupa pada sistem lain. Dengan instrumen yang semakin canggih dan teknik analisis yang semakin presisi, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan melihat lebih banyak lagi penemuan eksobulan yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan.

Bagi masyarakat umum, penemuan ini memperluas wawasan tentang keragaman sistem planet di alam semesta. Setiap penemuan baru membawa kita lebih dekat pada pemahaman tentang tempat kita di kosmos dan kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi.

Dengan selesainya Extremely Large Telescope di masa depan, para astronom akan memiliki alat yang lebih mumpuni untuk mengonfirmasi keberadaan eksobulan dan mempelajari karakteristiknya secara lebih rinci. Ini adalah babak baru dalam eksplorasi alam semesta yang akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi observasi.

Penemuan eksosatelit pertama ini bukan hanya pencapaian ilmiah, tetapi juga pengingat bahwa alam semesta masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk diungkap. Setiap jawaban yang ditemukan justru membuka lebih banyak pertanyaan baru, dan itulah yang membuat eksplorasi antariksa tetap menjadi salah satu usaha manusia yang paling menarik.